25. Seseorang Dari masa Lalu

5.2K 327 1
                                        

Hari ini langit mendung, menandakan hujan sebentar lagi akan turun. Angin pun lumayan kencang berhembus, menyalurkan udara dingin yang membuatnya menggosok kedua telapak tangan untuk menghasilkan sedikit kehangatan. Bu Fika, teman Almarhumah ibunya mengantarkan Akash yang saat itu berusia sepuluh tahun kerumah besar ini, katanya...

"Ini rumah Bapak kamu," Ucap Bu Fika kala itu, dia punya seorang teman yang bekerja sebagai ART disini. "Nanti kamu ikut sama Bu Yuyun ya, maaf saya cuma bisa antar kamu sampai sini."

Akash kecil mengangguk, dia memegang kedua tali tas yang ada di pundaknya dengan erat, saat orang yang di tunggu keluar, barulah Bu Fika pamit dan Akash segera mengikuti langka Bu Yuyun.

"Ayo, saya bawa kamu ke dalam. Kebetulan, Tuan sama nyonya ada si rumah."

Rumah dua lantai tersebut sangat luas. Halamannya penuh dengan pohon dan bunga-bunga yang membuat rumah tersebut terasa indah. Ya, indah. Akash semakin tidak sabar untuk bertemu Bapaknya. Bu Yuyun membawanya masuk ke dalam ruang tamu yang besar. Disana, ada dua anak kecil. Satu perempuan dan satunya lagi laki-laki, yang menurut Akash seusia dengannya, berbeda dengan anak perempuan yang mungkin usianya berada beberap tahun dibawah.

Mereka sedang menonton televisi ukuran besar, berbeda sekali dengan yang ada di rumahnya. Kecil dan gambarnya tidak jelas.

"Siapa?" Pertanyaan tersebut, mampu membuat Akash mengalihkan pandangan dari televisi besar yang menampilkan acara kartun kesuakaannya.

"Nyonya, ini ada anaknya Bu Sofia mau bertemu sama Tuan." Jawab Bu Yuyun dengan senyum kaku yang jelas terpancar diwajahnya, niatnya dia akan langsung berhadapan dengan Tuan, tetapi takdir berkata lain.

Sang nyonya membelalakkan matanya dan segera menuruni anak tangga.

Akash mengerjap saat tangannya ditarik begitu saja keluar rumah. Dia diseret, menuruni anak tangga yang menghubungkan rumah dan halamannya. Dia tersungkur, didorong tepat ketika mereka menuruni anak tangga terakhir. Lututnya tergores, menimbulkan darah yang membuatnya perih seketika.

Bu Yuyun segera membantunya berdiri. Akash menatap wanita yang entah siapa namanya, tapi yang pasti dia adalah nyonya dirumah ini. Masalah keluarganya sendiri Akash tidak tahu, kenapa ibunya hidup seorang diri sedangkan ayahnya mempunyai keluarga lain dan kehidupannya yang sangat sejahtera. Padahal, ibunya bilang mereka berdua tidak pernah bercerai.

"Saya dan keluarga saya tidak akan pernah menerima anak haram." Perkataan tersebut menusuk ulu hatinya, di usianya yang sekarang Akash tahu arti dari kata 'Anak haram' karena ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan perkataan tersebut.

"Dia siapa Ma?" Pertanyaan dari seorang anak laki-laki yang baru saja datang membuat semua orang yang berada disana menatap anak laki-laki tersebut. Dia datang bersama anak perempuan yang tangannya dia gandeng.

"Bukan siapa-siapa sayang, sekarang kamu masuk ya." Dia mengelus lembut kepala anak sulungnya, lalu tatapannya beralih pada Bu Yuyun yang masih berdiri dibelakang Akash. "Yun, bawa anak-anak ke dalam, kalau berani membantah, saya gak akan segan pecat kamu."

Bu Yuyun menatap Akash dengan pandangan meminta maaf, lalu dibawanya anak-anak sang majikan ke dalam rumah, meninggalkan sang nyonya dan Akash berdua di halaman depan.

"Pergi dari sini." Perintahnya.

"Tapi, aku mau ketemu sama Bapak, tante."

"BAPAK? BAPAK SIAPA?" Teriakan tersebut membuat Akash terkejut. " Pergi dari rumah saya. Gak ada bapak kamu disini. Pergi."

"Ada apa Ma? Gerimis lho, ayo masuk." Sebuah pertanyaan lagi, tapi suara ini jelas berbeda dengan suara anak laki-laki tadi, di depannya berdiri seorang lelaki paruh baya. "Eh, ini siapa?"

"Bukan siapa-siapa, dia itu cuma pengemis yang minta uang. Gak usah dikasih pa, nanti malah keterusan."

Tidak menuruti perkataan sang istri, dia mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar pada Akash. "Ini. Orang tua kamu mana?"

Akash menggeleng, tidak menerima uang tersebut. "Kata ibu, Bapak aku tinggal disini."

Lelaki paruh baya tersebut tampak mengerutkan kening, sedangkan sang istri sudah menyuruhnya untuk tidak mendengarkan perkataan Akash dan mengajaknya berlalu untuk masuk ke dalam rumah.

"Ibu kamu, siapa namanya?"

"Mas, kamu gak usah dengerin omongan anak ini. Dia pasti penipu."

"Sofia, Om."

"Sofia?" Tanyanya memastikan, lalu memindah penampilan Akash dari atas sampai bawah. "Sofiani?"

Akash mengangguk. Tetapi, lelaki paruh baya tersebut menggeleng tidak percaya. "Gak mungkin. Kamu pasti bohong."

"Kan, udah aku bilang mas. Dia itu bohong, udah ayo kita masuk."

"Tunggu!" Perkataan Akash menghentikan niat suami istri tersebut untuk masuk ke dalam rumah. "Berarti om, Bapak ku? Benar,'Kan?"

"Jangan ngaco kamu. Pergi dari sini! SATPAM!" Teriakan wanita tersebut membuat seorang satpam berlari terbirit-birit.

Akash dibawa tanpa perlawanan, dia menatap wajah ayahnya untuk terakhir kali, hanya untuk diingat bahwa dia harus membenci wajah itu. Gerimis sekarang sudah berganti menjadi hujan deras, tubuhnya basah kuyup. Pada saat itulah dia bertemu Nek Ani, beliau merawatnya dan menganggapnya seperti cucu sendiri.

Lalu, sekarang. Salah seorang dari masa lalu yang ingin dia lupakan kembali lagi. Akash masih ingat wajah itu, hanya saja sekarang penampilannya sudah berubah. Rambut ikal yang saat itu sepanjang bahu sekarang panjangnya mencapai punggung. Gigi ompongnya sekarang sudah berjejer rapi.

"Ayo pulang, Van." Akash menarik tangan Vani tapi, saat dibelakangnya tidak ada pergerakan, Akash menoleh. Ternyata, tangan Vani yang sebelahnya ditahan.

"Aku mau ngomong sebentar Kak."

"Maaf, tapi saya gak kenal kamu." Jawab Akash dan dia terus saja menggenggam tangan Vani erat, enggan melepaskannya. "Vani, ayo pulang."

"Tapi, dia kayaknya mau ngomong penting sama kamu." Ucap Vani.

"Tapi, aku gak kenal."

"Kak, please." Nada bicaranya penuh permohonan, seharusnya Akash mau mendengarkan atau bahkan meluangkan sedikit waktunya untuk berbicara, bukan malah pergi dengan membawa Vani yang enggan meninggalkan cewek tersebut.

"Kamu kenal sama dia,'Kan?" Pertanyaan Vani tidak Akash jawab, Akash melajukan sepeda motornya menuju rumah. "Akash?"

"Gak."

Jawaban yang singkat, jelas dan padat. Vani tahu, sekarang Akash sepertinya sedang tidak ingin membahas masalah tersebut. Jadi, dia memberikan Akash waktu dan akan menunggunya untuk menceritakan sesuatu yang sepertinya selalu di pendam seorang diri.

"Gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita sekarang. Tapi, kamu harus tahu kalau aku akan nunggu kamu buat cerita apa yang selama ini kamu simpen sendiri. Berbagi cerita, akan meringankan beban itu sendiri."

"Tapi, aku gak mau kamu nanggung beban yang sama." Akhirnya Akash menjawab, setelah setengah perjalanan dilewati dengan dia yang tidak bersuara.

"Siapa bilang? Selama kamu gak anggap itu beban aku juga akan begitu. Karena setidaknya, kamu membagi cerita yang selalu mengganjal hati. Percaya deh, sama aku. Walaupun dengan bercerita gak bikin beban kamu hilang, tapi setidaknya hati kamu akan sedikit merasa lebih baik."

Akash tidak menjawab dan Vani juga tidak membutuhkannya. Biarlah, nanti Akash yang memutuskan, menceritakannya atau terus dia pendam.

****

Vanilla (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang