Jangan lupa vote dan komen, ya.
Selamat membaca***
Aku terbangun dengan kepala ringan, berbeda dari biasanya. Udara pagi menyusup masuk melalui jendela, menggantikan aroma lembab sel penjara. Tapi ada yang lebih mengherankan: tempat ini bukan penjara. Dinding berlapis kain satin, lantai marmer mengilap, dan tirai yang menjuntai menandakan bahwa aku kembali ke kamarku di istana. Apakah aku bermimpi?
Aku mengusap wajah, memastikan tubuhku benar-benar terasa. Lalu pintu kamar terbuka, dan Helena masuk bersama beberapa pelayan lain. Mereka tampak cerah, membawa nampan dengan aroma teh dan kue yang menggugah selera.
"Nona..." sapa Helena lembut, wajahnya seperti memancarkan kegembiraan yang palsu. Ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang tak biasa.
"Helena, apa yang terjadi? Mengapa aku di sini? Apa aku bebas?" tanyaku penuh rasa ingin tahu, namun tetap dengan nada dingin yang biasa kupakai.
Helena tersenyum tipis, namun tatapannya berubah lebih serius. "Raja memutuskan untuk mengizinkan Anda kembali ke istana, Nona. Namun, ini bukan kebebasan sepenuhnya. Ada beberapa aturan yang harus Anda patuhi."
Aku mengerutkan dahi, amarah mulai membakar perlahan. "Aturan? Jadi aku hanya tahanan dengan ruangan lebih besar?"
Helena mengangguk kecil, lalu melanjutkan dengan nada penuh formalitas. "Pertama, Anda harus meminta maaf kepada Nona Irish."
Aku langsung memotongnya. "Tidak akan pernah!" seruku tegas. Aku merasa harga diriku dihina dengan aturan itu.
Namun Helena tetap tenang, melanjutkan dengan nada yang sama. "Ini adalah perintah Raja. Kedua, Anda dilarang merundung Nona Irish. Ketiga, pengawal pilihan Raja akan memantau semua kegiatan Anda dari jauh. Dan terakhir, dalam waktu seminggu, Anda harus bersiap untuk pertunangan dengan Pangeran Averio."
Rahangku mengeras mendengar nama Averio. Pertunangan ini jelas bukan kemauanku, tapi aku tak punya pilihan. Aku mencoba menahan kekesalan yang memuncak.
"Baiklah," jawabku singkat dengan nada sinis, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan menuju jendela. Aku memandang ke luar, mencari sedikit ketenangan dari hiruk pikuk pikiran.
"Apakah itu semua, Helena?"
"Ya, Nona. Namun, harap diingat, semua ini adalah untuk kebaikan Anda," katanya dengan nada formal. Aku hanya mendengus, mengibaskan tangan agar dia pergi.
Setelah bersiap, aku berjalan menuju kamar Irish. Rasa ingin tahu bercampur amarah membawaku ke pintu kamarnya. Ketika aku masuk, aku terkejut melihat betapa megahnya ruangan itu. Dinding dihiasi kain emas, dan ranjang besar dengan kelambu putih tampak lebih mewah daripada milikku. Irish, yang duduk di sofa dekat jendela, menatap kosong ke luar.
"Halo, Irish," sapaku dengan nada mengejek. Aku mendekat dan duduk di pinggir ranjangnya. "Aku sedih mendengar kau gila, tapi aku juga bahagia sekaligus."
Irish tetap diam. Matanya tidak menatapku, seolah aku hanya bayangan yang lewat. Aku mendekatkan wajahku, berbisik, "Tidak ada orang di sini, jadi berhentilah berpura-pura. Hanya ada kau dan aku, adikku."
Lalu aku merasakan air dingin menyiram tubuhku. Aku terlonjak mundur, pura pura terkejut sekaligus kesal.
"ASTAGA, IRISH! Kau benar-benar dendam padaku, ya?" teriakku keras. Aku tahu pelayan di luar pasti mendengar, dan tak lama kemudian Helena masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Nona, apa yang terjadi?"
Aku menunjuk Irish dengan dramatis. "Lihatlah dia! Gadis gila ini menyiramku!" Namun, Irish tetap duduk diam, tak menunjukkan emosi apa pun. Aku menghela napas kesal, lalu berdiri.
"Helena, aku yang menyiram diriku sendiri. Bukankah itu keren?" kataku tiba-tiba dengan tawa kecil.
Helena terdiam, matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Dia terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Jangan terlalu serius, Helena. Aku hanya bosan, jadi ingin bermain sedikit," tambahku sambil tertawa kecil. Namun, tawa itu tak mendapat respons. Helena hanya mengangguk kaku, wajahnya tampak ingin menjauh sejauh mungkin dariku.
Setelah kembali ke kamarku, aku menyuruh Elona, pelayan yang selalu menuruti semua perintahku, untuk menyelidiki Helena. Dia baru saja terlihat pergi dengan terburu-buru ke arah taman belakang, tempat gudang tua istana berada.
Beberapa saat kemudian, Elona kembali. "Helena menuju gudang, Putri. Dia tampak tergesa-gesa dan membawa sesuatu."
Mataku menyipit. Gudang tua itu seharusnya tidak digunakan. Apa yang dilakukan Helena di sana? Penasaran, aku mengenakan jubahku dan berjalan ke taman.
Hening menyelimuti area itu, hanya suara angin yang bermain dengan dedaunan. Gudang tua itu tampak biasa saja, tapi dari celah pintu, aku melihat bayangan dua orang. Salah satunya jelas Helena, tapi siapa yang satunya lagi? Mereka berbicara pelan, terlalu pelan untuk kudengar.
"Helena, apa yang kau sembunyikan dariku?" gumamku. Aku menyandarkan tubuh ke tembok luar gudang, berusaha mencuri dengar lebih banyak. Namun, sebelum aku sempat mendekat lebih jauh, langkah kaki terdengar mendekat.
Aku segera berbalik, menyembunyikan diri di balik semak. Jantungku berdetak cepat. Apa pun yang mereka sembunyikan, aku harus mengetahuinya. Dan aku akan memastikan rahasia ini tidak akan menjadi ancaman bagiku.
***
Jangan lupa share ke teman kamu kalau kamu suka cerita ini.
Jangan lupa vote dan komen, biar notifikasi kelihatan banyak🤣🤣🤣Makasih yang sudah baca, bantu kasih tau letak typo-nya, ya😁

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)