🌸|Mohon Beri Vote|🌸
"Mas! Ayah butuh asisten rumah tangga ndak di rumah ini?"
Ardi yang baru keluar dari kamar mandi memandang istrinya heran karena ditodong pertanyaan seperti itu. Ja mendudukkan dirinya di samping May yang dari tadi sudah duduk manis di atas kasur. Sepertinya, istrinya itu menunggunya yang sedang mandi.
"Kenapa tanya seperti itu? Mas ya, mana tahu sih."
"Apa nanti aku tanya aja ya, sama ayah? Siapa tahu kan ayah lagi butuh?" gumam May yang masih dapat didengar Ardi.
"Memang siapa sih yang mau jadi asisten rumah tangga di sini?" tanya Ardi kepo.
"Budhe Parmi."
"Budhe Parmi?" kaget Ardi. "Yang bener kamu May?" tanyanya tak percaya.
May menghela napas kasar. Ia sendiri saja masih belum percaya, apalagi Ardi. Perempuan itu tak menyalahkan Ardi yang mungkin menganggapnya hanya membual. Sebab, Budhe Parmi lah yang mau menjadi asisten rumah tangga.
"Beneran, Mas. Tadi Budhe sendiri yang datang ke rumah ibu buat minta kerjaan sama May. Katanya butuh kerjaan buat biayain kebutuhannya."
"Bukannya kebutuhannya ditanggung sama suami Erni?"
May menggeleng. "Kurang tahu juga sih. Kalau memang benar, kenapa Budhe susah - susah cari kerja?"
Ardi mengangguk membenarkan. Setahunya dari ucapan May yang pernah ia dengar, Erni mendapat kiriman uang yang tak sedikit dari suaminya setiap bulannya.
"Budhe juga bilang sawahnya udah dijual buat biaya pernikahan Erni. Kan sayang banget ya, Mas. Padahal, kan hasil dari sewa sawah itu yang selama ini jadi penghasilan Budhe."
"Oh iya. Sawahnya memang sudah dijual, dibeli sama yang sewa selama ini."
"Mas Ardi tahu?" Pekik May.
"Tahu. Kan jadi perbincangan di sawah. Bahkan setahuku, Mas Anwar udah ingetin Budhe buat nggak jual itu sawah. Tapi Budhe bilang nggak papa dijual karena nanti suami Erni yang akan tanggung biaya hidup mereka," jelas Ardi.
"Itu tuh! Akibatnya kalau nurutin gengsi. Ndak mikir ke depannya," decak May.
"Udahlah. Itu kan bukan urusan kita. Kalau kamu mau bantu, coba nanti tanya sama ayah siapa tahu memang benar ayah sedang butuh pekerja."
"Tapi Mas, aku ndak yakin kalau ayah mau terima," aku May jujur.
"Kenapa?"
"Masa Mas ndak sadar sih. Di rumah ini kan wanitanya cuma May sama Bu Yuni. Itu pun Bu Yuni cuma bagian masak doang."
Ardi tersentak. Ia sungguh baru sadar bahwa apa yang dikatakan May memang benar. Ayahnya tak mempekerjakan seorang wanita di rumah ini, selain Bu Yuni. Entah apa alasannya.
"Kamu benar, May. Memang kenapa ya? Kok Mas jadi penasaran."
"May pernah tanya sama Bu Yuni, katanya sih mungkin ayah ndak nyaman saja sama wanita selain beliau yang sudah akrab sama ayah."
Ardi mangut - mangut. "Mungkin memang begitu, May. Ya sudah lah, nanti kamu coba saja tanya langsung sama ayah. Kasihan kan Budhe Parmi kalau dia memang butuh kerjaan, pasti berharap banget."
"Iya, Mas. Nanti aku akan coba, tapi Mas juga bantuin aku ya, buat bicara sama ayah," pinta May manja.
Ardi tergelak. "Kamu masih takut sama ayah? Kirain udah berani."
Bibir May mencebik. "Kalau ndak sadar sih berani, tapi kadang kalau lihat muka ayah yang sangar jadi gentar duluan."
Ardi tertawa puas. Ia kira hanya wanita yang menjadi istrinya ini saja yang tak takut dengan pembawaan ayahnya. Ternyata, May juga masih memiliki ketakutan saat melihat wajah ayahnya yang meski masih tampan, tapi tampak angker.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selimut Cinta
Fiction générale(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA) Ardi tahu hidupnya akan semakin sulit saat ia memutuskan pergi dari rumah. Namun, memilih tetap tinggal di rumah pun bukan keputusan yang benar menurutnya. Lalu, takdir mempertemukannya dengan Samayra. Gadis muda yang t...
