Oliver membawaku ke perpustakaan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang dansa. Suasana lorong yang kami lewati sunyi, hanya dihiasi gemerisik langkah kami dan isakku yang sesekali pecah. Cahaya redup dari lentera di dinding memantulkan bayangan yang bergerak, membuat suasana semakin suram. Dayang-dayang yang mengikuti kami tampak cemas, tatapan mereka sering beralih antara aku dan Oliver.
"Kenapa kau bawa aku ke perpustakaan?" tanyaku tegas pada Oliver, menahan tangis yang masih menggantung.
Oliver tetap diam. Salah satu dayang, seorang wanita muda bernama Safi, maju mendekat dengan hati-hati sambil membawa sebuah buku. "Ini buku kesukaan Anda, Nona. Setiap kali ada pesta, Anda selalu mencarinya," ujarnya sambil menyerahkan buku itu kepadaku.
Aku memandang buku itu dengan bingung, tidak mengerti mengapa Lidya, pemilik tubuh ini, begitu terikat padanya. Ketika para dayang bersiap untuk meninggalkan kami, aku spontan menahan mereka. "Jangan pergi!" seruku, membuat mereka berhenti sejenak.
Dayang-dayang itu bertukar pandang sebelum kembali mendekat. Oliver, dengan tatapan datar namun sedikit mengejek, akhirnya membuka suara. "Kenapa? Bukankah biasanya kau mengusir semua orang agar bisa menangis sendirian?"
Aku menatapnya tajam, merasa ditelanjangi oleh kata-katanya. "Kebiasaan apa?" tanyaku dengan nada menantang.
"Biasanya kau menangis dengan diam-diam di tempat tersembunyi. Tapi kali ini, kau menangis di depan semua orang," jawabnya santai, lalu menatapku dengan pandangan mengejek yang sama.
Safi, yang masih berdiri di dekatku, mencoba menghibur. "Tapi Anda hebat, Nona Lidya. Anda berhasil berdansa meski semua tahu itu adalah hal yang sulit bagi Anda. Bahkan, Raja tertegun melihat Anda."
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Ya, aku baru ingat bahwa Lidya memiliki trauma terhadap dansa. Sejenak, aku merasa kasihan pada kembaranku . Bagaimana hidupnya bisa sedemikian rumit?
Suara langkah cepat menginterupsi pikiranku. "KAKAK!" Lucas, adik bungsuku, berlari menghampiri dengan semangat membuncah. Ia memelukku dengan begitu erat hingga aku hampir sulit bernapas.
"Lucas, lepaskan!" kataku sambil mencoba melepaskan diri. Tapi anak itu hanya mengguncang tubuhku dengan semangat berlebih. "Apakah yang berada di sana tadi benar-benar Kakak? Semua orang membicarakanmu! Ayah pun terlihat bangga."
Matanya berbinar sejenak sebelum rautnya berubah menjadi serius. "Tapi, kenapa Kakak menangis? Apa karena Averio?"
Aku menggeleng, mencoba memberikan senyum tipis. "Bukan karena Averio bersama Irish. Aku hanya... sedih melihat Oliver."
Lucas menatap Oliver dengan tatapan penuh amarah dan bersiap memberikan pukulan. "Lucas, berhenti!" seruku sambil menarik tangannya. "Dia bukan penyebabnya. Aku hanya sedih melihat bagaimana ia harus menanggung rasa sakit karena Irish."
Oliver, yang berdiri di sudut, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Entah apa yang ada di pikirannya.
Aku mendesah dan memandang buku di tanganku. Buku itu terlihat tua, dengan sampul sederhana tanpa judul. Penasaran, aku membuka halaman pertama. "Dongeng Harapan Bulan," aku membaca dengan suara pelan. Rupanya, buku ini adalah kumpulan dongeng yang ditulis oleh ibuku. Kisah-kisah di dalamnya persis seperti yang biasa ia ceritakan sebelum tidur. Kenangan itu membuat hatiku sedikit hangat, meski air mata masih mengancam jatuh.
"Lid... ehm, maksudku, Nona Lidya!" Elona, salah satu dayang yang lain, datang tergesa-gesa. Napasnya terengah dan wajahnya memerah karena berlari.
"Ada apa?" tanyaku, menutup buku di tanganku.
"Helena!" jawabnya dengan nada panik. "Dia menyerahkan dirinya untuk dihukum atas pelanggaran yang Anda lakukan."
Darahku seakan berhenti mengalir. "Mengapa dia melakukan itu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Elona menundukkan wajah, takut menatap mataku. "Dia merasa gagal mengawasi Anda, Nona. Itu sebabnya dia rela menerima hukuman."
Hatiku tersayat mendengar itu. "Bawa aku ke tempatnya sekarang!" seruku tanpa ragu.
"Dia sudah kembali ke istana," jawab Elona, menggigit bibirnya. "Kondisinya sudah membaik."
Aku menarik napas lega, tapi rasa bersalah tetap menghantui. Bagaimana mungkin ada seseorang yang rela mengorbankan dirinya untukku? Aku harus menemui Helena, meski hanya untuk mengucapkan terima kasih.
"Elona, tolong antarkan aku ke tempatnya," pintaku lagi, kali ini dengan nada lebih tenang. Aku memutuskan, tidak peduli apa yang terjadi selanjutnya, aku akan melindungi mereka yang peduli padaku, seperti Helena.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
خيال (فانتازيا)Dalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)