Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*****
"Selain wajah tampan hal apa yang bisa anda bangga kan tuan?" tanya Mark dengan senyum miring
Liam yang dikatai begitu hanya mencebikkan bibirnya "Setidaknya kau mengakui bahwa aku tampan kan"
Mark mendesah kasar "Kutarik kata-kataku barusan"
Liam dengan senyum bahagia menempatkan satu batu disi papan "Lumayan juga"
"Anda salah jalan"
"Huh?"
"Lihat? aku sudah kembali memagarinya" Mark melebarakan tangannya diatas papan dengan senyum lebar
Liam menggeram lalu melempar batu kecil-kecil itu ke arah Mark yang kini tertawa mengejek atas kekalahan yang menimpanya "Kau hanya hoki"
"Sepertinya aku selalu hoki tiap bermain go bersamamu" Mark mengejek, tangannya meraup batu kecil-kecil yang sebelumnya dihamburkan oleh Liam
Liam memperhatikan hal itu, setiap gerak gerik Mark saat ini, bagaimana pria itu selalu mengerjakan apa yang Adam perintahkan dengan mudah dan melakukannya dengan hati terbuka. Dan sejauh ini yang Liam perhatikan Mark termasuk setia pada Adam. Lalu matanya beralih pada papa go yang kini telah berhasil Mark bereskan
Liam mengumpat dalam hati, bahkan dalam permainan yang terbilang lebih mudah daripada catur ini dia tetap kalah dari Mark. Sedikit rasa iri muncul dalam relung hatinya
Liam berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil dua kaleng bir dan segera melemparnya ke arah Mark
"Mark"
Mark dengan tangkas menangkap bir itu. Liam kembali mendengus sebal, dia tidak suka Mark yang terlalu tangkas, sesekali ingin dia menang melawan pria ini
"Omong-omong, kau sudah berapa lama kerja bersama Adam?" Liam membuka suara dengan nada yang sedikit tidak suka
"Sepertinya 8 tahun, bukankah anda sudah tau?" Tanya Mark dengan alis bertaut, pasalnya hal yang ditanyakan itu menurut Mark sedikit aneh karena pria itu sendiri yang merekrutnya sebagai bodyguard sekaligus sopir Adam
"Aku lupa"
"Iya, pengaruh usia aku paham"
"Sialan! aku tidak setua itu" sungutnya, lalu Liam menaikkan sebelah alis "apa kau tidak merasa bosan bekerja seperti ini?"
Mark tampak berfikir lalu mengedikkan kedua bahunya "Tidak, bagiku ini pekerjaan yang menyenangkan dan aku pun belajar banyak dari tuan Adam"
Liam kembali memutar matanya malas dan meneguk birnya agar perasaan kesal yang diakibatkan permainan mereka tidak kunjung hilang "Kuperhatikan sejak tadi kau mulai tidak berbicara formal padaku"
"Eh iya" Mark menampilkan cengiran khas miliknya "saya minta maaf"
"Lupakan saja, lagipula usia kita tidak terpaut jauh" Lalu seolah terpikir akan sesuatu kini Liam duduk menatap Mark dengan satu tangan menopang dilengan sofa "omong-omong Adam dimana?"