🌸|Mohon Beri Vote|🌸
Mobil yang dikendarai Ardi melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang tampak lenggang. Hanya terdapat beberapa mobil atau motor yang melewatinya. Maklum saja ini masih terlalu pagi, menyebabkan jalanan tak seramai menjelang siang atau sore hari.
Melirik ke arah istrinya, Ardi tersenyum simpul melihat bibir mengerucut May yang tertutupi pipi gembulnya. Bukannya tanpa sebab bibir istrinya itu mengerucut imut, alasannya tentu saja karena Ardi yang tak memberitahu May tujuan mereka pergi.
"Jangan cemberut terus dong sayang! Nggak kasihan apa sama Mas? Dari tadi dicuekin terus."
Suara Ardi memecah keheningan di dalam mobil. Ia sudah tak tahan untuk mendengar ocehan May yang cerewet seperti biasanya. Perjalanan ini terasa membosankan tanpa suara May. Padahal, ia masih harus menyetir untuk beberapa jam ke depan.
"May! Sayang. Cantik," godanya yang sama sekali tak membuat pipi istrinya merona seperti biasa. Justru wajah May semakin ditekuk.
"Sayang, Mas minta maaf deh. Please! Maafin ya," pinta Ardi manja.
Mau tak mau akhirnya May tersenyum juga mendengar ada nada manja dari suara suaminya. Sebenarnya, ia tak marah pada Ardi hanya saja ia sebal dengan lelaki yang menjadi suaminya tersebut.
Setelah menunaikan salat subuh lelaki itu malah menyuruhnya segera berganti pakaian. Saat May bertanya, Ardi tak menjawab mereka akan pergi ke mana. Hal itu membuat May kesal dan sebal saja. May kan jadi tak bisa melakukan persiapan. Ya, meski suaminya itu sudah menyiapkannya dengan memasukkan beberapa potong baju ganti mereka ke dalam tas.
"Sebenarnya kita ini mau ke mana sih, Mas?" tanyanya untuk kesekian kali.
Awas saja jika jawaban Ardi masih sama. May akan marah dan tak akan mengajak lelaki itu bicara. Meski itu tak mungkin. Sebab, ia tak akan kuat lama - lama menutup mulutnya untuk lelaki yang telah menjadi suaminya.
"Pantai," jawab Ardi singkat.
Dahi May mengernyit. "Pantai?" sahutnya tak yakin.
Ardi mengangguk mengiyakan. "Iya. Pantai, ada masalah?" tanyanya memastikan seraya melirik sang istri.
May menggeleng. "Cuma ke pantai doang aja pake main rahasia - rahasian segala," gerutunya yang disambut kekehan Ardi.
"Bukan rahasia May. Cuma belum sempat bilang ke kamu. Kalau aku jelasin tadi, kita bisa telat. Semakin siang kan jalanan makin ramai," jelas Ardi kalem.
"Ini mau pergi ke pantai yang di mana?" Masalahnya, mobil Ardi melalui jalanan yang asing di penglihatannya.
"Ke pantai yang di selatan."
"Pantas," tanggap May singkat.
Biasanya May dan keluarganya akan pergi ke pantai yang ada di sebelah timur karena pantai tersebut lebih dekat dari kampung tempat tinggalnya. Sedangkan pantai yang dituju Ardi sekarang lebih jauh serta memerlukan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan.
"Kenapa ke sana? Itukan lebih jauh dari rumah?"
"Katanya Mas Zaki, di sana lebih indah dari pantai yang itu," ucap Ardi.
Sekalipun dari tadi ia mengajak May berbicara, tapi Ardi tak pernah mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ia lalui. Jalan ini begitu asing untuknya, jadi Ardi takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat ia meleng sedikit saja.
"Halah. Mas! Namanya pantai juga sama aja," cibir istri Ardi itu.
May benar kan? Di mana pun tempatnya yang namanya pantai juga pemandangannya pasti sama. Ada air dan pasirnya juga. Apanya yang membedakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Selimut Cinta
Ficção Geral(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA) Ardi tahu hidupnya akan semakin sulit saat ia memutuskan pergi dari rumah. Namun, memilih tetap tinggal di rumah pun bukan keputusan yang benar menurutnya. Lalu, takdir mempertemukannya dengan Samayra. Gadis muda yang t...
