Maaf telat update
***
Beberapa hari belakangan ini Vani tidak bisa tidur dengan nyenyak. Teror yang dilakukan oleh Alvin tidak sampai pada video kemarin saja. Ada beberapa pesan teks yang dia kirimkan mulai dari menanyakan kabar bahkan menanyakan berapa usia kandungannya. Tidak hanya pesan teks, panggilan suara dan panggilan video pun kerap dilakukannya, yang tentu saja Vani abaikan. Entah mendapatkan nomornya dari mana, Vani tidak tahu.
Vani pikir. Jika dia mengabaikan semua yang Alvin lakukan, Alvin akan bosan sendiri. Tapi, perkiraan Vani salah. Setelah menolak panggilan video dari Alvin untuk yang terakhir kali, ponselnya berbunyi. Tanda pesan masuk. Sebuah video yang membuat Vani nantinya berdebar dua kali lipat.
Sebelum memutar video tersebut, Vani terlebih dahulu melirik Akash yang masih tertidur pulas disampingnya, karena ini masih jam tiga lewat lima dini hari.
Di video tersebut, seperti video pertama yang dia dapatkan lewat Flashdisk semua nampak biasa-biasa saja. Vani mencoba memutar otak, mengingat kembali dimana ruangan tersebut, lalu matanya seketika membelalak saat dia ingat bahwa itu adalah rumah Alvin, atau lebih tepatnya kamar milik Alvin.
Jantungnya kembali berdebar tidak sesuai ritmenya. Dan saat pintu kamar tersebut terbuka, dia orang masuk ruangan tersebut. Itu dirinya dan Alvin. Disana, Vani terlihat sedang tidak sadarkan diri. Lalu, Alvin membaringkannya diatas tempat tidur. Tak hanya sampai disitu, Alvin mencoba membuka seragam sekolah yang masih dikenakannya. Padahal di dalam video tersebut terlihat Vani yang mencoba melawan Alvin, tapi dikarenakan kondisinya yang sedang tidak berdaya, perlawanannya tidak berarti apa-apa.
Vani ingat video ini. Dan dia pun ingat video yang Alvin kirimkan kemarin. Kedua video tersebut, kedua video tersebut yang kerap kali Alvin gunakan untuk mengancamnya.
Ingatan Vani kembali berputar beberapa bulan ke belakang. Saat itu, Alvin yang mengantarnya sepulang sekolah, meminta izin untuk menggunakan kamar mandinya. Vani tentu tidak merasa curiga, dia menyuruh Alvin menggunakan kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Soalnya, kamar mandi yang di sebelah dapur pintunya belum diperbaiki." Ucap Vani saat itu.
Beberapa hari setelah itu, Alvin mengajak Vani ke rumahnya terlebih dahulu sebelum mengantar pulang. Rumahnya sepi. Vani ingat bahkan asisten rumah tangga yang berada di rumah itu sudah pulang, padahal biasanya mereka akan menginap disana.
"Oh, itu. Anaknya Mbok Inem lagi sakit. Jadi minta izin buat pulang lebih awal." Perkataan Alvin saat itu masih teringat.
Vani tentu tidak merasa curiga, dia duduk di sofa menunggu Alvin mengambilkan minumnya. Minuman yang Alvin sediakan membuat Vani mengernyitkan kening. Sejenis minuman yang belum pernah dilihatnya, karena Alvin membawanya beserta botol dan dua gelas kecil.
"Itu minuman apa?" Tanya Vani pada saat Alvin duduk di sebelahnya, dan menuangkan minuman tersebut ke dalam dua gelas.
"Wine. Minum dulu." Jawabnya enteng.
Wine? Disuguhkan untuk tamu perempuan yang datang ke rumahnya, maksudnya?
"Gak deh kalo gitu. Aku mau pulang kak."
"Minum dulu," Ucap Alvin, dia meletakkan gelas yang berisi wine tersebut ditangan Vani. Yang tentu saja Vani langsung kembali meletakkannya.
"Aku mau pulang kak." Disitu, Vani merasa takut. Apalagi melihat tatapan Alvin yang begitu berbeda. Tidak lagi membuatnya damai. Sekarang tatapan itu membuatnya takut.
"Oh, kalo gitu kamu harus nonton video ini dulu deh."
Lalu Alvin megeluarkan ponsel yang berada di saku celana sekolahnya. Tadinya Vani tidak tertarik, tapi saat dia yang berada di dalam video tersebut dalam kondisi... Tidak memakai pakaian, dia langsung melayangkan tatapan terkejut pada Alvin. "Ini... apa kak?"
Alvin balas menatapnya. "Video. Video kamu lagi mandi. Kenapa?"
"Maksud aku... Kenapa kak Alvin punya video ini?"
"Karena aku punya kamera disana. Bukan cuma video ini sih, masih banyak. Kamu mau lihat semuanya?"
"Aku mau pulang." Putus Vani berdiri dari duduknya. Tapi, tarikan tangan Alvin menghentikannya, membuatnya kembali terduduk di tempat semula.
"Minum dulu. Nanti aku antar pulang."
Sontak Vani menggeleng. "Gak mau," Tolaknya dengan tegas.
"Kalo gitu...," Alvin sengaja menggantungkan kalimatnya. "...Gak masalah dong, kalo video ini tersebar kemana-mana. "
"Kak. Please, jangan kayak gini."
"Ya, kamu harus minum."
"Gak mau."
Alvin mengambil gelas tersebut dan mencengkeram kedua pipi Vani agar mulutnya terbuka, lantas dia langsung meminumkannya pada Vani. Bukan hanya satu gelas. Tapi beberap gelas, membuatnya tidal sadar. Dan, saat dia sadar dari tidurnya. Semuanya sudah berubah. Bukan hanya makar yang di tempatnya, tapi bercak darah yang ada diatas sprei, keadaan badannya yang hanya terbungkus selimut juga, perasaannya yang sudah berubah saat itu juga.
Vani pulang dengan keadaan hancur. Dia berusaha menahan penting di kepalanya dan ingin segera pergi dari sini. Meninggalkan seorang bajingan yang masih tertidur lelap disisinya.
Beberapa hari setelah itu, Vani kira Alvin akan meminta maaf padanya, benar dia meminta maaf. Mengajaknya makan di sebuah restoran. Tadinya, Vani ingin menolak ajakan tersebut, tapi melihat tatapan Alvin yang begitu tajam membuatnya tidak bisa berkutik.
Dan, kejadian beberapa hari lalu kembali terjadi. Bukan dengan bergelas-gelas wine, tapi dengan obat tidur yang membuatnya kembali ke tempat dimana semuanya bermula. Vani yang tidak ingat apapun, segera Alvin sodorkan sebuah video yang berada di laptop nya. Video dimana, Vani yang tidak sadarkan diri dan Alvin yang... melakukan pemerkosaan padanya.
"Kalo sampe ada yang tahu kejadian ini. Semua video punya lo gue sebar luas."
Hari-harinya tidak pernah tenang, saat dia menolak sentuhan tangan Alvin dia akan mendapatkan ancaman serupa. Bahkan, kekerasan fisik kerap kali didapatkannya. Pernah saat itu, Vani menolak Alvin yang ingin menciumnya di perpustakaan sekolah. Sebuah buku tebal langsung mendarat diatas kepalanya. Vani bahkan menangis saat itu juga, tapi apa Alvin peduli? Tentu saja tidak. Dia meninggalkan Vani begitu saja.
Tadinya, Vani hampir menceritakan semuanya pada Rania. Hampir. Semua kata yan tertahan dukung lidah, akan terucap. Tapi, semua gagal saat Vani melihat keberadaan Alvin, seakan tahu dia disini dan akan menceritakan keburukannya.
"Kalo sampe ada yang tahu, lo bakalan tanggung konsekuensinya."
Kemudian, saat dia sudah tidak sanggup lagi akan sikap Alvin, Vani bahkan mengucapkan kata putus. Dan yang didapatkannya bukan persetujuan, melainkan tamparan keras di pipi kirinya. "Lo, gak bisa lepas semudah itu dari gue."
Semenjak hari itu kehidupan Vani seakan berbalik seratus delapan puluh derajat. Alvin pun berbeda, bukan sosok yang dulu sangat dia kagumi, melainkan sosok yang dia benci sampai hari ini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla (COMPLETED)
Novela JuvenilHamil sebelum menikah apalagi saat SMA, Vani tidak pernah merencanakannya. Terpikirkan pun tidak. Rencana untuk masa depannya sudah tersusun rapi walaupun orang tuanya yang merencanakan. Tapi sekarang ia hamil dan Alvin yang seharusnya bertanggung j...
