. "Anda datang, Yang Mulia." Hyunjin berdiri dari duduknya begitu melihat Yongbok masuk ke dalam kamarnya.
"Kau terlihat antusias sekali, selir Hwang. Apa kau menunggu ku sedari tadi?"
"A.., itu..," Hyunjin bingung akan menjawab apa. Tidak mungkin kan ia menjawab iya. Ia takut nanti malah menimbulkan kesalahpahaman.
Yongbok tersenyum, mendekat ke arah sang selir. Memeluk pinggangnya dan membawa tubuh itu duduk bersamanya. Oh.., lebih tepatnya duduk di atas pangkuannya. Adegan yang cukup intim memang. Tapi sialnya, kenapa tubuh Hyunjin tak mencoba menghindarinya? Justru hatinya malah terasa bahagia. Apa apa'an ini?! Hyunjin terus mengerutui dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa memiliki perasaan aneh terhadap pria yang amat dia benci seumur hidupnya. Pria kejam yang telah membunuh kedua orang tuanya. Juga pria yang memisahkan dirinya dengan sang adik.
"Yang Mulia...," Hyunjin bergumam lirih, tak mampu berkata kata. Sorot mata itu mengunci pandangannya. Membuat dirinya seakan terserap dalam poros onix gelap tersebut. Tidak..!! Tidak!! Ini tidak boleh dilanjutkan. Dia tidak selemah ini kan?
"Ingat Hyunjin, dirimu seorang putra Hwang yang tangguh dan pemberani. Kau tidak boleh bersikap seperti ini kepada bajingan yang telah melenyapkan kehidupanmu!!!" sugesti Hyunjin pada dirinya sendiri.
Kemudian dirinya langsung berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Yongbok. Namun, ternyata pria itu sama sekali tidak mengijinkannya bergerak barang sesenti saja. Dia memeluknya erat sekali.
"Tolong lepaskan saya, Yang Mulia." pintanya.
"Kenapa harus? Kau selir ku, Hyunjin. Tak ada alasan bagimu menolak ku. Seperti di taman waktu itu, kau bilang, kau milik ku bukan? Sebagai seorang milik, kau harus patuh terhadap pemilik mu."
Hyunjin tertegun mendengar jawaban itu. Dia memang pernah mengatakan itu kan. Tapi ia tak memaksudkan nya seperti ini.
"Tapi saya tidak nyaman seperti ini, Yang Mulia." jujur Hyunjin.
"Kau hanya belum terbiasa ku manjakan, Hyunjin. Belajarlah terbiasa mulai sekarang! Karena aku akan lebih sering bersamamu dibanding dengan yang lainnya."
"Maksud, Anda?"
"Kau lupa yang aku bicara semalam? Aku akan bermalam di sini menemani mu dan dan pangeran."
"Tapi Anda, tidak perlu melakukannya, Yang Mulia."
"Aku ingin dekat dengan pangeran ku. Apa tidak boleh?"
"..." Hyunjin diam.
Yongbok menaruh dagunya dipundak Hyunjin dan berkata lagi,
"Apa Yoorim telah memberitahu mu tentang pernikahan kita?"
Ah.., iya. Bukankah dirinya ingin menanyakan hal itu kepada Yongbok saat bertemu. Ia penasaran alasan dibalik pengangkatan Bin ini.
"Sudah, Yang Mulia. Tapi...,"
"Kau ingin menanyakan sesuatu?"
"Kenapa Anda melakukan itu?"
"Apa kau tak senang dengan hal itu, Hyunjin?"
"Yang Mulia, apa Anda tidak memikirkan perasaan selir lain? Anda terlihat pilih kasih sekali. Atau mungkin Anda sedang melakukan sesuatu dibalik pernikahan ini. Anda menyembunyikan sesuatu kan?"
"Kau sangat waspada sekali, Hyunjin. Aku tak sedang melakukan apapun itu. Hanya saja mungkin aku sedang jatuh hati pada mu dan ingin mengikat mu menjadi milikku."
"Bukankah seorang selir juga milik Anda, Yang Mulia. Anda tidak perlu menikahinya untuk bisa memilikinya."
"Kau benar. Tetapi aku ingat kesalahan ku sebelum ini. Keluarga mu menolak memberikan Yeji kepada ku untuk menjadi selir ku karena menganggap itu sebuah penghinaan bukan. Padahal aku benar-benar menyukainya. Oleh karena aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku akan menikahimu sebagai bentuk keseriusan hatiku. "
"Apa Anda tidak berbohong, Yang Mulia?"
"Apa aku terlihat berbohong, selirku?"
Hyunjin diam lagi tak menjawab semuanya. Ini terlalu mendadak. Pernyataan Yongbok sangat gila dan terlihat jujur tanpa ada kebohongan sama sekali di dalamnya. Dan yang paling bodoh adalah kenapa Hyunjin merasa bahwa itu benar. Dia mempercayai nya. Dan dalam sekejap perasaan bencinya musna seperti terkena sihir. Hyunjin jatuh terhadap pria itu. Lupa akan kejahatan pria itu dan melupakan jati dirinya sendiri. Benar-benar diluar nalar.
"Masuklah dan segera sajikan makan malamnya! Jangan berdiri di sana dan menunggu makanannya dingin!"
"Baik, Yang mulia." jawab pelayan di luar.
"Yang Mulia, saya ingin duduk sendiri." pinta Hyunjin yang tidak mau terlihat dalam posisi memalukan seperti ini di depan orang lain.
"Tetaplah di sini, Hyunjin."
"Tapi, Yang Mulia."
Yongbok tak menjawab dan memilih mengeratkan pelukan dipinggang Hyunjin. Ah.., sudah pasti Hyunjin tak bisa apa apa hingga pelayan di luar sana masuk dan menata makanannya. Hah..., Hyunjin benar-benar malu.
"Buka mulut mu, selirku! Aku ingin menyuapi mu."
"Ti-tidak perlu, Yang Mulia. Saya bisa melakukannya sendiri."
"Tapi aku ingin melakukannya untuk mu. Jadi jangan menolak ku lagi."
Mau tak mau lagi Hyunjin menurut lagi dengan Yongbok. Dia membuka mulutnya, menerima suapan itu. Hyunjin terjebak dalam rasa kegamangan di hatinya. Otaknya ingin mengingatkan dirinya. Namun kenyataannya, dirinya yang dulu telah sirna oleh pesona Yongbok beberapa menit lalu. Dia luluh dan seolah menjadi hamba penurut yang patuh kepada pria itu.
Tbc
Asyik, Hyunjin sudah masuk lubang buaya 😂😂😂
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.