Typo bertebaran!
Mata Vani mengerjap, menyesuaikan penglihatannya karena sinar yang keluar dari ventilasi yang berada tepat di atas jendela. Tirainya masih tertutup, namun suara khas pagi membangunkannya, terlebih ini bukan tempat tidur miliknya.
Vani duduk dari tempatnya tidur, dia mengedarkan pandangan menyapu sekeliling. Kamar Akash. Vani masih ingat kejadian semalam yang membuatnya harus menginap disini. Dan, seingatnya Vani tidur di luar, lantas kenapa pagi hari sudah kembali ke kamar lagi?
Mungkin Akash yang memindahkan, pikirnya.
Vani membereskan tempat tidur itu, lalu keluar dan terkejut saat dia melihat Akash yang sedang berbincang dengan seorang nenek. Neneknya? Dengan kikuk Vani menghampiri mereka, dan mereka berdua sontak memperhatikannya yang sekarangsedang menuju ke sana.
"Sudah bangun?" Tanya Nenek, dia kemudian mempersilahkan Vani duduk tepat di sebelah Akash dan dia, karena kursi meja makan baru saja bertambah satu. Akash yang mengambilnya tadi, sebelum Vani bangun. "Ayo, di makan sarapannya."
Vani mengangguk dan tersenyum tidak enak karena harus merepotkan Akash dan neneknya. Dia menghirup aroma nasi goreng tersebut dan seketika terasa mual. Berlari ke kamar mandi seraya menutup mulutnya, Vani memuntahkan isi perutnya.
Sejak hamil, Vani memang hampir tidak pernah memakan nasi. Baik itu nasi biasa, nasi goreng bahkan nasi uduk. Tapi nasi uduk Vani belum pernah memakannya. Akash menyusul saat Vani masih saja berusaha mengeluarkan sesuatu. Ia menepuk punggung Vani, dan membawa Vani keluar setelah berkumur.
"Masih mual?" Tanya Akash, dan Vani hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Maaf," Ucap Vani menyesal, karena membuat nafsu makan mereka menghilang. "Gara-gara aku... " Vani tidak melanjutkan perkataannya, dan sekarang menangis.
Akash dibuat tidak mengerti, wanita menang makhluk paling sensitif dan sekarang Vani lebih sensitif lagi karena sedang hamil.
"Lo jangan nangis, nanti nenek gue mikir macem-macem." Akash membujuk Vani agar berhenti menangis, apalagi sekarang mereka sudah kembali ke meja makan. "Duduk. Lo minum teh dulu aja, nanti gue beli roti."
"Vani kenapa? Kamu jangan kasar sama perempuan, ya." Nenek mencubit perut Akash yang membuatnya meringis kesakitan dan berusaha melepaskan cubitan nenek. "Kamu diapakan sama cucu nenek?" Tanya Nenek pada Vani yang menahan senyum, melihat Akash yang meringis kesakitan.
"Nggak nek," Akash mengelak, baik dari tuduhan nenek maupun dari cubitan dipinggang yang terasa semakin memutar. Nenek walaupun sudah menua tetapi tenaganya tidak bisa diremehkan. "Tanya aja sama Vani."
"Beneran bukan karena cucu nenek 'kan? Kamu jangan takut kalo dia nakal sama kamu."
"Akash gak ngapa-ngapain aku nek. Dia baik kok sama aku." Ujar Vani, meyakinkan nenek agar segera melepaskan cubitan karena wajah Akash yang memerah menahan sakit.
"Kamu gak bohong sama nenek?" Tanya Nenek pada Vani yang dibalas anggukan.
Cubitannya terlepas dan Akash segera berlari keluar rumah dengan alasan untuk membelikan Vani roti. Vani mulai berbincang dengan nenek, Akash sudah bercerita sedikit tentangnya, walaupun hanya garis besarnya saja. Dimulai dari Vani yang dirampok dan luka diwajahnya karena ulah preman saat dia mencoba melindungi diri.
Akash tidak menceritakan tentang Vani yang hamil, lalu diusir dari rumah dan hampir atau, dilecehkan oleh pacarnya. Ya, Vani dan Alvin masih berstatus pacar karena mereka memang belum putus.
Nenek orang yang sangat baik. Itu kesan pertama Vani tentang nenek Akash. Mungkin juga merupakan faktor dia tidak pernah atau jarang bertemu dengan nenek dan kakeknya. Nenek dan kakek dari pihak papa memang sudah meninggal saat dia masih kecil, sedangkan nenek dan kakek dari pihak mama berada jauh diluar kota. Jarang berkunjung dan tidak pernah dikunjungi, karena usia mereka yang memang sudah lanjut.
Perbincangan Vani dan nenek terintrupsi saat Akash kembali dengan sebuah plastik belanjaan. Dia menyodorkannya pada Vani, dan saat di buka didalamnya bukan hanya sebuah roti, tetapi juga sebuah dress motif bunga dengan pita yang melingkari pinggangnya. Warna hijau army. Sederhana namun Vani suka.
"Terima kasih." Ucap Vani dengan tulus pada Akash yang akan menuju ke kamarnya.
"Harganya emang gak mahal. Tapi, lumayan buat ganti baju."
Vani mengangguk.
"Gue mau berangkat kerja, lo disini jagain nenek."
"Akash, bisa bicara sebentar?" Tanya Vani
Akash berjalan menuju teras rumah disusul Vani yang sudah duduk bersisian. Hening. Tidak ada yang memulai obrolan walaupun tadi Vani yang meminta untuk berbincang berdua.
"Aku gak bisa terus-terusan ngerepotin kamu sama nenek," Ucap Vani. "Nanti aku mau cari tempat lain aja."
"Kemana?" Tanya Akash yang sekarang sedang melihat orang yang berlalu-lalang di pagi hari ini.
"Kemana aja, yang penting aku gak ngerepotin kalian berdua."
"Setelah itu?" Tanya Akash, dia menatap lawan bicaranya. "Rencana lo selanjutnya, gimana?"
"Aku belum tahu. Tapi yang pertama aku harus cari tempat tinggal dulu, sisanya aku bakal pikirin."
"Kenapa lo gak tinggal disini aja?"
Vani menggeleng. Bukankah dia sudah mengatakan tadi, jika dia tidak ingin merepotkan Akash dan nenek. Lebih baik mencari tempat lain walaupun ia tidak tahu bagaimana cara membayarnya nanti, karena ia tidak mempunyai pekerjaan.
"Aku gak mau ngerepotin. Aku disini cuma jadi beban kamu."
Pandangan Akash menerawang. Kicauan burung, suara tetangga yang memerahi anaknya, pedagang sayur yang menjajakan dagangannya, semua terdengar sampai suara Akash membuat Vani merasa bahwa dunia baru saja berhenti berputar.
"Gak akan ngerepotin, kalo emang lo mau jadi istri gue," Ucap Akash. "Gak usah guru-guru buat jawab," Potong Akash saat melihat Vani akan memotong perkataannya. "Pikirin mateng-mateng. Gue gak maksa, semua keputusan ada di tangan lo. Gue berangkat kerja."
Dan percakapan itu berhenti sampai disana. Dengan Vani yang masih terbengong bahkan setelah Akash sudah menghilang dari jarak pandangnya.
***
Part ini lumayan pendek, karena gak sampe 1000 kata.
Padahal udah agak males up juga karena liat jumlah vote yang gak bikin semangat.
Mau ngingetin juga kayaknya gak bakalan mempan, buat orang yang males Vote.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla (COMPLETED)
Novela JuvenilHamil sebelum menikah apalagi saat SMA, Vani tidak pernah merencanakannya. Terpikirkan pun tidak. Rencana untuk masa depannya sudah tersusun rapi walaupun orang tuanya yang merencanakan. Tapi sekarang ia hamil dan Alvin yang seharusnya bertanggung j...
