Ibu suri agung

291 22 0
                                    

Setelah tujuh jam perjalanan, aku teringat satu hal penting yang membuat hatiku mencelos. "Wah, setelah 7 jam perjalanan aku baru ingat bahwa aku tidak membawa apapun untuk nenek. Bagaimana jika ia langsung membenciku?" ucapku frustrasi pada Helena dan pria tua yang duduk di depan kemudi.

Helena, yang duduk di sebelahku, mendesah panjang. "Nona, nenek Anda tidak akan peduli pada hadiah, tapi pada keberadaan Anda. Percayalah."

Sopir tua itu menoleh sesaat melalui kaca spion, lalu menimpali, "Lagipula, Yang Mulia Victoria dikenal bijak dan penuh kasih. Tapi, siapa tahu... mungkin ia memang mengharapkan hadiah kecil." Ucapannya ditutup dengan senyum miring yang nyaris mengejek.

Aku memutar bola mata. "Sungguh menghibur, terima kasih banyak," kataku sarkastis.

Kami tiba di depan gerbang besar yang terbuat dari batu kokoh, dihiasi ukiran indah yang terlihat seperti perlindungan magis. Gerbang itu menjulang tinggi, memberikan kesan tegas dan tak tergoyahkan. Namun, ketegasan itu berubah menjadi ancaman saat delapan penjaga bersenjata tiba-tiba mengacungkan tombak mereka, menghalangi laju kami.

"Hei, apa yang kalian lakukan? Aku hanya ingin bertemu nenekku!" teriakku dengan nada tinggi, tidak terima jika mereka berani merusak perjalanan ini.

Salah satu penjaga, yang tampaknya adalah pemimpin mereka, melangkah maju. "Siapa nenekmu? Maksudmu Yang Mulia Victoria? Sepanjang hidup kami, kami tidak pernah mendengar bahwa beliau memiliki cucu," katanya penuh curiga.

Aku mengangkat dagu dengan percaya diri. "Baiklah, jika aku terbukti berbohong, kalian boleh mengusirku, bahkan melemparkanku keluar dari gerbang ini. Namun, jika aku terbukti benar..." Aku sengaja menghentikan ucapanku, membiarkan mereka menunggu dalam ketegangan.

"Rahasia," kataku sambil tersenyum tipis.

Para penjaga tampak bingung sekaligus kesal, namun akhirnya mereka membuka gerbang. Aku, Helena, dan sopir tua itu diiringi masuk. Bukannya diperlakukan seperti tamu kehormatan, mereka memperlakukan kami seperti tahanan yang sedang dikawal. Aku berjalan dengan langkah tenang, meskipun hati terasa mendidih melihat cara mereka memegang senjata seolah-olah kami ancaman besar.

Kami berhenti di sebuah aula besar yang penuh ukiran emas dan dinding dihiasi lukisan-lukisan nenek moyang keluarga. Di sana, seorang wanita tua yang anggun duduk di atas singgasana yang megah, tampak seperti ratu dari dongeng. Aku menatapnya lekat-lekat. Itu pasti nenekku. Wajahnya yang penuh wibawa dan mata tajamnya membuatku merasa kagum sekaligus sedikit gentar.

Salah satu prajurit berlutut di depannya. "Yang Mulia Victoria, Ibu Suri Agung. Tiga orang tanpa diketahui asalnya datang, salah satunya mengaku sebagai cucu Anda. Untuk sementara, kami menahan mereka."

Wanita tua itu melirikku, pandangan matanya menembus seolah-olah mencoba membaca isi pikiranku. "Perlihatkan padaku," perintahnya, suaranya tegas namun penuh rasa ingin tahu.

Aku melangkah maju, didorong oleh prajurit yang tampaknya tidak sabar. Aku berhenti tepat di hadapannya, mengangkat dagu dan memberi senyuman terbaikku.

"Salam, Ibu Suri Agung. Waktu telah memisahkan kita cukup lama, tetapi aku yakin ikatan batin kita cukup kuat untuk membuktikan bahwa aku adalah cucumu, dan kau adalah nenekku," kataku dengan nada yang dibuat-buat percaya diri.

Dia terdiam lama, menatapku dengan mata yang penuh keraguan. "Dalilah?" tanyanya, dahinya berkerut.

Jantungku nyaris berhenti. Aku tahu itu nama yang benar, tetapi situasi ini rumit. Ini tubuh Lidya, bukan Dalilah. Aku harus menjaga rahasia ini tetap terkunci rapat. "Kenapa Dalilah?" tanyaku, mencoba mengulur waktu.

"Kalau Lidya, tidak mungkin. Anakku yang durhaka itu pasti mengurungnya di istana terkutuk itu. Lebih memungkinkan Dalilah, yang tinggal bersama menantuku Arabella. Dia lebih bebas," jelas nenek, suaranya getir saat menyebut nama Mario, ayahku.

Aku menggeleng perlahan. "Kau tidak sepenuhnya salah. Kami memang kembar, jadi sulit dibedakan. Tapi aku adalah Lidya. Ceritanya panjang sekali bagaimana aku bisa sampai di sini," jelasku.

Mata nenek melembut, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit kehangatan di wajahnya. "Aku juga sangat merindukanmu," kataku bukan sebagai Lydia, tapi sebagai jiwaku.

Dia bangkit dari singgasananya, melangkah mendekat dengan pelan. Tangannya yang keriput menyentuh wajahku, lalu dia memelukku erat. "Mengapa harus datang sekarang? Aku sudah lama menunggu. Kupikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi sebelum aku mati," gumamnya dengan suara bergetar.

Air mata menetes dari sudut matanya, dan aku berusaha menahan diriku agar tidak larut dalam emosi. Ketika ia mencium keningku, aku merasa seolah telah menemukan tempat berlindungku.

"Nenek, aku harus membawa teman-temanku ikut bersamaku. Merekalah yang membantu hingga aku bisa bertemu denganmu," kataku.

Nenek tersenyum tipis, lalu melambaikan tangannya ke arah prajurit. "Aku tidak melarang. Bawa mereka ikut bersama kita."

Helena dan sopir tua itu masuk dengan wajah canggung, tetapi aku bisa melihat kelegaan di mata mereka. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, aku telah menemukan sekutu di tengah semua kekacauan ini.


The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang