Typo bertebaran
Happy Reading♥️
Jangan lupa vote dan komen ya.
Bel masuk berbunyi. Akash bukannya kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran, dia malah pergi ke kebun belakang sekolah dan memanjat tembok. Kebun belakang sekolah yang penuh dengan pohon buah mangga tersebut tinggi sebatas dagu, baginya, dan tempat terhubungnya sekolah dengan rumah penduduk di sekitar. Tepat setelah mendarat, dapat ditemukan sebuah warung, yang biasa siswa seperti Akash untuk sekedar membolos sekolah.
"Tumben baru dateng," Radit, temannya dari sekolah tetangga bertanya seraya menghisap batang rokoknya. "Gue kira lo gak bakal kesini." Lanjutnya
Akash tidak menimpali dan kemudian memesan es teh manis. Dia duduk di sebelah Dito, teman sekelasnya yang sedari pagi tidak menunjukkan batang hidungnya di area sekolah. Wabunah, atau Warung Bu Nenah sudah seperti base camp bagi mereka. Tempat berkumpulnya para siswa yang jenuh dengan pelajaran sekolah, atau bahkan tempat ternyaman untuk membolos. Karena dari mereka masih kelas sepuluh sampai sekarang kelas sebelas, tidak ada Guru bahkan ketua Osis yang menemukan tempat ini, atau mungkin pura-pura tidak tahu.
"Eh, lo pada udah tau berita terbaru belum?" Tanya Bagas, salah satu dari sekian banyaknya tukang rumpi yang berjenis kelamin perempuan dia merupakan tukang rompi berjenis kelamin laki-laki. Bagas dan Mila, pacarnya memang kerap kali membagikan berita terbaru yang terjadi di sekolah bahkan diluar lingkungan sekolah. Masih kelas sebelas, tapi punya banyak informan.
"Berita apaan? Perasaan dari tadi pagi gue gak denger apa-apa dah." Radit balas bertanya karena kepo, bisa saja hal tersebut berasal dari sekolahnya.
"Kemaren, lo tau gak si Meli?" Tanya Bagas pada Radit yang hanya menggelengkan kepala. "Itu... mantan si Dito."
"Dia?" Tunjuk Radit pada Dito yang cuek saja memainkan game di ponselnya.
Bagas mengangguk antusias. "Kemaren Mantan si Dito main ke club, terus liat si Alvin disana. Gak tau juga dia lagi ngapain tapi, aneh banget gak sih, dia anak baik-baik maen kesana?"Tanya Bagas dengan kedua alis yang dia naik turunkan. "Kalo kita sih udah keliatan dari luarnya aja gak ada baik-baik nya."
Radit menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Bagas tentang ketua Osis bernama Alvin itu. Walaupun tidak bersekolah di sekolah yang sama, tapi nama baik Alvin bahkan terdengar sampai sekolah-sekolah tetangga.
"Bener," Radit menyetujui perkataan Bagas. "Tapi bisa aja kan tujuannya baek, misal mau razia siswa di sekolahnya."
Bagas malah tertawa seraya menggeleng tidak setuju dengan perkataan Radit. "Si Meli sama Pacarnya dan dia liat," Kata Bagas seraya melirik Dito yang memberikan tatapan tajam saat dia menekankan kata pacar. "Si Alvin lagi berduaan sama cewek."
"Pacarnya kali, dia udah punya pacar kan?" Tanya Radit yang mendapatkan anggukan dari Bagas.
"Vani? Bukan, dia bukan si Vani. Cewek ini beuh... Nih gue kasih liat fotonya." Bagas menunjukkan ponselnya kepada Radit yang seketika melotot sempurna.
"Gilaaa," Gumamnya seraya menggelengkan kepela. " Si Alvin sama si Cheryl?"
"Lo kenal?" Tanya Bagas.
Mereka berdua berceloteh tanpa mempedulikan jika kedua temannya hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Tapi, Akash lumayan penasaran tentang apa yang terjadi, sehingga dia memasang telinga baik-baik saat mendengar perkataan Radit selanjutnya.
"Dia ketua Cheerleader di sekolah gue. Setau gue dia mantan si Bobby, emang punya pacar baru tapi bukan Alvin. Kalo gak salah namanya Vino."
"Alvino Pradipta." Kata Akash, sontak mereka bertiga termasuk Dito, memandang kearah Akash. "Gue cabut."
"Mau kemana?" Tanya Dito dan Akash hanya mengedikkan bahu.
Karena Akash tidak punya tujuan. Jika kembali ke kelas maka dia akan dihukum karena tadi sudah membolos sedangkan jika kembali lagi ke Wabunah, maka harus putar balik. Tujuan terakhirnya pergi ke warnet yang berada lumayan dekat dari sekolah. Melewati beberapa rumah warga, lalu belok kiri, dan sampai di tempat tujuan.
Akash memang bekerja disini sebagai penjaga warnet. Pekerjaan patuh waktu jika memang senggang dari sekolah atau pekerjaan lainnya. Tapi, dia lebih sering menghabiskan lebih banyak waktu di warnet daripada sekolah. Itulah mengapa saat tadi Vani bertanya, dia menjawab karena sedang senggang.
"Udah pulang lo?" Tanya Bang Jack. Begitu kira-kira mereka memanggilnya. Bang Jack merupakan pemilik sekaligus bos Akash, dia mengerti status Akash sebagai siswa, jadi memaklumi jika Akash bekerja diantara hari sabtu dan minggu saja. Bahkan Bang Jack ini yang terus memotivasi Akash agar terus sekolah dan pantang semangat.
"Sekiranya disini ada yang butuh bantuan gue." Ucap Akash yang sekarang menatap sekeliling. Banyak sekali siswa yang berada disini, bahkan mereka masih mengenakan seragam sekolah. Padahal Bang Jack sudah melarang. Tapi, sebagian siswa masih ngeyel dan akhirnya menandatangani surat persetujuan. Jika mereka tertangkap Bang Jack tidak ikut bertanggung jawab.
"Dar, bantuin gue naik level dong." Dia Restu, sahabat Akash sedari kecil atau bisa disebut sebagai tetangga. Rumah keduanya berdekatan sehingga mereka sudah seperti saudara. Tetapi, mereka bersekolah di sekolah yang berbeda, Restu satu sekolah dengan Radit. "Lo kenapa udah balik?" Tanya Restu pada Akash.
"Bosen."
"Udah pinter lo bilang gitu?"
"Lo sendiri ngapain disini, gak ngaca. Ngerasa pinter?" Bukan Akash yang menjawab pertanyaan Restu tapi Bang Jack yang sekarang sedang berjalan untuk membuat kopi.
"Tau 'kan harganya berapa?" Tanya Akash pada Restu yang sekarang sedang berdiri dibelakangnya sedangkan Akash duduk ditempat Restu. "Gue mau cash."
"Lo sama temen turunin dikit kek harganya." Mohon Restu yang sekarang sedang memijit pundak Akash, mencoba bernegosiasi agar dapat keringanan.
"Jangan mau Dar, dia nanti minta turunin lagi sampe GRATIS." Lagi dan lagi Bang Jack yang menjawab, dia bahkan menekan kata gratis untuk menyindir Restu.
"Bang jangan ikut campur antara pedagang dan pembeli. Gue lagi coba negosiasi sama dia." Kata Restu yang sekarang masih dengan memijat sesekali memberikan pukulan-pukulan ringan yang membuat Akash risih dan menghempaskan tangan Restu dari pundaknya.
Ponselnya bergetar saat Akash sedang memainkan level permainan Restu. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera dilayar. Dito. Ada apa?
"Rania tadi nelpon gue," Ucap Dito bahkan tanpa berbasa-basi. "Katanya lo suruh dateng ke ruangan Bu Sri pulang sekolah nanti."
"Hm."
Akash menutup sambungan telepon begitu saja. Pasti masalah yang sama. Dia bisa apa jika menyangkut hal tersebut. Akash melirik jam yang menggantung di dinding lalu segera pergi bahkan saat Restu memanggilnya pun tidak dia hiraukan. Tiga puluh menit lagi jam pelajaran usai, jadi Akash sekarang akan menunggu di Wabunah saja.
Di Wabunah tidak ada siapa-siapa. Mungkin mereka bertiga membolos atau masuk ke kelas. Tapi, sepertinya pilihan kedua tidak begitu bagus. Sebenarnya Akash bisa saja langsung pulang tanpa kembali ke sekolah, tidak perlu khawatir karena dia tidak pernah membawa tas. Jadi, walaupun tidak kembali ke kelas jejak keberadaannya tidak diketahui.
Andai dia bisa seperti itu, tapi berbeda dengan situasi sekarang. Disinilah pada akhirnya Akash berada. Ruangan Bu Sri. Selalu dengan masalah yang sama.
***
Tbc
See you next part
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla (COMPLETED)
JugendliteraturHamil sebelum menikah apalagi saat SMA, Vani tidak pernah merencanakannya. Terpikirkan pun tidak. Rencana untuk masa depannya sudah tersusun rapi walaupun orang tuanya yang merencanakan. Tapi sekarang ia hamil dan Alvin yang seharusnya bertanggung j...
