21

1.1K 190 26
                                        

.









.












.

Hyunjin telah selesai bersiap untuk tidur saat mendengar suara kasim yang memberikan pengumuman kedatangan seseorang di paviliunnya. Tengah malam begini, diwaktu yang sudah seharusnya semua orang memejamkan matanya. Orang itu malah berkunjung di kediaman Hyunjin. Ada rasa tak suka muncul ke permukaan hatinya. Ini sangat mengganggu istirahatnya. Selain itu ia rasa tidak etis bila bertemu dengan seseorang hanya menggunakan pakaian tidur begini. Para dayang nya belum sempat memasangkan mantelnya ketika orang itu masuk dan menyuruh mereka segera meninggalkan ruangannya. Membawa serta mantel yang seharusnya terpasang apik di tubuhnya.





"Sepertinya, aku terlalu larut berkunjung. Apa aku mengganggu istirahat mu, selir Hwang?" kata pria itu setelah duduk tenang di tempatnya.





Hyunjin tersenyum kecil menanggapi hal itu. Dengan nada yang tak kalah tenangnya dia menjawab,




"Anda, lebih tahu segalanya, Yang Mulia." terlihat sekali nada ketidaksukaan itu.




Mendengar jawaban sinis itu, Yongbok, pria itu tertawa ringan menanggapinya. Dingin sekali, ternyata masih sama seperti saat dia memberikan hukuman bagi remaja lelaki ini dulu. Terlihat angkuh dengan pendiriannya. Tidak sama sekali memiliki rasa takut terhadapnya. Padahal dia kira dulu, remaja ini akan menjadi lebih penurut setelah semua hal buruk yang menimpanya. Ternyata perkiraan nya salah besar.




"Kau benar. Malam telah larut, sudah tiba waktunya untuk terlelap. Sangat sulit terjaga di jam segini. Aku pun begitu, oleh karenanya aku segera menyuruh mereka segera meninggalkan kita berdua."

Hyunjin yang awalnya menunduk itu mengangkat kepalanya terkejut. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.



"Yang Mulia, Anda...,Aaa..." belum sempat dia menyelesaikan pertanyaannya, tubuhnya telah terangkat di dalam bopongan Yongbok. Dan bergerak berpindah ke atas tempat tidurnya.




"Haauph..,"



Hyunjin menegang begitu merasakan raupan basah di cuping telinganya. Napasnya memberat oleh karenanya, bahkan tanpa sadar ia meremat pakaian tidurnya.



"Maaf, karena telah mengabaikan mu sejak menjadi selirku." kecupan ringan dibubuhkan lagi di pelipis Hyunjin.



Hyunjin tak merespon, dia masih terkejut akan perbuatan Yongbok. Sekarang tubuhnya mulai siaga, mempersiapkan pertahanan diri. Sewaktu waktu pria itu berbuat yang tidak tidak terhadapnya, dia akan menyerang. Tak peduli pada kenyataan bahwa dirinya seorang selir dari pria itu. Tugasnya seorang selir bukankah untuk menyenangkan hati sang raja. Salah satunya adalah rekreasi ranjang seperti ini. Akan tetapi, Hyunjin tetap lah Hyunjin. Dia belum sepenuhnya menerima bahwa dia adalah milik bukan pemilik. Dia bersikap lunak untuk saat ini hanya untuk memastikan keamanan Yeji nanti. Jika tidak, lebih baik dirinya mati daripada terhina begini.





"Pasti banyak kesulitan yang kau lalui sendirian selama ini. Seharusnya aku berada di samping mu untuk melewati itu semua. Tetapi aku malah pergi terlalu lama dan sibuk dengan urusan kerajaan. Aku sangatlah bersalah, maukah kau memaafkan kesalahan ku ini, selir Hwang? "




Hyunjin meringis menyimak tuturan itu. Sejak kapan pria yang terkenal bringas ini, bisa berbicara selembut ini? Apa Hyunjin sedang bermimpi? Rasanya sangat aneh.

   


"Tak apa jika kau tak mau memaafkan ku. Kesalahan ku terlalu fatal. Kau pantas marah terhadap ku. Tapi aku janji, mulai sekarang aku akan sering mengunjungi mu agar tak kesepian lagi. Aku akan bermalam di sini menemani mu hingga esok harinya. Aku janji..," kata Yongbok lagi, tangannya yang tadi berdiam, kini merambat masuk memeluk perut Hyunjin yang membuncit itu.




" Dia berbicara apa? Bahkan aku tak sudi melihat kehadiran mu di sini, bajingan!! "  umpat Hyunjin di dalam hatinya tentu saja. Tidak mungkin kan dia langsung mengatai rajanya itu seperti itu. Dia masih ingat tata krama ngomong ngomong.





"Apa pangeran menyusahkan mu?" tanyanya sambil mengelus permukaan perut Hyunjin. Entah sejak kapan tangan itu berani menyusup di dalam sana. Hyunjin tidak sadar.





Saat hendak menyingkirkan tangan itu. Tiba-tiba gerakan halus putranya di dalam sana mengurunkan niatnya.





"Pangeran sudah bisa menendang?" Yongbok bangun dari tidurnya.





"Oh.., astaga, tak sabar rasanya menunggu kehadiran mu di dunia ini pangeranku. Tumbuhlah dengan baik, Ayah sangat menyayangi mu." ujar Yongbok mencium perut buncit itu. Dan satu tendangan halus didapatkan nya lagi sebagai jawaban.







Hyunjin tercenung, perasaan apa apaan ini? Kenapa hatinya menghangat mendengar untaian kalimat itu? Kenapa dia merasa sangat bahagia sekali? Kenapa dia bisa terenyuh begini? Ini tidak wajar dan konyol sekali. Kenapa dia hanya dengan bualan tak bermutu itu tersentuh? Di mana logika Hwang Hyunjin yang dulu? Kenapa ini rasanya buruk sekali? Tidak!!! Dia tidak boleh begini! Ini salah.




Tbc

Hayuk..., yang nanyain kemarin, silahkan di ramai kan😁😁😁.  Biar semangat nulisnya, Xixixiixi 😘

  Biar semangat nulisnya, Xixixiixi 😘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HwangieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang