Langit di atas istana berawan kelabu, seolah mencerminkan suasana hati yang mencekam di dalamnya. Aroma bunga mawar yang biasanya membawa ketenangan kini terasa hampa, kalah oleh ketegangan yang melingkupi taman istana.
"Kau benar-benar ingin kedamaian? Aku terlalu baik jika memberikannya dengan percuma," ujarku, suaraku menggema di antara tiupan angin lembut. Aku memandang Irish dengan tajam, memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Irish tampak bingung, matanya membelalak dengan campuran rasa takut dan kebingungan. "Aku benar-benar minta maaf karena mencelakaimu, tapi aku berjanji melakukan segala hal demi dirimu!" serunya dengan nada putus asa.
Aku menyipitkan mata, lalu melangkah mendekatinya dengan perlahan. Tumit sepatuku yang berhiaskan berlian beradu dengan kerikil di jalan setapak taman, menciptakan suara yang membuat dayang-dayang yang berada di kejauhan melirik penuh rasa ingin tahu. "Aku tidak berkata mengenai hal itu. Aku bertanya, kau ingin kedamaian atau tidak?" ujarku sambil tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai ejekan.
Irish mundur selangkah, tangannya gemetar. Ia seperti kelinci kecil yang terpojok oleh serigala. Namun, sebelum ia sempat menjawab, tubuhnya terhuyung ke belakang dan...
Byurrr!
Air danau memercik ke segala arah. Dayang-dayang yang sedang menikmati pesta teh mereka sontak berdiri, wajah mereka berubah panik. Salah satu dari mereka berteriak, "Nona Irish tercebur!"
Aku berdiri di tepi danau, memandang Irish yang terengah-engah berusaha mengangkat wajahnya dari air. Aku memasukkan kakiku ke danau, merasakan dinginnya air yang menusuk kulit. "Dasar bodoh," gumamku pelan. "Siapa suruh mendekat ke tepi danau?"
Salah satu dayang menghampiriku, matanya dipenuhi ketakutan bercampur amarah. "Nona, mengapa Anda hanya berdiri di sana? Tidakkah Anda melihat Nona Irish dalam bahaya?"
Aku menatapnya tanpa ekspresi. "Jika dia cukup bodoh untuk jatuh, itu masalahnya sendiri."
"Nona Irish pingsan!" teriak seorang dayang, lalu ia melompat ke dalam danau. Dalam beberapa saat, Irish telah diangkat ke daratan, tubuhnya basah kuyup dan wajahnya pucat pasi. Para dayang yang lain berkerumun, mencoba menyelamatkannya.
Aku berdiri mematung, menyaksikan hiruk-pikuk itu dengan tenang. Namun, kehadiran Averio mengubah segalanya. Langkah kaki cepatnya menggema di jalan setapak, dan begitu ia melihat Irish terkulai di tanah, wajahnya yang biasanya tenang berubah murka.
"Lidya!" serunya, suaranya nyaris seperti raungan. "Apa yang telah kau lakukan?!"
Aku mengangkat bahu, tetap tenang meski hatiku bergetar. "Tanya saja mereka. Aku tidak melakukan apa-apa."
"Aku tahu rencana busukmu, Lidya. Sampah seperti dirimu tidak layak berada di kerajaan ini! Pergi saja!" katanya sambil berjalan pergi membawa Irish.
Aku berdiri di sana, diam. Suara derap langkah mereka semakin menjauh, meninggalkan aku bersama Helena, dayang setiaku.
"Nona, Anda menangis?" tanya Helena dengan nada khawatir.
Aku menyentuh pipiku. Benar saja, air mata mengalir tanpa henti. Aku tertawa kecil, suara yang terdengar getir di telingaku sendiri. "Betapa bodohnya aku, Helena. Aku benar-benar lemah saat menyangkut perasaan."
"Tapi, Nona, Anda tidak salah. Mereka yang tidak memahami Anda," ujar Helena lembut, mencoba menenangkan.
Malam itu, aku memutuskan untuk menemui ayah di ruang perawatan Irish. Ruangan itu dipenuhi wangi ramuan tabib, dan suasana di dalamnya sangat tenang. Tabib sedang memeriksa Irish, sementara ayah berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi tak terbaca. Begitu aku masuk, semua perhatian tertuju padaku.
"Hari yang indah," ujarku sambil melangkah masuk. "Aku hanya ingin melihat adik tiriku yang lembut hati. Begitu banyak perhatian untuknya, sangat mengharukan."
"Lidya, mari ikut ayah," ujar ayah dengan suara dingin.
Aku menatapnya dengan penuh keyakinan. "Ada apa, Ayah? Aku tahu ayah pasti akan menyalahkan aku. Aku akan terima, jika kau membuangku karena anak itu aku juga terima. Aku juga akan menerima kenyataan bahwa ibu Arabella yang tulus menyayangi diriku!" Air mataku mulai mengalir, namun suaraku tetap tegas.
"Lidya!!!!" Ayah berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Cukup sudah. Jika kau tidak ingin berubah, mungkin lebih baik kau pergi dari kerajaan ini."
Dadaku terasa sesak. "Baik," jawabku dengan suara bergetar. "Aku akan pergi. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta hakku."
Ayah menatapku tajam. "Apa yang kau inginkan?"
Aku tersenyum tipis, namun senyum itu penuh kepahitan. "Aku ingin rumah mewah dengan pekarangan luas, perhiasan, uang, dan bangunan di tengah kota. Itu saja," kataku.
"Kau keterlaluan!" sergah Arabella, istri ayahku.
"Oh, sungguh? Aku adalah Putri Mahkota kerajaan ini. Jika aku mau, aku bisa meminta setengah kerajaan ini. Tapi aku memilih untuk tidak egois. Apa itu salah?"
"Cukup!" Ayah menghentikan pertengkaran kami. Ia memandangku dengan mata penuh kelelahan. "Baik, aku akan memberimu apa yang kau minta. Pergilah, Lidya."
Aku tersenyum lemah. "Terima kasih, Ayah. Kau tahu, aku menangis bahagia sekarang."
Namun, ketika aku kembali ke kamarku dan mulai mengemasi barang-barangku, air mata yang tak dapat kuhentikan kembali mengalir. Aku tidak dapat membohongi perasaanku bahwa aku merasa sakit. Aku melihat sekeliling kamar yang telah menjadi tempatku bertumbuh, tempat di mana aku dulu merasa dicintai.
"Selamat tinggal kamar Lidya, ku harap jiwamu tenang setelah ku bawa pergi dari neraka ini!"

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasiDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)