31

910 139 15
                                        

.













.















.

"Nona....!!! Nona....!!! Nona Muda ada di mana?!!!" Jisong datang tergopoh gopoh di pondok kecil itu dan terus memanggil tuannya.





Yeji muncul dari arah belakang pondok memandang pengawalnya itu bingung.





"Jisong.., kau sudah kembali. Di mana Jeongin? Dan di mana buruan yang kau janjikan pagi tadi?" tanya Yeji terheran, tidak biasanya Jisong pulang dengan tangan kosong.






"Tidak ada buruan, nona. Sekarang lebih baik ayo kita segera pergi dari sini." Jisong berkata tergesa.






"Ada apa?" Yeji bertanya lirih merasakan pertanda buruk dari ucapan sang pengawal.





"A...," belum sempat Jisong mengucap sepatah kata.







Tiba-tiba segerombolan pria bercadar hitam mengepung pondok ini dan melempar jasad Jeongin yang tak lagi bernyawa di tengah halaman. Jisong langsung menarik Yeji ke belakangnya. Membuat pertahanan diri.







"Jeongin!!!" Yeji berteriak histeris ingin mendekat ke arah Jeongin.











Namun Jisong menahannya.





"Nona, jangan mendekat ke sana!!"







"hhhh..., me-mereka siapa Jisong? Kenapa mereka membunuh Jeongin? Apa mereka perampok yang ingin mengambil harta kita? Bahkan kita tidak punya apa apa?" dengan napas yang sudah memburu ketakutan, Yeji bertanya kepada Jisong.








"Bukan, nona. Mereka adalah tentara bayaran yang sedang memburu keberadaan, Anda. Jadi Anda, tidak boleh jauh dari saya. Saya  akan melindungi, Anda sampai titik darah pengabisan."








"Bagaimana kita akan selamat Jisong? Mereka sangat banyak. Kau sendirian." Yeji memegang baju belakang Jisong erat erat. Ia ketakutan.







"Saya akan berusaha." tegas Jisong.





Pertarungan sengit yang tak seimbang itupun tidak bisa terhindarkan. Jisong sangat kewalahan menanganinya. Dia kalah jumlah juga kalah konsentrasi karena keseharusannya melindungi Yeji. Cukup lama pertarungan itu terjadi hingga Jisong benar-benar menyerah dengan keadaan. Di terluka parah dan kehilangan banyak darah.






"Hiks..., Jisoong....,"






"A.. Ma-maaf-kan s-saya, nona...," Jisong menghembuskan napas terakhirnya setelah mengatakan itu.










"Tidak!!!! Jisong!!!! Jangan tinggalkan aku sendiri!!! Hiks..., jangan!!!" Yeji menangis atas kematian satu satunya orang yang menjaganya saat ini. Sekarang dia tidak punya siapa siapa lagi. Kakaknya juga entah di mana keberadaannya.








"KENAPA KALIAN MEMBURU KU?! AKU BUKAN PENJAHAT!!!" Yeji berteriak marah di depan pria pria bercadar hitam itu yang hanya berdiri diam saja. Tidak ada satupun yang mencoba menyentuh nya seperti perkiraan sebelumnya.







Namun setelah teriakan itu seorang pria lain datang. Pria itu berpakaian berbeda sekali dari pria pria bercadar itu. Pria itu berpakaian sutra mahal khas bangsawan. Yeji bingung kenapa pria itu datang.









"Kenapa kau harus menangis untuk kematian budak mu? Itu tidaklah penting." ucapnya meraih tangan Yeji dan menciumnya.






Yeji terkejut dan langsung berusaha menarik tangannya. Namun pria itu menolak melepaskan tangannya dan malah menggenggamnya erat.







"Lepas!!! Lepas!!! Lepaskan tangan saya!!! Anda ini  siapa, tuan?" Yeji kekeuh melepaskan genggaman itu.





"Aku? Apa kau tidak tahu siapa aku?!"







"hhh...,"  Yeji tidak menjawab, hanya napasnya yang terengah berat yang terdengar.








"MALAM INI KITA AKAN BERMALAM DI SINI!! SIAPKAN PENJAGAANNYA!!!"








"Baik, Yang Mulia." semua pria berbaju hitam itu menjawab patuh pria di depannya. Yang tak lain adalah sang raja,Lee Yongbok.










Setelah perintah itu, semua pria bercadar hitam itu bubar membentuk penjagaan di sekitar podoknya. Sedangkan Yongbok yang masih memegang tangan Yeji itu beralih memegang punggung dan kaki Yeji. Kemudian mengangkatnya begitu saja, membawanya berjalan masuk ke dalam pondok.







"Buka pintunya!!!"







Pintu di buka dengan segera oleh pria bercadar hitam di dekat pintu. Kemudian Yongbok masuk ke dalam pondok itu. Namun sebelum pria itu melangkahkan kakinya melewati pintu, ia berkata sesuatu yang membuat Yeji bertambah bingung dengan kelakuan orang yang di panggil Yang Mulia ini oleh para pembunuh pengawalnya. Yeji belum sadar jika pria ini adalah rajanya. Raja kejam yang selama ini mengincarnya.








"Jangan ganggu aku sampai aku keluar dari sini!" kata Yongbok menyunggingkan seringgaiannya lalu masuk.







Orang itu kemudian segera menutup pintu membiarkan Yongbok berdua saja bersama Yeji di dalam pondok itu. Entah apa yang akan di lakukan pria itu nanti sehingga tidak ingin di ganggu.

Tbc

Jisong
19 tahun

Jisong19 tahun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HwangieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang