Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*****
Arabella mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya masih buram tapi dia masih bisa melihat sekelilingnya hanya sekelebat warna putih, tampak sangat asing. Apakah ini surga?
Secepat itukah Arabella mati. Hanya dengan menerima pesan Anonim bisa membuatnya sampai mati. Dan memangnya dia masuk surga. Saat dia menciba untuk menggerakkan sedikit tubuhnya. Perutnya masih terasa keram, ada apa sebenarnya dan dimana dia sebenarnya.
"Kau sudah siuman? Syukurlah" Lina yang baru saja datang menghela nafas dengan lega. Dengan cepat dia segera menarik kursi dan duduk disebelah Arabella "apa ada yang sakit?"
"Kenapa aku bisa ada disini?"
"Aku tidak tau pasti, aku mendapatimu pingsan saat aku menghampiri meja kerjamu"
"Dan ini dimana?" Arabella menatap sekelilingnya.
"Klinik didekat kantor"
"Aku--akhh" dia kembali meringis saat mencoba bangun dari posisinya. Bagian bawah perutnya terlalu nyeri untuk digerakkan. Arabella bahkan serasa ingin memuntahkan seisi perutnya.
"Janfan paksakan dirimu dulu, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri" Lina memegang lengan Arabella untuk kembali merebahkannya diatas kasur. Menenangkan Arabella.
"Perutku terasa keram dan sangat nyeri" Arabella menekan perutnya seolah menahan sedikit rasa sakit "apakah dokter tidak bilang bahwa aku sakit apa?"
"Tidak, dia bilang kau harus makan karena perutmu kosong" Lina melotot kearahnya "bagaimana bisa kau tidak memasukkan apapun kedalam perutmu?"
Arabella memalingkan wajahnya. Tidak mau mengaku "Bagaimana dia bisa tau" lirihnya. Lebih tepatnya pada dirinya sendiri.
Lina memutar matanya jengah. Dia berkacak pinggang dan menatap kesal kepada Arabella "Lebih baik kau memberitahuku kenapa kau bisa pingsan?"
"Bagaimana aku bisa tau? aku saja pingsan tidak membuka mataku"
"Kau ini!" Geram Lina kesal "Aku khawatir melihatmu begitu, bisa saja kau berbohong dan memiliki penyakit yang lebih serius seperti tumor, kanker--"
"Kalau kau ingin membunuhku lakukan saja tidak usah menakut-nakuti begitu" Arabella memejamkan matanya.
Lina menyeringai "Aku hanya takut kau memiliki penyakit yang mematikan"
Arabella kembali mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Dia menerima pesan dari orang yang tidak dikenal. Dan isi dari pesannya itu yang membuat perutnya terasa sangat sakit. Dia yang berada didalam pesan itu pastilah Adam. Tidak mungkin orang lain. Siapa lagi pria yang dekat dengan dirinya selain Adam.