Banyak typo!
Malam ini terasa beda seperti seminggu belakangan karena Akash tidak ada di rumah. Kegiatan yang dilakukan Vani selama seminggu belakangan ini terasa membosankan padahal itu merupakan kegiatan sehari-hari yang kerap dia lakukan. Apalagi memasak, semenjak dia pulang terlambat Akash tidak pernah menyentuh makanannya.
"Van." Panggil Rania.
Saat ini Vani sedang membuat pisang goreng kesukaan Akash, dia sedang memikirkan kesalahpahaman antara mereka. Selama seminggu ini Vani terus merenung memikirkan apa yang harus dilakukannya agar Akash dan dia berbaikan. Lalu, dia juga harus menjelaskan kenapa malam itu dia bisa terlambat.
"Vani." Panggil Rania lagi.
Akash pun seharusnya menjelaskan dia bersama siapa saat itu, dan siapa anak yang di gendong perempuan tersebut. Vani bertanya-tanya, dia memikirkan kemungkinan jawaban yang akan Akash berikan padanya.
"VANI." Bentak Rania yang langsung saja membuat Vani tersadar dari lamunannya.
Dia mengerjap, memandang Rania yang saat ini tengah panik dengan mematikan kompor. " Ya ampun, pisang goreng lo sampe gosong karena kebanyakan melamun. Gue panggil dari tadi gak nyaut, ada apa?" Omelan Rania menelan di dua kata terakhir kalimatnya.
"Aku gak tahu," Vani menangis, dan Rania segera memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya. "Aku harus gimana? Akash, dia gak mau denger penjelasan aku."
"Sssttt... udah," Rania mendudukan Vani di meja makan. Dia menuangkan segelas air dan memberikannya pada Vani. "Minum dulu."
Setelah meminum air pemberian Rania, Vani mulai tenang. Dia tidak lagi menangis, tapi rasa sesak iu masih ada. "Aku mau minta maaf sama Akash, terus jelasin semuanya."
"Iya, tapi sekarang yang penting lo tenang dulu."
Ponsel di tangan Rania berdering, nama Mama terpampang jelas disana. Dia memberi isyarat pada Vani untuk mengangkat telepon, dan Vani menjawabnya dengan anggukan.
Jam tujuh empat puluh tiga menit, Rania kembali setelah dua menit berlalu daei hadapannya. "Van, gue pulang sebentar ya. Ada urusan, lo gak apa-apa, 'kan gue tinggal? Nanti balik lagi kok."
"Iya, gak apa-apa, kami hati-hati pulang nya ya."
Rania mengangguk. "Pasti. Kalo gitu gue pulang dulu ya. Jangan kemana-mana, jangan lupa juga pintunya kunci."
"Iya."
Sepeninggal Rania, Vani merasa sunyi dan karena sudah memantapkan hatinya untuk meminta maaf, dia segera berganti pakaian. Dia memakai dress selutut berwarna hitam dengan tangan panjang lalu dia juga memakai cardigan supaya lebih hangat, mengingat sekarang sudah malam. Padahal Akss selalu melarangnya untuk keluar malam, tapi Vani sudah memantapkan hati dan jika dilakukan seesokan harinya dia takut itu terlambat.
Vani mengambil sling bag berwarna putih yang tergantung dibelakang pintu kamar, tidak lupa dia juga memasukan uang dan ponsel kedalamnya. Tadinya, Vani akan mencari taksi lewat saja, mengingat dia tidak mempunyai aplikasi untuk memesan taksi online. Tapi, saat baru saja beberapa langkah dia berjalan, sebuah mobil hitam berhenti, tepat di sampingnya.
"Vani, mau kemana?"
***
"Lo gak bisa kayak gini terus," Ucap Restu. "Kalo dari kalian gak ada yang mulai duluan, masalah ini gak akan pernah selesai." Lanjutnya.
Saat ini mereka berdua sedang berada di Kafe, tepat diruangan Akash. Hari sudah malam, jam dinding menunjukkan angka sepuluh lima belas menit. Tapi, Restu sengaja menemani Akash seraya memberikan nasehat karena dia mendengar dari Rania, Vani tidak pernah berhenti khawatir. Apalagi sekarang sudah seminggu Akash meninggalkan rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla (COMPLETED)
Teen FictionHamil sebelum menikah apalagi saat SMA, Vani tidak pernah merencanakannya. Terpikirkan pun tidak. Rencana untuk masa depannya sudah tersusun rapi walaupun orang tuanya yang merencanakan. Tapi sekarang ia hamil dan Alvin yang seharusnya bertanggung j...
