Mirip

547 40 2
                                    

Aku memenuhi panggilan itu, melangkah ke aula istana yang megah dengan langkah mantap meski hati penuh dengan kebimbangan. Ayahku, Sang Raja, duduk di singgasananya. Namun, ketika mataku bertemu dengan matanya, ia berdiri perlahan, seakan tak percaya.

"Putriku, benarkah itu kau?" suaranya terdengar serak, seperti sedang menahan sesuatu di dadanya.

Aku memiringkan kepala, bingung dengan pertanyaannya. "Katakan dengan jelas, Ayah. Aku tak mengerti ucapanmu," jawabku dingin. Aku berjalan menuju singgasana dan duduk di kursi yang selama ini tak pernah disentuh—kursi untuk Ratu. Rasanya aneh, seolah ada beban yang tak terlihat menyelimuti kursi itu.

"Kau menari... setelah kau bersumpah tidak akan menari selamanya," katanya, matanya berkabut dengan kenangan yang jelas menyakitkan. "Ketahuilah, putriku, saat kau menari, aku teringat akan seseorang."

Aku tertawa kecil, getir. "Mirip Ibu, bukan? Arabella. Kau teringat istrimu yang kau buang itu?" Aku menatapnya dengan senyum miring yang penuh ironi. Kata-kataku seperti belati yang menusuk hatinya.

Ayah hanya diam. Ekspresinya membeku, tapi aku tahu kata-kataku berhasil menyentuh luka lama yang belum sembuh. Diamnya hanya membuatku semakin jengkel.

"Ya, sudahlah," ujarku sambil berdiri dari kursi itu. "Semua sudah berlalu. Aku bisa apa? Semua karena kesalahan Ayah. Seharusnya kau jangan menikahi Ibu."

Tanpa menunggu jawabannya, aku pergi meninggalkan singgasana. Suara langkahku menggema di aula yang terasa semakin sunyi.

Di luar istana, langkahku terhenti. Aku melihat sosok pria berdiri di depan gerbang. Frans. Dia tampak lelah, dengan wajah yang penuh amarah. Aku mendekatinya.

"Hei, kau," panggilku.

Frans menunduk, tapi aku bisa melihat kerut di dahinya dan urat-urat di lehernya yang tegang. Wajahnya mencerminkan kemarahan yang mendidih. "Dasar tidak sopan," gumamnya. "Katakan apa maumu?"

Aku menyipitkan mata, bingung dengan sikapnya yang kasar. "Apa maksudmu?"

Frans menghela napas panjang, seolah berusaha menahan diri. "Aku ingin kerajaan ini bertanggung jawab," katanya akhirnya. "Mengapa aku dan teman-temanku dipulangkan dan tidak bisa bergabung dalam unit kerajaan? Bukankah semua orang berhak bergabung?"

Aku menatapnya, masih belum paham sepenuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ada kecurangan di sini! Kami berkorban untuk kerajaan ini, tapi kami malah dibuang seperti sampah. Temanku mati dalam perjalanan, tapi dia tidak dikuburkan dengan hormat!" suaranya meninggi, penuh kepedihan.

Kata-katanya menusukku. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku mengisyaratkan agar dia mengikutiku. Kami berjalan ke taman kecil tempat biasanya aku minum teh. Aku menyuruhnya duduk.

"Sudah berapa lama kau berdiri di sana?"

"Dua hari satu malam," jawabnya, suaranya melemah. "Tak ada seorang pun yang peduli. Bagi orang kerajaan, kami hanyalah sampah yang harus disingkirkan. Kau tidak tahu temanku mati dengan luka bakar di wajahnya. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang memberikan penghormatan terakhir."

Aku terdiam, menatapnya. Aku merasa bersalah, meski aku tahu ini bukan salahku secara langsung.

"Aku mengerti," kataku akhirnya. Namun Frans hanya mendengus.

"Kau tidak mengerti," katanya sambil berdiri. "Sama saja seperti mereka. Aku seharusnya tak membuang waktuku di sini."

Aku bangkit, menahannya dengan kata-kata, "Tunggu, Frans. Jangan menyalahkan Raja. Aku bisa membantu. Aku tahu siapa yang terlibat dalam hal ini."

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang