04. New Person

1.8K 179 7
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.

Iris mata Yuri menangkap fokus pandangan didepannya, sedang kedua jemari lentiknya tampak sibuk membelit sebuah simpul yang mungkin untuk sebagian orang itu serasa sulit di lakukan, sesekali bahkan kakinya berjijit guna mencapai sebuah titik yang menurutnya pas.

"Apa ini terlalu mencekikmu oppa?" tanyanya kemudian, setelah berhasil menyimpulkan dasi.

"Yuri-yaa. Kurasa ini terlalu ketat, aku susah bernafas." keluh Jungkook bohong.

"Oh benarkan? maaf, akan kuperbaiki." Alhasil Yuri kembali berjijit, tapi belum sempat ia meraih untuk memperbaiki dasi. Dahi Yuri tiba-tiba merasakan suatu benda kenyal yang mendarat dengan lembut di dahinya, cukup lama Jungkook menahan kegiatannya--mencium kening Yuri.

"Tidak Yuri, dasinya pas, setelah aku mencium keningmu" kekeh Jungkook setelahnya.

"Aish....Oppa.. Kau." keluh Yuri dengan dengan mencerutkan bibirnya sebal. Lihatkan, dadanya berdesir lagi, ini masih pagi padahal.

Tepat pukul 07.00 yang lalu Jungkook datang ke apartemennya, seperti yang di katakan Jungkook ia akan kesini untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Untung saja Yuri sudah siap dengan masakannya, lalu setelah selesai dengan urusan perut mereka. Jungkook malah meminta Yuri memasangkan dasi.

"Ah iya, gunakan ini. Jika kau ingin berbelanja sesuatu." Jungkook menyodorkan sebuah kartu tipis berwarna hitam--black card.

Yuri bingung, pasalnya ia sama sekali belum pernah melihat kartu tersebut secara langsung. Yang Yuri tahu, kartu tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang berpenghasilan besar. Tapi apakah ini tidak berlebihan jika Yuri memakainya? dan apa tadi kata Jungkook? berbelanja? bukankah semua kebutuhannya sudah tersedia disini.

"Ah tidak oppa, disini semua kebutuhanku sudah tersedia. Kau tidak perlu repot lagi, aku banyak menyusahkanmu."

Terdengar munafik memang, tapi jujur Yuri tidak menginginkan apa-apa lagi sekarang.

"Kau tidak punya ponselkan? gunakan ini untuk membelinya."

"Ah..."

Benar Yuri tidak punya ponsel, tapi Yuri sebenarnya tidak terlalu membutuhkan benda pipih tersebut. Memangnya siapa yang ia ingin hubungi? ah benar. Sekarang ada Jungkook yang menjadi sandaran. Tunggu Sandaran? entah sejak kapan Yuri menganggap Jungkook sebagai sandarannya.

"Aku akan membelinya nanti." Akhirnya Yuripun menerima sodoran dari tangan Jungkook.

"Ah iya satu lagi, aku dengar kau baru lulus sekolah menengah pertama bukan? mulai sekarang kau akan home schooling, gurumu adalah teman dekatku. Nanti dia akan datang setelah makan siang. Dan dia juga supir pribadimu, nanti minta dia untuk mengantarmu untuk berbelanja." jelas Jungkook.

"Oppa.....apa ini tidak berlebihan?" Yuri menatap Jungkook dengan pandangan yang sulit di artikan. wajah raut penuh kebingungan tecetak jelas di wajah Yuri. Jungkook benar-benar penyelamatnya.

"Aku tidak menerima penolakan Yu. Kita saling membutuhkan disini."

Ucapan Jungkook serasa menohok hatinya, seolah-olah perkataan Jungkook barusan itu menyadarkan kembali pada tempatnya, kenapa ia bisa berakhir disini? karena Jungkook membutuhkan dirinya hanya untuk sekedar menghangatkan ranjangnya. Setidaknya itulah opini yang Yuri tangkap.

THE PAIN [√]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang