Memendam

9.5K 229 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


*****

"Aku belum mendapat penjelasan apapun" Lina berkacak pinggang didepan Arabella. Mata besarnya kini menyipit penuh tuntutan. Dia tidak ingin menunda waktu lagi untuk mendapatkan penjelasan dari Arabella.

Arabella meringis, mungkinkah memang sebaiknya dia harus bercerita kepada Lina tentang yang terjadi kepadanya sekarang. Lina teman baiknya dam selama ini pula Lina lah yang sering berada di pihaknya. Lagipula Arabella membutuhkan seseorang untuk tempatnya mencurahkan segala keresahan yang selama ini dia pendam.

Mungkin ini memang harus dia sampaikan, dengan nafas sedikit memburu kini dia membawa Lina ke kafetaria. Mungkin sedikit lebih aman.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ucap Arabella pasrah. Mata Lina mulai menyipit.

"Pria kemarin bilang--"

"Regan"

"Namanya Regan?" Lina menaikkan kedua, sedikit menunjukkan ketertarikan.

Arabella mengangguk .

"Oh dia sangat tampan"

"Lina!"

"Oke-oke--kemana kau pindah? dan kenapa aku tidak tau akan hal penting seperti ini!" Lina menggebrak meja dengan kasar, membuat mereka menjadi pusat perhatian sekarang "bahkan aku mengetahui ini dari pria asing"

"Itu sangat mendadak, jadi aku belum sempat memberitahumu" tidak jujur dan tidak bohong.

"Dan hal apakah itu yang membuatmu sampai tidak bisa memberitahu aku? Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tembak Lina langsung membuat Arabella kelimpungan. Arabella berdeham sedikit.

"Tidakkah kau terlalu berlebihan Lina? kau terbawa arus pada novel Sherlock holmes yang kau baca, seakan didunia nyata kau bisa memecah sebuah misteri" Arabella berkilah, mungkin saja dengan hal ini Arabella dapat membuat Lina sedikit mengendorkan ingatannya tentang kepindahan dirinya.

"Benarkah Arabella-ku sayang? tapi sayangnya aku tidak terpengaruh akan hinaanmu sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan!"

Sial.

"Baiklah, aku akan memberitahumu, asal kau janji akan menutup mulutmu" Arabella menjulurkan jari kelingkingnya.

"Apakah ini sebuah Pinky Promise? Aku akan menyimpan ini sampai tubuhku menjadi debu dan melapisi novel milikku" Lina menautkan jari mereka dengan riang. Arabella menariknya dan membisikkan sesuatu.

"APA?!"

"Diamlah, bodoh!" Arabella membungkam mulut Lina dengan tangannya. Teriakan wanita itu membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian "kau sudah berjanji". Lina melepaskan mulutnya dengan kasar.

He is Crazy CEO Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang