Setelah beberapa hari penuh pertimbangan, akhirnya Vani memutuskan untuk menceritakan pada Akash tentang pengiriman video yang dilakukan Alvin. Pagi ini saat Akash sedang bersiap untuk berangkat kerja, Vani menahannya. Dia ingin mengatakan sesuatu dan harus sekarang juga, atau nanti dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," Kata Vani.
"Mau ngomong apa?" Tanya Akash, dia melirik alrojinya. "Aku buru-buru nih, soalnya kata Doni kafe lagi rame. Gimana kalo nanti aja, sepulang aku kerja?"
Vani menimbang sebentar usul Akash, karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Lagi pula Akash sedang terburu-buru, jika menceritakan hal itu sekarang Vani takut Akash tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya.
Dilihatnya Vani mengangguk, Akash segera pamit. Tinggallah dia seorang diri, kadang Vani membutuhkan seorang teman yang bisa diajak mengobrol, ingin menghubungi Rania, dia takut menggangu temannya itu yang sedang mempersiapkan ujian kenaikan kelas. Jadi untuk membunuh waktu yang membosankan dan membuatnya melupakan teror Alvin, Vani mencoba menyibukkan diri dengan membuat berbagai macam kue kering kesukaan Akash.
Beberapa jam dia habiskan dengan membuat kue, tidak terasa sudah saatnya makan siang. Tapi, sebelum membuat makan siang, Vani memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena badannya terasa lengket oleh keringat.
Hanya memerlukan waktu sepuluh menit, Vani sudah keluar dan mengecek notifikasi di ponselnya, karena tadi dia sempat menawarkan pada Akash untuk mengantar makan siangnya. Tapi, dia mulai cemas saat bukan notifikasi dari Akash yang di terimanya, melainkan notifikasi dari nomer tidak dikenal, Alvin.
Lagi dan lagi mengirimkan sebuah video. Tadinya, Vani ingin mengabaikannya saja, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa ingin mengabaikannya. Dibukanya room chat tersebut, lalu dia mulai memutar video. Sebuah video yang berisi sebuah rumah, yang Vani kenali sebagai rumah yang sekarang dia tinggali bersama Akash.
Lima menit kedepan isi video tersebut masih sama, sampai pada pintu rumah terbuka dan keluarlah dia yang sedang menyapu halaman, menyiram tanaman dan berbagai kegiatan yang dia lakukan pagi tadi. Kemudian video itu berakhir dengan kata-kata dan suara Alvin diakhir video yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Calon ibu dan istri yang berbakti pada suami. Gimana kalo gue mau posisi suami lo sekarang? Entah itu maksa lo buat cerai sama dia atau..." Kalimat selanjutnya Vani tunggu dengan harap cemas, apa yang akan dilakukan Alvin pada Akash nanti. "Buat suami lo lenyap dari dunia ini?"
Tanpa berpikir ulang, setelah memasukkan sejumlah uang pada tas dan ponsel Vani bahkan melupakan perut buncitnya keluar dari rumah dan berlari mencari taksi atau kendaraan umum agar segera menyusul Akash ke kafe. Belakang ini kafe selalu ramai dan Vani tidak mendapati keberadaan Akash saat dia baru saja menginjakkan kaki disini.
"Akash mana?" Tanya Vani saat memberhentikan Doni yang berjalan menuju pelanggan.
"Diruangannya," Jawabnya singkat.
Seperti perkataan Doni tadi, Vani segera menyusul Akash yang berada diruangannya. Disana, tampak beberapa kertas bertebaran diatas meja, dengan Akash yang sedang terduduk lesu. Kepalanya mendongak, tatapan mereka bertemu beberapa saat dengan Akash yang terkejut akan keberadaan Vani.
"Kamu kenapa?" Vani bertanya sambil menghampiri Akash yang duduk di sebelahnya.
"Gak apa-apa," Jawabnya, lalu melanjutkan. "Kamu kenapa kesini?"
"Ah, itu-"
"Oh iya, aku lupa bales chat kamu. Maaf, aku sibuk banget."
"Iya, aku ngerti. Terus sekarang ada apa, ada masalah?"
Akash menghela nafas. Dia memijat keningnya, pusing karena keungan yang tidak sesuai dengan pengeluaran. "Kamu tahu, Om Dika?"
"Temennya Om Ibra,'kan?"
"Iya. Dia bantuin aku karena permintaan Om Ibra. Karena aku yang gak ngerti masalah keuangan gini, jadi ya aku terima tawaran dari Om Dika. Tapi, Kata Om Dika belakangan ini pengeluaran kafe gak sesuai dengan pendapatan. Padahal selama beberapa bulan ini kafe lumayan ramai. Aku gak ngerti, tapi kata Om Dika dia bakalan selidiki ini."
"Jadi, menurut kamu ada yang..."
"Tapi semua belum pasti. Semua ini buat aku pusing, sampe lupa bales chat. Maaf ya."
"Aku udah bilang gak apa-apa. Terus sekarang kamu udah makan?"
Akash menggeleng. "Aku gak nafsu makan, kepikiran terus sama masalah ini. Eh, tadi pagi ada yang mau kamu omongin. Ada apa?"
Vani mengerjap. Dia meneliti penampilan Akash yang sepertinya juga kurang tidur. Padahal selama ini semua terasa baik-baik saja, tapi ternyata Akash pun mempunyai masalah sendiri. Jadi Vani mengurungkan niatnya untuk memberitahukan masalah tersebut. "Gak ada. Kalo gitu kita makan siang dulu yuk! Aku mau bakso yang di depan itu lho."
"Kamu aja ya, aku gak laper."
"Kok gitu?" Vani kesal, dia mencebikan bibirnya. "Ya udah, aku juga gak mau makan."
Vani membelakangi Akash, dia melipat kedua tangan di depan dada. Merajuk.
"Oke-oke. Ayo kita makan." Akash berdiri dan membantu Vani berdiri, senyum langsung saja terukir saat Akash menggandnegnya menuju tukang bakso.
"Sayang, hari ini kita makan bakso." Batin Vani seraya mengelus perut buncitnya. Biarlah untuk saat ini dia melupakan masalahnya, walaupun dia juga membutuhkan tempat untuk bersandar, tapi bagaimana jika tempat yang ingin dia jadikan sebagai sandarannya juga membutuhkan tempat sandaran. Jadi, sepertinya selagi Alvin tidak mengancam hal-hal yang membuat mereka dalam bahaya Vani rasa, dia bisa melupakannya.
Untuk saat ini tapi tidak jika orang yang dia sayangi terancam nyawanya. Karena pada saat hal itu terjadi, dia tidak akan melupakannya begitu saja.
Saat sampai ditempat tukang bakso, tadinya Akash berencana untuk menemani makan bakso, tapi karena paksaan Vani akhirnya mau tidak mau Akash juga memesan satu mangkuk bakso.
Selama makan mereka hanya mengobrol ringan. Mulai dari nama tukang bakso yang ternyata hampir sama dengan tukang mie ayam, jika nama tukang mie ayam bernama Rasman, maka tukang bakso yang sekarang sedang melayani pembeli tersebut bernama Rusman.
"Jadwal periksa kandungan kapan?" Akash menanyakan tersebut saat teringat Vani belum memeriksakan kandungannya.
"Kalo gak salah nanti tanggal enam."
Akash menganggukkan kepalanya. "Kamu yakin gak mau tahu jenis kelamin baby?"
"Gak. Biar nanti surprise, kalo masalah nama berarti kamu harus siapin dua. Cewek sama cowok, siapa pas mereka lahir kamu tinggal kasih nama mereka. Pokoknya, harus di siapin dari sekarang."
"Hmm. Iya."
Saat berbincang dan mulai menyudahi makan siangnya. Akash berdiri akan membayar saat suara seseorang membuatnya membeku di tempat.
"Kak Akash?"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla (COMPLETED)
Novela JuvenilHamil sebelum menikah apalagi saat SMA, Vani tidak pernah merencanakannya. Terpikirkan pun tidak. Rencana untuk masa depannya sudah tersusun rapi walaupun orang tuanya yang merencanakan. Tapi sekarang ia hamil dan Alvin yang seharusnya bertanggung j...
