.
.
.
.
"Uuuhmmm...,"
Hyunjin menahan mualnya begitu dia mencium aroma rempah masakan di depannya itu.
"Anda, baik baik saja Permaisuri Hwang?" tanya Heejin yang kebetulan duduk di dekat Hyunjin saat ini.
"Saya baik-baik saja, Selir Jeon." jawab Hyunjin.
"Apa Anda tidak berbohong Permaisuri Hwang? Anda terlihat pucat sekali. Jika Anda memang butuh istirahat, Anda boleh tidak menghadiri acara jamuan ini. Saya tidak masalah. Kesehatan Anda jauh lebih penting." sahut Yoorim yang juga menatapnya khawatir.
Yoorim memang sudah tidak terlalu membenci Hyunjin saat ini. Dia sudah sadar Hyunjin tidak bersalah atas semuanya. Lagipula dia juga tidak terlalu perduli dengan Yongbok sekarang. Saat ini tugasnya hanya menjadi ratu yang baik untuk kerajaannya saja. Tidak ada niat lebih lagi.
"Saya benar-benar dalam keadaan baik, Yang Mulia Ratu. Anda tidak perlu cemas."
"Baiklah.., tapi setelah ini jangan lupa memanggil tabib untuk memeriksa Anda, Permaisuri Hwang."
"Akan saya ingat saran, Anda."
Setelah kembali dari acara rutinan para istri raja itu. Hyunjin memanggil seorang tabib untuk memeriksa keadaannya. Sebenarnya dia merasa kalau gejala ini seperti pertanda bahwa dirinya tengah hamil lagi. Tapi dia tidak mau menyimpulkan lebih awal. Jadinya ia memanggil tabib untuk memastikan semuanya.
Dan ternyata dugaannya benar. Dia tengah mengandung adiknya pangeran Jeno sekarang. Hyunjin mengembangkan senyum indahnya. Ia sangat gembira sekali. Pasti rajanya akan sangat bahagia bila mendengar hal ini. Sesegera mungkin ia akan memberi kabar ini kepada Yongbok nanti.
"Terimakasih telah hadir, anakku."
.
.
.
.
.
"Aaarrkhhhh..., hah... hah.. hah.., apa aku akan melahir kan sekarang?!" Guman Yeji yang merasakan sakit di perutnya semakin menggila.
Yeji terjatuh bersimpuh diatas tanah sekarang. Dia sedang dalam pelarian sekarang. Setelah lama mencoba kabur dari para prajurit yang menjaganya. Baru lima hari lalu dirinya dapat terbebas dari tempat itu. Namun, tentunya dia tidak benar-benar bebas. Karena nyatanya sekarang ini dirinya sedang di kejar kejar oleh para pria itu.
"Hiks.., aku gak kuat. Bagaimana ini...?!! Aku tidak mau kembali di tempat itu lagi. Aku ingin bertemu kakak. Hiks.., kak Hyunjin di mana?" Yeji menangis tak kuasa dengan penderitaannya ini. Dia tersiksa karena kontraksi di perutnya. Juga kelelahan berlari berhari hari tanpa makan, dia lapar.
"Drap... Drap... Drap....," suara langkah kaki bersahutan membuat Yeji waspada.
"Itu pasti mereka. Aku harus pergi." Yeji mengusap air matanya dan segera bangkit namun gagal. Dia terjatuh lagi. Tubuhnya tidak mampu diajak berdiri lagi.
"Aaarkkhh...., SAKIIITT..., HIKSSS... SAKIIITT...," darah persalinan telah mengalir di kaki Yeji. Gadis itu benar-benar akan segera melahirkan sekarang.
Akibat dari teriakan kesakitan itu, para prajurit menemukan keberadaan Yeji. Sang tabib yang ikut dalam pengejaran itu, langsung berlari mendekat ke arah Yeji. Dan memeriksa keadaannya.
"Nyonya Hwang akan melahirkan komandan Song!" kata Doyoung yang melihat jelas darah itu.
"Apa...?! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?!" Mingi kelihatan kebingungan harus berbuat apa.
"Tolong segera perintah kan membuat tenda komandan. Kita akan membantu nyonya Hwang melahirkan di sini. Akan sangat terlambat jika kita membawa nya kembali ke pemungkiman. Nyawa nyonya Hwang dan anak nya menjadi taruhan nya."
Setelah tenda di buat, Mingi langsung memindahkan Yeji ke dalam tenda. Dan kemudian Doyoung membantu Yeji melahirkan anaknya itu. Mingi berjalan mondar mandir di depan tendanya. Ia resah sekali menunggu kelahiran anak tuannya tersebut. Hingga satu jam lamanya barulah suara tangis bayi terdengar. Mingi langsung masuk ke dalam tenda. Dan melihat bahwa seorang bayi telah berada dibopongan tabib Kim. Namun, ia melihat Yeji malah menutup matanya.
"Kenapa Nyonya Hwang menutup matanya, tabib? Apa terjadi sesuatu?" tanya Mingi panik.
"Tidak, komandan. Nyonya hanya kelelahan saja. Biarkan Nyonya beristirahat."
"Apa ini anak Nyonya Hwang?"
"Benar komandan. Nyonya Hwang telah melahirkan pangeran."
"Benarkah itu..? Aku akan mengutus salah satu prajurit ku memberikan kabar gembira ini kepada yang mulia."
.
.
.
"Apa Yang Mulia ada di dalam, kepala kasim?" tanya Hyunjin kepada pelayan suaminya itu.
"Ada Permaisuri, namun Yang Mulia sedang ada tamu sekarang."
"Siapa?"
"Seorang utusan, Permaisuri."
"Oh.., begitu. Bolehkah saya menunggu di dalam?" tanya Hyunjin lagi. Sungguh ia tak sabar ingin menemui Yongbok.
"Tentu saja, Permaisuri. Silahkan..,"
Hyunjin pun melangkahkan kaki nya ke dalam kamar suaminya itu. Senyum manisnya masih tersungging apik sebelum dia mendengar sesuatu yang tidak diinginkan nya itu di depan pintu. Hyunjin menggenggam tangannya kuat. Menahan tangis dan kekecewaan setelah mendengar kabar menyakitkan itu. Rajanya akan mengangkat seorang selir kerajaan baru.
"Jadi ini alasan Yang Mulia jarang menemuiku dua minggu ini. Ternyata ada orang lain yang memikatnya lagi." guman Hyunjin menahan tangisnya, kemudian segera meninggalkan tempat.
Sampai di dalam kamarnya sendiri, Hyunjin tidak kuasa menahan air matanya. Ia tahu, tidak berhak memiliki raja untuknya sendiri. Tapi karena kedekatan mereka sebelumnya, membuat dirinya menjadi sedikit merasa egois ingin menyimpan hati rajanya itu untuk dirinya. Dia tidak ingin berbagi. Namun, apa bisa? Dia tidak berhak atas semuanya.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Hwangie
Fanfiction😗 Btw ini crackpair Gak suka skip aja zheyeng 25sep20-25jan21
