20. Interaksi Baru

5.7K 372 8
                                        

Hari ini Vani dan Akash kedatangan tamu. Padahal Vani hanya memberitahukan alamatnya hanya kepada Rania, tapi sekarang yang berada disini bukan hanya Rania, melainkan kedua adik kembarnya Reza dan Vanya, dan Dito. Kedua orang tua Rania sedang menjalankan bisnis diluar kota, sehingga si kembar tetap dirumah bersama baby sitter.

Tadinya, Rania hanya akan pergi sendiri. Tapi, si kembar menagis ingin ikut kemari, dan saat baru saja membuka pintu, Dito sudah ada di depan rumahnya, memberikan cengiran bodoh tanpa dosa. Dito sekarang sedang memasang tampang tak berdosa lagi, saat Rania terus saja menggerutu tentangnya.

"Emang nih cucunguk selalu ngintilin gue," Ucap Rania seraya memberikan pelototan kepada Dito yang berpura-pura tak melihatnya. "Pengganggu banget, pake tau segala gue mau kesini." Lanjutnya.

"Ya, gue kesini karena mau liat rumah baru Akash," Jawab Radit, dipangkuannya ada Vanya yang duduk anteng sedang memainkan jari tangannya. "Lagi pula, gue bisa bantuin lo bawa si kembar."

Rania memutar kedua matanya malas, Ditto selalu saja mempunyai jawaban disetiap pertanyaannya.

Sedangkan Vani dan Akash hanua mampu tersenyum dan menggelengkan kepala melihat pasangan mantan di depannya yang terus saja bertengkar. Lalu tatapan Vani terarah pada Reza, adik Rania yang sedang berada di pangkuan kakaknya.

"Ran, aku mau gendong Reza," Vani menatap Rania penuh harap, apalagi melihat pipi gembul kedua adiknya yang seakan minta di cubit. Gemes. "Boleh?" Tanyanya pada Rania.

"Ya boleh lah, masa dilarang." Rania lalu memberikan Reza pada Vani.

"Usia mereka berapa Ran?" Tanya Vani yang tidak berhenti memberikan ciuman di seluruh wajah Reza, membuatnya tertawa. Tawa khas bayi yang sangat merdu.

"Berapa ya?" Rania bergumam, dia menghitung usia si kembar, mencoba mengingat. " Kalo gak salah baru satu tahun lima bulan."

Lalu mengalirkan obrolan antara Vani dan Rania tanpa mempedulikan dua makhluk lain. Akash dan Dito juga sedang mengobrol, membicarakan tentang Restu. Ikut prihatin atas kecelakaan yang penyebabnya ayah sang sahabat koma dirumah sakit.

"Bukannya kemarin lo bilang mau buka kafe?" Tanya Dito, dia berusaha untuk membuat gerakan sepekan mungkin, saat Vanya tertidur pulas diatas pangkuannya.

"Iya, gue lagi bingung konsepnya gimana."

"Udah coba hubungi Mas Geri?"

Akash mengangguk saat Dito menanyakan hal tersebut. Dia sudah menghubungi Mas Geri dan sebentar lagi restorannya akan direnovasi. Mas Geri juga akan selalu memberi saran untuk pebisnis muda agar dapat menjalankan bisnisnya.

"Eh, gue pamit pulang aja ya," Kata Rania, lalu melirik Reza dan Vanya yang berada di pangkuan Vani dan Dito. "Liat, mereka berdua tidur."

"Tinggal di pindahin ke kamar aja, kasian mereka nanti bangun."

"Nggak usah, gue pamit pulang aja ya. Lain kali kesini lagi."

"Oke," Jawab Vani saat Rani mengambil alih Reza dari langkahnya. Lalu Vani dan Akash mengantar tamu mereka ke depan pintu. Lambaian tangan Vani baru terhenti saat mobil yang ditumpangi oleh Rania dan Dito menghilang dari jarak pandangnya.

Kerja berdua masuk kembali kedalam rumah, tanpa ada sepatah katapun. Bukan bertengkar, hanya saja tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Lalu, besoknya restoran tersebut akan direnovasi. Banyak sekali teman-teman Akash yang datang hanya sekedar untuk membantu, padahal Akash bilang tidak usah. Tapi mereka tidak menggubris perkataannya dan mulai bekerja. Pekerjaan yang tadinya akan memakan waktu lama, sekarang menjadi lebih singkat hanya karena bantuan dari teman-teman satu tongkrongannya.

Beberapa hari kemudian, Restoran tersebut sudah berubah menjadi sebuah kafe kekinian yang akan membuat siapapun merasa nyaman berlama-lama di dalamnya. Rencananya, Akash akan melakukan syukuran atas kafe yang akan dikelolanya. Dia juga sudah mengundang om Ibra dan Tante Nia, teman-temannya dan anak yatim dari panti asuhan di daerah tersebut.

