Pernikahan yang disepakati dilakukan secara diam-diam. Sadina yang meminta, sebagai seorang yang dikendalikan, Satya iyakan saja, daripada sama sekali tak menikah.
Ini kesempatannya, meski Satya tahu bahwa banyak luka yang akan menanti, ia sangat siap dalam menghadapi semuanya.
Sadina punya satu pertimbangan atas permintaan tersebut, yaitu tak ingin Nicky tahu, dan jika pernikahan mereka berakhir, maka Nicky terbebas dari utang, dan Sadina kembali bersama pujaan hatinya tanpa diketahui telah berstatus janda.
Namun, Satya sama sekali tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Waktu satu tahun akan digunakannya dengan baik, detik atau menit sangat berarti baginya dalam satu tahun kedepan.
Pernikahan dilakukan sangat sederhana, tetapi sungguh melelahkan. Undangan hanya dua keluarga besar, Satya dan Sadina juga ikut merahasiakan dari teman-teman mereka.
Ya, sebab Sadina menutup segala kemungkinan, di mana Nicky akan mencari tahu tentangnya dan pernikahan ini. Satya sendiri mengikuti saja permintaan sang istri.
"Gue mau mandi," kata Satya ketika masuk ke dalam kamar.
Pernikahan telah selesai, Satya membuka bajunya tanpa pikir panjang, menyisakan kolor berwarna hitam. Sadina yang tengah duduk di depan meja rias, tak bereaksi apa-apa ketika melihatnya-setengah telanjang-dari pantulan cermin.
"Handuk di mana?" tanya Satya.
Sadina bangkit dari bangku, berjalan ke dalam lemari. "Gue nggak mau lemari gue lo berantakin." Melemparkan handuk pada Satya.
Ia menerima handuk itu. "Hari ini doang, elah. Besok, kan, kita udah mau pindah ke rumah orang tua gue."
Setelah menerima semua syarat dari Sadina, Satya pun memberikan syarat untuk mereka tinggal bersama orang tuanya, sebab Satya anak tunggal, dan tak ingin meninggalkan orang tuanya berdua saja.
Sadina menyetujui, katanya timbal balik. Mendengarkan itu Satya merasa sangat lega.
"Bawel lo, sana mandi," usir Sadina.
Satya sedikit kesal, reaksi istrinya itu biasa saja. Ya, minimal menatap kagum pada tubuhnya ini, nyatanya Sadina malah berekspresi datar, seakan tidak tergoda.
Ia jadi ingin telanjang di depan Sadina. Kira-kira, apa yang akan terjadi?
"Sediain baju gue," ucapnya sebelum masuk ke kamar mandi.
"Ogah, emangnya gue pembantu lo." Sadina kembali duduk di depan meja rias, menghapus riasan yang menempel.
"Eh, kalau lo nggak mau layani gue di ranjang, setidaknya sediain keperluan gue," balas Satya, mengurungkan niat untuk mandi.
Di detik ini, ia akan menegaskan pada Sadina bahwa dirinya yang berkuasa saat ini. Lagi pula, Satya punya pegangan untuk membuat Sadina tak akan membantah, hanya saja ditahannya agar tak terjadi cekcok berlebihan.
"Sama aja gue jadi pembantu lo, mana nggak digaji." Sadina mendengkus.
Satya memutar bola mata. "Dua milyar itu lo anggap apa? Angin? Ingat, ya, di sini lo cuma buat lunasi utang Nicky, bukan jadi putri kerajaan," cercanya.
Sadina membanting botol toner ke atas meja, menimbulkan suara gaduh yang mengejutkan. "Mau lo apa?"
"Sediain baju gue. Udah, gitu aja," ujar Satya, membalas tatapan istrinya itu tanpa ragu.
Ketukan di pintu membuat mereka berdua terkesiap. Sudah pasti suara gaduh tadi menimbulkan pertanyaan oleh penghuni rumah lain. Kalau bukan orang tua Sadina yang mengetuk, sudah pasti adik-adiknya.
"Din, kenapa ribut-ribut?" tanya si pengetuk, "Ibu buka, ya, pintunya."
Sadina hendak melangkah mendekati pintu, tetapi Satya berjalan cepat menarik lengan istrinya. Ia mendorong Sadina hingga terduduk di meja rias, tanpa menunggu lama, diraihnya bibir itu dengan bibirnya.
Mata Sadina menandakan keterkejutan, tetapi Satya tak peduli. Hanya ini alasan jitu agar mereka tak memikirkan hal buruk karena kegaduhan tadi.
"Ka-astaga! Pintunya dikunci, dong!" pekik Sisca terkejut.
Satya menarik bibirnya, menengok ke arah wanita itu. "Eh, Ibu."
"Lanjutin, lanjutin." Sisca segera menutup pintu tersebut.
Sangat mudah, bukan? Satya tersenyum penuh kemenangan, apalagi saat menyadari posisinya sekarang bisa mengendalikan situasi.
"Trobos ajalah," ucapnya, kemudian melanjutkan aktivitasnya tadi.
Satya meraup bibir ranum Sadina tanpa ampun, selama itu pula sang istri masih terkesiap, mungkin kaget karena ia bisa seberani ini. Oh, jangan salah, Satya pun seorang laki-laki, apalagi perempuan di hadapannya ini adalah istrinya, sudah sah, masa bodoh dengan perjanjian.
"Satya!" pekik Sadina sembari mendorong Satya untuk menjauh.
Bukannya menyesal membuat Sadina kesal, Satya malah tersenyum miring, merasa menang hari ini.
"Gue mau mandi, sediain baju gue," ucapnya sembari menuju kamar mandi, "kalau enggak, gue nggak segan-segan langgar janji kita. Lagian, ngelanggar juga nggak bakal dapat hukuman, undang-undang nggak ada pasal menyangkut suami minta jatah ke istri, bukan?"
"Sialan lo," umpat Sadina dengan wajah merah padam.
Satya melenggang santai ke kamar mandi, sebelum menutup pintu, diberikannya senyum pada sang istri. "Kalau mau mandi bareng, masuk aja, pintunya nggak gue kunci."
"Bangsat!"
Ia tertawa mendengarkan kekesalan tersebut. Tak apa diumpat, yang penting Satya bisa merasakan bibir Sadina lagi. Jujur, pertama kali merasakan, ia sangat mendamba bahkan sampai terbawa mimpi.
Setelah mencoba sekali lagi, malah jadi candu. Hei, apakah cinta ini ada penawarnya?
Jika tidak, Satya sedikit khawatir pada Sadina yang pasti tak akan mampu menampung cintanya yang sangat besar ini.
---
Kalau ada yang mau beli pdf, silakan ke no.WA 082290153123. Harganya 30K yaaaa 🥰 Lengkap! Dari awal sampe akhir, dapat bonus part juga!
Mau nawarin juga paket PDF nih. Jadi 50K bisa dapat dua judul, yaitu MY CEO IS MY HUSBAND dan ISTRI SETAHUN SATYA.
Murah banget, kan?
Untuk KARYAKARSA, cek akun @MokaViana
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Setahun Satya
RomanceSelalu mengagumi dari jauh, itulah yang selama ini Satya lakukan terhadap Sadina. Perempuan yang tak pernah kalem saat bertemu dengannya, selalu saja ada pertengkaran yang malah membuat Satya makin jatuh cinta. Sadina tak pernah menampakan kesedihan...