"Aku gak nyangka, ya. Kak Fitri sama Kak Lia bisa nikah dengan jarak cuma beberapa bulan doang!"
"Biasalah, jiwa ibu-ibunya pengen cepet terwujud!" ucapan Nida membuat para wanita yang tengah berkumpul dalam satu meja itu tertawa lepas.
Mereka semua seolah tak sadar dengan keadaan sekitar, bahkan sang pemilik acara pun ikut larut dalam obrolan absurd. Ania, Fitri, Nida, Firma, Najwa, serta Ainur mereka berhasil menjadikan acara pernikahan sahabat mereka yaitu Amalia menjadi acara reuni dadakan.
Ya, berkumpulnya mereka kali ini bukan tanpa alasan. Karena Amalia mengundang secara khusus kepada para sahabat online nya itu untuk datang ke acara pernikahannya. Kabar bahagia ini begitu mendadak, sehingga membuat beberapa di antara mereka tak hadir, misal saja Jennifer, Hafidah, Arvina dan Nora yang bukan hanya terkendala kerja tapi juga jarak.
Absennya keempat sahabatnya itu tak membuat Amalia bersedih, karena mereka sudah mengucapkan selamat melalui pesan video yang baru saja usai.
"Seneng banget kalian bisa hadir ke sini secara langsung," kata Amalia, gadis yang masih mengenakan pakaian bak ratu itu rela menyempatkan waktunya duduk mengobrol bersama para sahabatnya ini. Ia mengambil kesempataan di saat para tamu undangan mulai sepi.
"Apa sih yang enggak buat Kak Lia. Kita kan sudah janji, selagi kita ada waktu kita harus luangin sedikit untuk bertemu. Iya, 'kan?" Ania menatap keenam wanita yang ada di sana.
"Bener banget. Jangan sampai ikatan persahabatan ini putus karena waktu dan kesibukan." Ucapan Ainur disetuji oleh yang lainnya.
Suasana seketika menjadi lebih serius, dan hal ini membuat Ania kembali mencairkannya. Karena ia kemari ingin tertawa melepas beban bersama para sahabat yang sudah ia anggap keluarga ini.
"BTW, setelah ini siapa lagi di antara kita yang akan nyusul?" tanya Ania dengan menaik turunkan alisnya.
"Denger-denger sih, Kak Arvina. Dia sudah memakai cincin tunangan," ujar Najwa dengan nada seperti ibu-ibu yang akan memulai pergibahan.
"Semoga lancar deh sampai halal," ucap Firma yang langsung diaminkan oleh semuanya.
Di tengah pembicaraan tiba-tiba Fitri menatap Ania dengan senyuman jahilnya. Hal itu membuat Ania bergidik. "Kapan, nih, giliran bu founder dihalalin?"
"Nah, iya. Pasti ramai nih sama para alumni BWC!" Nida ikut berseru.
"Nanti acaranya bukan acara pernikahan, tapi jadi reuni akbar!" Seruan Fitri kini membuat yang lain tertawa dan semakin gencar menggoda sosok Ania yang terpojokan.
Ania menatap Fitri geram, karena ucapan dia tadi membuat yang lain ikut-ikutan menggoda.
"Nanti besok aku nikah, itu juga kalau gak kesiangan," cetus Ania yang membuat tawa semakin menggelegar. Semoga saja para tamu undangan lain tak terganggu, dan semoga Amalia tak menyesal mengundang ibu-ibu dan calon ibu-ibu ini.
🍓🍓🍓
Tepat pukul sebelas malam, Ania baru keluar dari stasiun kereta api. Dia tampak memijat pelipisnya karena lelah dalam perjalan pulang dari menghadiri pernikahan Amalia, tapi dia pun merasa senang di sana. Banyak tawa lepas yang ia lampiaskan oleh obrolan singkat tersebut.
Kini, waktu menarik Ania untuk kembali pulang ke rumah, menabung rindu kembali bersama para sahabat. Ania menyalakan ponselnya dan memesan ojek online untuk mengantarnya pulang.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Ania menumpangi sebuah motor dan melaju menuju rumah. Ia sudah sangat ingin istirahat.
Beberapa menit setelahnya, sampai lah Ania di rumah modrennya yang masih berlantai satu. Segera ia melepas sandal dan masuk ke dalam. Di saat ingin menuju kamar, tiba-tiba langkah Ania membelok ke arah dapur ketika melihat sang ibu duduk terdiam di meja makan dengan segelas teh hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan, Ndra (END)
RomansJudul sebelumnya=> AniaNdra "Aku adalah korban dari tindak kejahatanmu yang telah mencuri perhatianku sejak awal, dan dari muslihatmu dalam membuat sebuah hati nyaman untuk menetap pada ruangmu," ungkap laki-laki itu seraya menyodorkan tangan kanann...