Hari ini, tepat acara syukuran kafe. Didalam dan diluar ramai sekali oleh anak-anak. Akash juga memberikan sedikit hadiah kepada mereka semua. Lalu, dia bersama teman-temannya berpencar untuk membagikan nasi kotak dan sedikit hadiah pada pemulung dan gelandangan yang berada disekitar lampu merah.

Kotak makan yang berada didalam sudah habis dibagi-bagikan, dan Akash bersyukur atas hal itu. Setidaknya makanan tersebut bermanfaat, lalu dia juga sudah membeli kendaraan, yang dibelikan oleh Om Ibra padahal Akash sudah menolak hal tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Om Ibra tadinya akan memberikan sebuah mobil yang tentu Akash tolak saat itu juga. Pasalnya, mobil terlalu mewah untuk berkendara dari rumah menuju kafe yang tidak terlalu jauh. Dan, dengan penuh pertimbangan akhirnya Om Ibra memberikan sebuah motor matic pada Akash.

Tadinya Akash akan membayar menggunakan uang renovasi yang masih tersisa, tapi Om Ibra menolak dan mengatakan... "Gak usah, uangnya buat modal usaha kamu aja." Begitu kira-kira perkataan Om Ibra tiga bulan yang lalu, karena sekarang kafe yang tiga bulan lalu direnovasi sudah beroperasi dan lumayan ramai pengunjung.

Tidak mudah untuk membuat kafe seramai sekarang. Butuh kerja keras dan usaha yang maksimal. Akash juga pernah mengalami jatuh bangun dalam mengelola tempat ini, tapi dia pantang menyerah, dibantu teman-temannya akhirnya tempat ini sekarang menjadi lebih ramai pengunjung.

"Udah gue bilang, lo gak boleh terlalu capek." Ucap Akash pada Vani yang duduk menyender pada sofa yang berada di ruangannya.

"Nggak capek kok, lagi pula kalo dirumah terus aku bosen. Nanti kalo aku dirumah, siapa yang buat kue dan cake disini?"

"Kan ada Mbak Indri," Jawab Akash membuat Vani cemberut.

"Bilang aja kalo kue buatan aku itu gak enak," Vani merajauk, dia menegakkan tubuhnya danmembuang muka pada Akash yang bergeser duduk disampingnya. Vani melipat tangan di depan dada dengan mata berkaca-kaca. Astaga, hormon ibu hamil ternyata membuat Vani yang cengeng menjadi lebih cengeng lagi.

Aku tersenyum. Dia lalu mengelus perut Vani yang sekarang berusia lima bulan tersebut. "Mama kamu marah sama Papa," Akash mendongak, melirik Vani yang tidak mengubah posisinya. "Kamu bujuk ya, supaya jangan marah lagi." Lalu, diciumnya perut tersebut membuat Vani semakin merengek.

"Kamu itu tahu aja kelemahan aku."

"Emang kelemahan kamu apa?" Dan sekarang Akash bahkan ber Aku-kamu. Akash saja kaget apalagi Vani yang sekarang sedang mengerjapkan kedua matanya polos.

"Ya, itu..." Vani salah tingkah saat digarap sedemikian rupa oleh Akash. "Ish, jangan deket-deket." Vani mendorong Akash menjauh dari perutnya.

"Iya-iya. Bumil itu kalo marah bikin takut." Gumam Akash yang masih bisa didengar oleh Vani.

"Apa?" Bukan berkaca-kaca lagi, tapi sekarang Vani sudah menangis membuat Akash panik sendiri dan mendekatinya.

"Eh, jangan nangis, maaf. Maksud aku gak Kayak gitu."

Tangan Vani berusaha menghindari Akash yang akan menyentuhnya. Tapi kemudian tidak bergerak sama sekali saat Akash meraihnya, membawa Vani ke dalam pelukan.

Ini melupakan pelukan pertama mereka setelah tiga bulan menikah. Biasanya hanya akan ada elusan di kepala Vani, tapi saat Vani merajuk seperti ini Akash harus memenangkannya. Akash juga tadi merasa bahwa Vani sedikit terkejut saat dia memeluknya tadi. "Maaf, nanti habis ini kita beli es krim ya."

"Serius?" Akash terkekeh melihat Vani yang antusias mendengar kata es krim. Akash mengangguk, membuat Vani mengangkat jari kelingkingnya. "Janji?"

"Janji," Jawab Akash dan mengaitkan jari kelingking mereka.

***

Tbc...

Vanilla (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang