12. Meminta Izin

5.2K 352 3
                                        

Happy Reading ♥️

"Gue gak ngikutin lo, tapi karena lo ada disini jadi, gue mau duduk disini juga. Boleh 'kan Van?"

Pertanyaan dari Dito tidak selaras dengan dirinya yang sudah duduk terlebih dahulu tanpa di persilakan. Ekspresi Vani biasa saja saat Dito sudah duduk, berbeda dengan Rania yang memasang ekspresi dongkol dengan kehadiran Dito yang tidak diundang, dan dianggap mengikuti dirinya.

Akash datang ke meja mereka, karena Dito yang memanggil.

"Kamu kerja disini?" Tanya Vani begitu Akash menghampiri meja mereka.

"Iya, mau pesan apa?" Tanya Akash pada Dito yang memegang buku menu.

"Kayak biasa aja," Ucap Dito seraya memberikan kembali buku menu pada Akash. "Jangan lama-lama Kash, gue haus banget abis debat sama mantan yang bentar lagi balikan."

"Eh, siapa juga yang mau balikkan sama lo," Ucap Rania, merasa bahwa sindiran Dito tadi tertuju padanya. "Kege-eran."

"Gue bukan kege-eran, tapi itu emang sebuah keharusan yang harus dilakukan."

"Gila lo. "Ucap Rania pada Dito

"Gue gila karena lo." Balas Nya dengan pandangan penuh cinta pada Rania yang memasang ekspresi ingin muntah.

"Lo bisa pergi dari sini gak sih? Eneg gue liat muka lo."

"Gak," Dito menggeleng, dia tetap pada pendiriannya, bahkan sekarang dia dengan santai mengobrol dengan Vani. Entah membicarakan apa karena Rania tidak peduli.

Akash datang membawakan pesanan Dito dan satu minuman lainnya untuk Vani. "Aku gak pesen, soalnya udah minum tadi."

"Gue traktir." Ucap Akash, lalu saat akan pergi dari sana Vani menghentikannya. "Ada apa?" Tanya Akash.

"Kamu pulang jam berapa?" Tanya Vani

"Jam sepuluh malem. Kenapa?"

"Bisa bicara sebentar?" Tanya Vani pada Akash yang sekarang sedang meneliti suasana cafe saat ini. Lumayan ramai.

"Lima menit lagi." Ucap Akash, lalu melanjtkan. "Gue istirahat lima menit lagi."

"Oke," Vani mengangguk seraya tersenyum setelah Akash kembali melayani para pengunjung.

Seperti perkataan Akash tadi, lima menit kemudian dia sudah memasuki waktu istirahat dan mereka berdua mengobrol. Tidak didalam mereka mengobrol di depan, dimana ada bangku yang tersedia untuk sekedar duduk beristirahat.

Vani meninggalkan Rania dan Dito berdua saja. Entah apa yang akan terjadi jika mereka hanya berduaan, tapi sepertinya tidak akan terjadi apa-apa karena pengujung lumayan ramai. Biasanya Rania sedikit lebih menahan amarahnya terhadap Dito.

"Kamu kerja dari pagi sampe malem?" Tanya Vani memulai pembicaraan. "Terus nenek dirumah sendiri?" Lagi Vani bertanya yang masih belum dijawab oleh Akash yang sedang memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang.

Akash mengangguk. "Kalo soal nenek, nanti biasanya ada temen gue atau mamanya ke rumah buat periksa keadaan nenek."

Vani membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O' seraya mengangguk.

"Emang ada apa?" Tanya Akash yang sekarang menatap Vani, dapat dilihat Vani seperti gelisah ingin mengatakan sesuatu.

"Aku mau berterima kasih sama kamu, karena udah nampung aku tadi malem. Terus sekarang aku mau cari kontrakan atau kost supaya gak ngerepotin kamu sama nenek." Jelas Vani.

"Lo gak ada niat buat pertimbangin tawaran gue?" Akash bergumam, kepalanya menunduk memperhatikan jari-jarinya yang saling menaut.

"Kamu gak ada hubungannya sama apa yang terjadi sama aku. Dan kamu juga gak punya kewajiban untuk mempertanggung jawabkannya." Ucap Vani, dia menghela nafas sejenak seraya tersenyum tulus. "Tapi sekali lagi terima kasih atas tawarannya."

"Gue cuma mau lindungin lo dari orang-orang brengsek semacam Alvin. Tapi, gue bahkan gak punya hak buat itu karena lo bukan siapa-siapa gue."

"Kenapa?" Vani bertanya dengan air mata yang menggenangi matanya. "Kenapa kamu mau lindungin aku? Kenapa kamu peduli sama aku?"

Akash menghela nafas berat, ingatannya menerawang pada peristiwa di masa lalu. Rasa sesaknya masih terasa sampai sekarang. Dia tidak ingin Vani merasa apa yang pernah dirasakannya dulu.

"Karena gue gak mau lo ngerasa sendiri. Gue gak mau lo ngerasa jadi orang yang gak punya siapa-siapa di dunia ini." Nafas Akash memburu seiring dengan kalimat yang dilontarkannya. "Dan dengan nikah sama lo gue punya kewajiban buat lindungin lo sama anak lo. Tapi gue gak maksa, semua keputusan ada di tangan lo."

Vani diam. Dia tidak menjawab perkataan Akash tetapi isak tangis berusaha ditahannya. Disaat Alvin tidak menginginkannya, disaat orang tuanya mengusirnya dari rumah, ternyata ada Akash yang mengulurkan tangan. Dia menawarkan perlindungan yang tidak didapatnya, bahkan dari orang tuanya sekalipun.

"Lo mungkin gak butuh gue, tapi pikirin masa depan anak lo nanti. Dia butuh sosok ayah dan lo pun butuh sosok suami yang akan selalu ada buat kalian berdua. Gue mungkin bukan orang yang baik, tapi gue akan berusaha. Sekarang gue gak ngasih lo penawaran, tapi..." Akash menggantung ucapannya, dia sudah menetapkan hati bahwa ini keputusan yang terbaik.

"... Gue mau minta izin sama lo. Izinin gue buat jadi sosok ayah dan suami yang baik buat kalian berdua." Lanjutnya.

Bukannya Akash memendam perasaan cinta pada Vani, dan Vani pun pasti tidak merasakan perasaan itu terhadapnya. Tapi, keputusan ini dia buat karena Vani merupakan sosok yang sangat baik dimatanya. Dia sosok wanita yang tegar ditengah terjangan badai ini. Akash hanya ingin melindunginya, Akash hanya ingin membuat Vani tidak terlalu memandang buruk dunia yang seakan tidak adil terhadapnya.

Akash memandang Vani yang sekarang bahkan terisak. Tangisan pilu tersebut mampu menyayat hatinya. Vani, wanita tegar ini mengingatkan Akash akan ibunya yang telah pergi. Ibu yang bahkan tidak meminta pertolongan pada siapapun disaat dia sedang dalam keadaan terburuk. Dia selalu berusaha tegar agar Akash tidak melihatnya sebagai sosok yang rapuh dan butuh bahu untuk bersandar.

Akash tahu. Akash tahu ibu sering menangis di dalam kamarnya saat Akash sudah tertidur. Akash tahu ibu sering meminum obat tidur karena dia tidak pernah nyenyak dalam tidurnya, lalu... Dia juga tahu kalau ibu meninggal bukan karena penyakitnya.

Vani adalah seorang wanita yang akan Akash lindungi sekuat tenaga. Maka dari itu, dia menggenggam tangan Vani yang digunakan untuk menutup wajahnya. Dibawanya tangan tersebut kepangkuannya. "Kalo kita nikah, walaupun status kita sebagai suami istri, tapi lo tetap bisa anggap gue temen lo. Gue mau nikah sama lo, supaya lo gak jadi gunjingan masyarakat. Jadi, gue mohon, izinin gue buat jadi suami dan ayah buat anak lo."

"Tapi kenapa? Aku masih gak ngerti kenapa kamu mau nikah sama aku yang jelas-jelas..." Vani tidak melanjutkan ucapannya, dia menangis tersedu-sedu. Haruskah Vani menganggap dia adalah orang tersial di dunia karena harus dipertemukan dengan Alvin, atau haruskah Vani menganggap dia adalah orang paling beruntung di dunia karena dipertemukan dengan Akash, seorang malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untuknya, disaat orang-orang tidak menginginkannya.

"Gue cuma butuh jawaban lo. Gue gak butuh penjelasan tentang kekurangan yang ada di diri lo, karena gue juga bukan manusia sempurna dan manusia gak ada yang sempurna." Akash mengusap air mata yang membanjiri kedua pipi Vani. "Ya atau gak?" Tanya Akash.

Mereka saling menatap dengan pandangan berbeda. Vani yang masih ragu akan keputusannya dan Akash yang berusaha meyakinkan Vani bahwa semua akan baik-baik saja. Dua manusia yang sedang mencari jawaban kenapa dunia seakan tidak adil bagi orang yang lemah.

Tapi, Vani hanya ingin yang terbaik. Akankah Akash bisa menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi mereka berdua? Haruskah Vani menerimanya atau bahkan menolaknya karena Akash bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab untuknya.

Vani hanya berharap keputusan yang diambilnya tidak akan membuatnya menyesal seumur hidup.

***

Tbc...
Hai semuanya, aku balik lagi.
Maaf banget gak bisa update soalnya belakangan ini repot banget di rumah
Ini nyempetin buat update supaya kalian gak lupa sama cerita ini.

Jangan lupa vote dan komen ya.
See you next Part.

@Rinai95_






Vanilla (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang