11. Rania dan Dito

5.2K 349 4
                                        

Typo Bertebaran!

"Udah gue bilang. Gue gak mau dan gak akan pernah mau. Lo udah buat gue kecewa, dan minta buat percaya lagi sama lo itu, gue gak bisa." Ucap Rania pada Dito yang sedang memohon padanya.

Rania itu sulit sekali percaya pada orang lain dan jika dia sudah percaya, dia akan selalu mempercayai orang itu. Bahkan kebohongan sekali pun. Contohnya Dito, dia itu dulu adalah pacarnya, sebulan yang lalu sebelum ketahuan jika dia menjadikan Rania hanya sebagai pelarian semata karena gagal move on dari mantannya. Meli.

Mungkin masih bisa dimaafkan jika hanya gagal move on, tapi masalahnya Dito bahkan sampai berselingkuh dengan Meli yang jelas-jelas sudah mempunyai pacar. Saat itu juga Rania minta putus, dan Dito dengan keukeuh tidak mau melepaskannya.

"Gue mohon, kasih gue satu kesempatan lagi," Dito terus memohon pada Rania yang sekarang sedang memalingkan wajahnya. "Gue janji. Gue janji bakalan setia sama lo." Lanjutnya, dia bahkan sampai menggenggam kedua tangan Rania.

"Lo tau gak sih, kemaren gue habis keracunan?" Tanya Rania

"Keracunan? Keracunan makanan?"

"Gue keracunan janji manis lo," Rania berujar sarkas. Dulu, saat awal pendekatan Dito berjanji akan selalu mencintai Rania, dan saat pacaran Dito juga berjanji tidak akan menyakitinya dan sekarang Dito juga bahkan berjanji akan setia setelah pengkhianatan yang dilakukannya. "Omong kosong."

Rania pergi begitu saja dari hadapan Dito. Suasana di tempat parkir memang sudah sepi, hanya terisi oleh beberapa sepeda motor siswa-siswi yang memang sedang ada ekskul, dan Rania yang hari ini memang tidak ada rapat Osis akan langsung pulang saat tadi Dito mencegahnya. Memintanya untuk mendengar penjelasan karena sebelumnya Rania bahkan tidak akan memandang wajahnya saat di kelas.

Dito berani karena saat itu dengan terpaksa Rania menghubungi Dito, agar memberitahu Akash jika dia diminta untuk datang ke ruangan Bu Sri. Rania terpaksa jujur saja, karena dia memang tidak mempunyai nomor ponsel Akash begitu juga teman yang lainnya. Jadi, dia menghubungi Dito yang menang teman dekat Akash di kelas.

Hari ini Rania akan bertemu dengan Vani. Jujur saja Rania terkejut Vani menghubunginya terlebih dahulu. Dia buruh penjelasan dari Vani karena kemarin menghilang begitu saja. Rania dan Vani akan bertemu di kafe yang lumayan jauh dari lingkungan sekolah. Itu keputusan mereka Vani, karena takut jika ada siswa-siswi yang bersekolah di sekolah yang sama dengan mereka mengetahui keberadaan Vani.

Rania sampai terlebih dahulu dan melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Pukul empat tigapuluh tujuh. Dia memesan sebuah minuman, haus karena berdebat dengan Dito tadi. Selagi menunggu Rania, menscroll sosial media miliknya dan tidak ada hal yang menarik disana.

"Ini pesanannya, silahkan dinikmati." Ucap seorang pelayan yang menyajikan minuman pesanannya.

"Terima Kas- Akash?" Tanya Rania begitu menyadari orang yang baru saja mengantarkan minuman miliknya. " Lo, kerja disini?" Dia bertanya untuk yang kedua kalinya.

Akash mengangguk dan segera undur diri karena ada yang akan memesan.

Suara lonceng pertanda seseorang yang datang, membuat Rania segera mengalihkan tatapannya pada Akash yang perlahan menjauh. Disana Vani tersenyum padanya dengan wajah penuh luka. Kenapa?

"Maaf telat." Ucap Vani, dia segera duduk berhadapan dengan Rania.

"Muka lo kenapa?" Tanya Rania pada Vani, tangannya hampir mencapai sudut kepala saat Vani berusaha menghindar dari sentuhan Rania.

"Gak apa-apa," Vani melihat sekeliling karena takut ada yang memperhatikan, pasalnya meja mereka tepat berada ditengah sehingga orang lain dapat leluasa untuk memperhatikan mereka. "Kamu udah lama? Udah pesan sesuatu?" Tanya Vani, mencoba mengalihkan pembicaraan Rania tentang lukanya.

"Enggak ko. Gue udah pesan, lo mau pesan apa?"

"Gak deh, aku gak mau pesan. Aku mau minta tolong sama kamu," Ucap Vani, tanya berbasa-basi ingin segera menyampaikan keinginannya. "Kamu bisa tolong aku cari kontrakan atau kost gak?"

Rania tersedak minumannya. Dia memandang Vani dengan penuh tanda tanya. "Ngapain pake cari kontrakan segala?"

"Ya, buat tempat tinggal lah." Ucap Vani, dia tidak menatap Rania karena takut. Entah takut karena apa, tapi yang pasti Rania akan segera mengetahui jika dia menyembunyikan sesuatu darinya.

"Bantar-bentar, sebelumnya ada yang mau gue tanya sama lo. Lo... beneran hamil?" Tanya Rania, dia memelankan kalimat terakhirnya, takut ada yang mendengar percakapan mereka.

Vani mengangguk seraya menunduk.

"Anak kak Alvin?" Pertanyaan Kedua Rania kembali dijawab Vani dengan anggukan. "Terus kenapa lo gak minta dia tanggung jawab?" Rania bertanya geram pada Vani yang masih saja menundukkan kepala.

"Udah, aku udah bilang sama kak Alvin." Ucap Vani dengan lirih, sakit mengingat respon Alvin setelah pengakuannya.

"Terus dia bilang apa? Dia pasti mau tanggung jawab 'kan? Kak Alvin itu orang yang bertanggung jawab, apalagi ini anaknya. Dia pasti bakal nikahin Lo."

Vani menggeleng. "Dia bahkan nyuruh aku buat aborsi."

Dapat Vani lihat Rania membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Seorang Alvin yang sangat baik, tidak dapat di percaya bahwa menyuruh Vani untuk menggugurkan kandungannya.

"Dan aku, ke tempat aborsi yang waktu itu kena penggerebekan," Vani masih ingat, jika saja Akash tidak datang menarik tangannya dan membawanya dari sana, entah apa yang akan terjadi.

"Serius? Lo kenapa gak cerita sama gue? Lo pasti selalu sendiri, terus nyokap sama bokap lo gimana? Respon dia gimana sama keadaan lo sekarang?"

Pertanyaan Rania bahkan sangat sulit untuk Vani ucapkan, walupun dia sudah mempunyai jawabannya. "Aku diusir."

"DIUSIR?" Teriakan Rania disertai gebrakan meja, sungguh sangat mengagetkan Vani dan beberapa pengunjung kafe lainnya. Rania hanya bisa meringis meminta maaf, lalu kembali memusatkan perhatian pada Vani. "Terus lo tinggal dimana?"

"Maka dari itu, aku mau nyari kontrakan. Please, bantuin aku ya."

"Kontrakan itu harus bayar, lo mendingan tidur di rumah gue aja."

"Gak," Vani menggeleng, menolak tawaran Rania untuk tidur di rumahnya. "Aku gak mau ngerepotin kamu sama keluarga kamu." Lanjutnya.

"Tapi,..." Rania menggantungkan pertanyaannya, membuat Vani penasaran apalagi raut wajahnya yang serius menatapnya. "Lo belum jawab pertanyaan gue, muka lo kenapa bisa sampe luka gitu?"

"Ini... ulah Kak Alvin," Ucap Vani seraya menunduk, dia mendongak untuk melanjutkan ucapannya. "Kak Alvin..." Lalu Vani mulai menceritakan kejadian kemarin malam. Dimana Alvin hampir memperkosanya dan menganiayanya karena Vani berusaha melawan.

Vani bahkan sampai menangis mengingat hal itu. "Kalo Akash gak datang, aku gak tau gimana nasib aku sekarang."

"Tunggu, Akash? Dia?" Tunjuk Rania pada Akash yang sedang melayani para pengunjung kafe.

"Akash kerja disini?" Bukannya menjawab Vani malah ikut bertanya.

"Dia yang nyelamatin lo?" Tanya Rania lagi yang dijawab Vani dengan anggukan.

Sura lonceng kembali membuat mereka mengalihkan pandangan, disana ada Dito yang sekarang memandang heran ke arah Rania. "LO NGIKUTIN GUE."

Lagi dan lagi Rania membuat para pengunjung memusatkan pandangan ke arah mereka. Membuat Vani ingin rasanya pergi dari sini dan tidak mengakui Rania sebagai sahabatnya.

***

Tbc
Maaf nih, gak double up.
Kapan-kapan aja ya.

Vanilla (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang