28. A plan

1.1K 134 5
                                        





Sudah hampir satu minggu, setelah Eunji menugaskan Jun Yung sebagai mata-mata. Ah, tidak juga disebut sebagai mata-mata, tepatnya Eunji lebih suka menyebutnya sebagai penguntit. Seminggu ini belum ada hal-hal aneh yang terjadi, seperti air kolam yang tenang. Jungkook dan Yuri, belum memunculkan bau-bau pengkhiatan mereka. Atau mulai merencanakan sesuatu yang berarti.

Eunji menatap lekat vas bunga bening di atas meja, tangannya terlipat di depan dada. Bunga itu layu, dengan batangnya terendam air di dalam vas. Eunji menatap miris bunga itu, cantik, tapi sudah rusak. Eunji mengutuk bunga itu, ia berjanji tidak akan mengalami hal yang sama seperti bunga yang di kutuknya. Jika ia tidak ingin menjadi layu dan mati. Ia harus kuat. Ia tidak salah dalam mengambil keputusan, ia hanya mencoba mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Anaknya, dan suaminya. Ia tidak ingin di bodohi oleh Jungkook atau siapapun. Ia harus mengawasi setiap pergerakan Yuri dan Jungkook, seperti mata elang yang awas.

Dalam seminggu pula ia mulai mengkhawatirkan Yo Han, bayi laki-laki itu sakit-sakitan. Menangis setiap jam, dan menolak susunya. Membuat kepala Eunji hampir meledak, belum lagi tenggorokan Yo Han sedikit iritasi karena efek samping dari tangisannya. Jika sudah begini Eunji terpaksa meminta Yuri untuk menenangkannya, karena hanya Yuri yang bisa menenangkan bayi itu.

Eunji sudah memberikan apapun yang terbaik untuk Yo Han. Selama empat bulan ini ia mengasuh Yo Han, ia tulus menyayangi bayi itu. Ia tidak ingin Yo Han mengalami apapun, dan tumbuh menjadi bayi yang sehat.

"Bu.... apa yang harus ku lakukan" Eunji memandangi pigura ibunya, ia melihat wanita itu tersenyum menatap ke arah kamera. Sangat angun dan lembut.

"Kenapa kedua putrimu harus terlibat perselihan seperti ini. Aku ingin menjadi wanita sepertimu, seorang wanita pintar. Bantu aku bu,"

"Eonnie,"

Suara lembut Yuri membuat Eunji menghentikan gumamannya, ia menoleh ke arah Yuri sekilas, yang sedang merengkuh Yo Han, yang baru saja tertidur karena lelah menangis. Sekali lagi, Eunji terpaksa memberi kesempatan untuk Yuri menenangkan bayi tampan tersebut.

"Ya?"

"Hyun-joo, menghubungiku. Aku akan memeriksan Yo Han hari ini, badannya sedikit hangat. Apa boleh aku mengantarnya?" Yuri berucap dengan canggung. Hubungan mereka sudah lama merenggang.

"Terserah kau saja, aku memberimu waktu dua jam dari sekarang,"

-----


"Semuanya tidak akan baik Yu, percayalah padaku. Jika seperti ini terus pertumbuhan anakmu akan terganggu," Hyun-joo meraih tangan Yuri, dan menggenggam tangannya. Sebagai sesama wanita, ia tidak ingin Yuri mengalami hal yang sama seperti dirinya.

"Menurutmu Yo Han sungguh membutuhkanku?" Yuri bertanya, lebih tepatnya ia sedang mencari sebuah keyakinan.

Jungkook datang kesini, saat Yo Han melakukan pemeriksaan. Pria itu datang karena Hyun-joo yang memintanya datang kerumah sakit. Hyun-joo bilang Jungkook sebagai ayahnya, perlu tahu satu hal. Dan saat ini Yo Han sedang berada dalam gendongan Jungkook, ia duduk di sebelah Yuri. Pria itu memberikan tatapan yang sulit di artikan.

"Jelas, kau ibunya. Kau tidak bisa meremehkan ikatan batin antara ibu dan anak. Saat anakmu menginginkanmu, kau pasti merasakan sesuatu yang mengganjal di firasatmu. Katakan kalau aku salah."

"Benar, setiap kali mendengar Yo Han menangis, aku merasa tangisan itu seperti Yo Han sedang memanggilku untuk mendekapnya. Aku tidak tahu, mungkin hanya firasatku, Yo Han lebih menyukai pelukanku dari pada Eunji."

"Seorang bayi akan menangis saat mereka tidak merasa nyaman, ketika ia berada di dekat orang yang tidak membuatnya nyaman itu akan mengganggunya, ia menangis untuk mengatakan hal itu. Lalu kau datang dan mendekapnya, dan ikatan batin kalian terjalin."

THE PAIN [√]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang