Bajingan

465 35 2
                                    

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku menampar gadis itu tiga kali di depan ayahku. Dengan rasa puas yang aneh, aku mendorongnya ke lantai. Persetan dengan bayi itu—hidup atau mati, tidak ada bedanya bagiku. Yang penting, aku tidak akan kalah di hadapan siapa pun, termasuk ayahku.

"Kenapa?" tantangku, suaraku dingin dan menusuk. "Ayah mau menamparku lagi? Coba saja, dan aku akan membalasnya dengan membunuh Irish!"

Ancaman itu menghentikan tangan ayah yang terangkat. Ia memandangku dengan mata penuh amarah, tetapi juga ketidakberdayaan. Aku tahu, kuasanya sirna jika aku mengancam dengan kematian Irish. Di mataku, ayah seperti boneka kosong—berdiri tegap, namun kehilangan keberanian.

Di tengah ketegangan itu, suara tepuk tangan nenek memecah suasana. Tepukannya lembut tetapi penuh ironi, dan tawanya yang bergetar memenuhi ruangan. "Ini benar-benar menakjubkan," katanya dengan senyuman lebar. "Aku pikir akulah yang akan memberi pelajaran berat pada mereka. Tapi kau, Lidya, kau benar-benar tidak terduga. Kau persis seperti ibumu—berani dan tanpa ampun!"

Nenek mendekat, membelai rambutku dengan lembut sebelum menarikku keluar dari kamar. Langkahnya mantap, dengan aura yang tidak bisa ditentang oleh siapa pun.

"Ini baru cucuku," gumamnya sambil terkekeh. "Kau membuatku bangga, Lidya."

Kami berjalan menuju ruang makan, dan di sana aku melihat Lucas duduk sendirian. Hidangan di depannya tidak tersentuh, dan wajahnya memancarkan kesepian. Ketika melihat kami, matanya melebar.

"Kakak," panggilnya pelan, kemudian pandangannya beralih ke nenek, memandang dengan ragu.

"Lucas, ini nenek," aku menjelaskan. "Wajar kau tidak mengenalnya sejak kecil kita jarang bertemu dengannya."

Nenek mendekat, menyuruh Lucas berdiri. Dengan lembut, ia mengusap rambut adikku sambil tersenyum tipis. "Maafkan nenek, cucuku," katanya dengan suara lembut namun penuh emosi. "Nenek meninggalkan kalian karena ayah kalian—karena kebodohannya menikahi wanita itu. Jika bukan karena dia, aku tidak akan pernah mengutuk tempat ini."

Lucas hanya diam. Tatapannya penuh kebingungan, tetapi aku tahu ada sedikit kehangatan di balik kebisuannya. Namun, nenek tidak puas hanya dengan permintaan maaf. Wajahnya kembali serius.

"Hari ini akan menjadi hari yang sibuk," katanya akhirnya, suaranya kembali tegas. "Persiapkan dirimu. Kita akan pergi ke tempat di mana permainan ini benar-benar dimulai."

Perintah nenek membuat seluruh istana sibuk. Helena, dayangku, berlari ke sana-sini mengatur segalanya. Pelayan-pelayan lain juga terlihat sibuk, bahkan ayah berdiri mengamati kami tanpa tindakan berarti. Tangannya sesekali memijat pelipisnya, seperti mencoba meredakan ketegangan yang ada.

"Aku akan membatalkan perjodohan antara Lidya dan Averio," ujar nenek tiba-tiba. "Aku yang menentukan, bukan kau, Mario. Jadi, sebagai anak yang baik, kau dilarang menghalangi keputusan ini."

Nenek menarikku tanpa memberi kesempatan pada ayah untuk membalas. Aku hanya bisa mengikutinya, meskipun rasa lelah mulai menyerangku. Berapa lama lagi aku harus menjalani semua ini? Mengapa tak ada jeda? Aku bahkan tidak tahu jarak istana Averio.

"Bersabarlah," ujar nenek seolah membaca pikiranku. "Perjalanan ini akan memakan waktu empat jam dengan mobil, dan kita harus menyeberangi perairan yang memisahkan kerajaan kita dengan Averio."

Empat jam? Aku menghela napas panjang. Mungkin tidur adalah solusi terbaik. Tidur bagiku seperti mesin waktu—mempercepat perjalanan tanpa aku harus merasakannya.

Saat tiba di istana Averio, aku merasa lelah luar biasa. Namun, pemandangan megah di depan mata mengalihkan sejenak rasa letihku. Gerbang besar terbuka perlahan, memperlihatkan barisan penjaga yang berdiri rapi. Kepala penjaga memberikan aba-aba, dan jalan dibuka. Dari arah dalam, seorang pria paruh baya berjalan dengan langkah mantap. Pakaiannya menunjukkan status tinggi, dan ketika ia melihat nenek, ia segera menundukkan kepala hormat.

"Ibu Suri Agung," ucap pria itu dengan nada hormat tetapi tetap berwibawa. "Sudah lama kita tidak bertemu. Saya penasaran mengapa Anda menelepon saya kala itu. Saya yakin ini hal penting, dan saya harap bukan sesuatu yang buruk."

Nenek tersenyum tipis, tetapi matanya memancarkan ketegasan. "Tentu saja ini penting," jawabnya dengan nada tegas. "Dan aku yakin kau tahu aku tidak akan datang jauh-jauh hanya untuk hal sepele. Kita punya urusan besar untuk diselesaikan."

Pria itu memandang kami sejenak, lalu mengisyaratkan untuk mengikuti. Kami melangkah memasuki aula utama istana Averio, di mana para pelayan membungkuk hormat saat nenek lewat. Suasana terasa mencekam, seolah semua orang tahu bahwa kehadiran nenek berarti perubahan besar akan terjadi. Aku bisa merasakan ketegangan di udara, dan perasaanku bercampur aduk—antara ingin tahu, marah, dan sedikit takut.

"Permainan ini baru saja dimulai," bisik nenek padaku dengan senyuman kecil. Aku tahu, ini bukan hanya tentang pembatalan perjodohan. Akan ada lebih banyak drama, lebih banyak pertempuran, dan lebih banyak rahasia yang akan terungkap.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang