Ara menatap Abel heran pasalnya gadis itu memegang handphone Ara dengan wajah setengah kesal. Padahal kan seharusnya Ara yang kesal karena Abel dan yang lain mengganggu Ara saat sedang fokus mengerjakan tugas kewirausahaan tadi.
“Lo kenapa dah?” tanya Ara. Gadis itu sudah selesai mengerjakan tugasnya dan sudah memberikan jawaban miliknya kepada teman-teman yang lain untuk mereka salin.
“Ini ada notif masuk di hp lo, gue gak sengaja lihat di lock screen lo dan gue kaget setengah hidup pas lihat nama kontaknya kak Sena. Heh lo ada apasih sebenernya sama kak Sena?” tanya Abel menggebu-gebu.
“Lah, emang kenapa sih Bel? Kan gue gak mau musuhan sama mantan,” jawab Ara santai.
“DIH! GABOLEH DONG” ujar Abel kesal. “LO HARUS JADI ANTIMAINSTREAM RA! KALO BIASANYA LO GAK MUSUHAN SAMA MANTAN NAH KALI INI HARUS MUSUHAN” lanjutnya.
“Lagian ya Ra, lo tuh cakep kali, ngapain juga masih ngarepin mantan, ish Ara” ucap Abel. Gadis itu masih saja mengoceh tidak jelas dan tidak ada hentinya, sampai Ara selesai mengerjakan tugasnya dan memberikan binder yang berisi jawaban ke depan muka Abel.
Mata Abel berbinar, tanpa pikir panjang ia segera mengambil binder Ara. Gadis itu langsung duduk dan menyalin jawaban Ara, tidak lupa dengan teman-teman lainnya yang seketika ikut duduk bersama Abel dan menyalin jawaban Ara.
Tidak butuh waktu lama, Ara dan teman-temannya sudah selesai mengumpulkan tugas tersebut ke dosen mereka. Setelah keluar dari ruang dosen, Abel mulai menanyakan kembali kepada Ara perihal kedekatannya dengan Sena yang tidak diketahui sama sekali oleh Abel.
“Jadi, sejak kapan lo deket lagi sama kak Sena? Kok gue gak tau?” tanya Abel. Mereka berdua duduk di bangku dekat koridor ruang dosen.
“Sebenernya gue juga gak tau sih, kayak tau-tau deket lagi aja gitu, awalnya tuh yang pas di hotel itu Bel, itu dia beberapa kali bantu gue pas bawa barang-barang berat, nah terus dia jadi suka chat gue lagi, karena gue anak baik ya gue bales ajalah, sampe pas pulang dari acara itu juga dia yang anterin gue pulang, nah besoknya dia ajakin gue sarapan bareng, gue gak enak buat nolak, lagipula gue juga di rumah sendirian waktu itu, jadi gue mau aja deh.” Jelas Ara. Abel mengangguk pertanda mengerti.
“Kalo soal gue enggak ngasih tau lo, soalnya gue rasa belum waktunya aja gitu, lagian gue sama dia enggak ada apa-apa kan, ya selayaknya kating sama juniornya aja gitu,” lanjut Ara. Abel menyerengit tidak setuju, "Apapun itu, lo harus ceritain sama gue, Ra. Biar enggak ada salah paham atau apalah itu diantara kita, oke?”
Ara mengangguk, kemudian melihat ke arah ponselnya yang bergetar. Ada satu pesan dari Sena yang mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin fakultasnya. Ara melirik ke arah Abel yang diangguki sahabatnya itu, “Gue ikut, yuk.”
***
Sena menatap dua gadis di depannya dengan tatapan bingung. Perasaan ia hanya mengajak Ara untuk makan siang bersama tapi kenapa sekarang ada Abel yang juga ikut bersama Ara.
“Gue gabung ya, kak? Soalnya gue gabut enggak ada temennya di kelas, gak apa-apa kan?” tanya Abel. Sena hanya mengangguk dan tersenyum kaku.
“Eh btw, mau makan apa nih? Biar gue yang pesenin aja sekalian,” tawar Ara.
“Gak usah, kamu duduk aja, biar aku yang pesenin, kamu mau makan apa? Lo makan apa, Bel?” tanya Sena.
Abel tampak berpikir sejenak, “Mie ayam aja deh kak,”. Sena mengangguk, “Kamu apa, Ra?” tanya Sena.
“Aku pangsit goreng aja deh kak, hm minumnya apa ya, es teh manis aja deh, Abel samain aja kayak aku,” ucap Ara.
Sena mengangguk, laki-laki itu mulai berjalan ke penjual mie ayam dan juga pangsit goreng untuk memesan makanan.
Tidak lama, makanan pesanan mereka datang, dengan senyum merekah, kedua gadis itu mengucapkan terima kasih kepada kedua mamang-mamang yang mengantarkan pesanan mereka. Ara menatap sekitar bingung, mencari sosok Sena yang tiba-tiba menghilang setelah memesankan makanan untuk dirinya dan Abel.
Abel yang sedang asik menyantap makanannya mulai menatap Ara heran, “Lo kenapa sih? Celingukan daritadi gue perhatiin,” tanya Abel, tidak lupa tangannya menyuapkan sesuap mie ayam ke dalam mulutnya.
“Kak Sena kemana ya, Bel? Kok ngilang sih dari habis mesenin kita makanan,” ucap Ara. Jarinya mulai mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp, tidak ada pesan dari Sena. Gadis itu berdecak kesal.
“Udah sih sabar aja, ada urusan mendadak mungkin,” ujar Abel, menenangkan.
“Tapi kan Bel, harusnya dia bisa gitu kesini dulu buat bilang atau chat gue gitu, ini malah ghosting kayak gini, ah males banget gue,” gerutu Ara.
Abel menahan tawa melihat sahabatnya, bibirnya memang menggerutu tetapi tangannya juga aktif memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Cukup multitasking. Batin Abel
~~~
Halo guys! Long time no see yaa hehehehe. Sebelumnya maaf yaa baru bisa up sekarang.
Btw, makasih banyak dukungan kalian buat cerita ini! Ternyata banyak yang nungguin yaa hehehehe.
Yuk ramaikan terus, jangan lupa kasih cerita ini buat jadi rekomendasi ke temen-temen kalian, terus vote dan comment!
Semoga kedepannya aku bisa rajin bgt up ya!! Semangat terus semuaaa!!!!
Your lovely author,
Birutosca✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Presiden Mahasiswa
Roman pour Adolescents"Laki-laki itu pantang ingkar janji." Kata-kata manis itu terucap dari bibir laki-laki yang saat ini menjadi pujaan hatinya. Pria pemegang tanggungjawab tertinggi di Universitas Antariksa. Bisakah ia menepati janji yang sudah ia berikan kepada gadi...
