Satu minggu setelah hari yang membahagiakan entah bagi Ania ataupun Andra. Mengenai pengajuan sebagai anggota bayangkhari, keduanya baru mengumpulkan berkas dasar saja, sebab Andra sendiri belum mendapatkan cuti untuk mengurus lebih jauh. Hal itu tak jadi masalah untuk Ania, lagi pun ia masih sangat disibukan kuliah serta kewajiban di penerbitan.
Kabar bahagia mengenai lamaran ini belum Ania beritahukan kepada teman-temannya, baik itu Jennifer yang sangat dekat dengan Ania. Gadis itu sudah memilih waktu yang tepat untuk mengumumkannya, dan itu bukan waktu dekat ini.
Mengenai sikap Andra setelah mengikat Ania sebagai calon istrinya tak ada yang berubah, hanya saja pria itu lebih sering ke rumah untuk hal yang kecil. Mungkin Andra hanya ingin lebih dekat lagi dengan keluarga sang calon.
Misal saja sekarang, pria itu pagi-pagi sekali sudah bertamu ke rumah Ania, tentu dengan seragam dinasnya yang lengkap. Tapi, kali ini ia begitu tak tenang, terlihat beberapa kali mengembuskan nafas pelan.
"Ada yang ingin mas bicarakan?" tanya Ania sembari menghidangkan teh hangat pesanan Andra. Lalu gadis itu duduk di kursi single samping Andra. Panggilan Ania untuk pria itu kali ini berbeda, lebih sopan dan enak didengar. Hal itu Ania lakukan saat sesudah diberi nasihat oleh Ratih.
Sementara di sisi lain kursi terdapat Rijal yang tengah menikmati kopi dan tayangan berita di TV. Anggap saja Rijal menjadi penegah di antara Ania dan Andra, agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Saya harap kamu gak akan kecewa, ya?"
Ucapan Andra membuat Ania greget sendiri, "Iya, insyaallah. Tapi apa yang ingin mas bicarakan?"
"Esok, saya ditugaskan ke Papua membantu para tentara dalam menjaga keamanan di sana," jelas Andra, setelahnya mengembuskan nafas pelan. Pria itu melirik ekspresi Ania yang tampak tak ada perubahan, malah ada sedikit senyuman hangat di bibirnya.
Ania tersenyum karena berusaha mengendalikan rasa kagetnya ini, karena ternyata ketika Andra memilih tanggal pernikahan untuk dilaksanakan akhir tahun terdapat alasan yang cukup logis. Ya, ini alasannya, negara memanggil Andra. Dan Ania tak bisa mencegah.
"Untuk berapa lama?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Rijal yang memang mendengar penuturan Andra tadi. Ia tak kecewa bila Andra akan pergi dinas, malah ia sangat bangga dengan sikap Andra yang mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatannnya. Terutama mengenai tanggal pernikahan Andra dan Ania.
Andra menoleh ke arah Rijal, "Tujuh bulan, Pak."
Terdenger embusan nafas lirih dari Ania, sehingga membuat Andra melirik gadis itu. "Bulan kedelapan, yaitu tepat akhir tahun ini, insyaallah saya akan pulang dan menikahimu," katanya pada Ania.
Ania tersenyum, "Iya, tak masalah. Mas pergi untuk menjaga kedamaian negara, jadi mengapa aku harus kecewa?"
Andra tersenyum senang karena bersyukur bertemu seorang gadis seperti Ania.
"Lagi pula nanti masalah persiapan pernikahan, masih ada kami orang tuanya dan orang tuamu yang akan membantu mempersiapkannya. Kamu fokus saja pada tanggung jawabmu sebagai abdi negara, dan masalah ibu biar saya yang menjelaskannya." Rijal ikut menambahkan. Pria paruh baya itu amat bijaksana.
"Saya senang dan lega bila tak ada yang mempermasalahkan tugas yang cukup lama ini," ungkap Andra, jujur. Anggap sajalah Andra terlalu berpikiran buruk terhadap sesuatu yang belum terjadi.
"Oh, iya, Ann." Andra beralih pada Ania kembali. "Esok jam tujuh pagi, kamu bisa datang ke depan gerbang batalyon untuk bertemu saya sebelum pergi?"
Senang hati Ania mengangguk, "Insyaallah, bisa."
🍓🍓🍓
Batalyon yang dulu menjadi tempat awal di mana Ania tahu nama seorang pria yang super menyebalkan, kini berubah ramai dipenuhi para pria berseragam cokelat yang tengah memeluk haru keluarganya sebelum pergi bertugas. Beberapa dari mereka yang harus merasakan kepergian begitu pahit adalah para wanita berbaju pink, yaitu ibu bayangkhari, seorang wanita kuat. Kelak, Ania akan menjadi bagian dari mereka.
Ania yang baru sampai di tempat itu beberapa saat terdiam seraya memandang peristiwa haru ini. Apa ini yang disebut pelatihan sebagai ibu bayangkhari? Ya, Ania rasa seperti itu. Ia harus berjarak dengan Andra sebelum akhirnya disatukan dalam sebuah ikatan.
"Lucu juga takdir dalam bekerja," gumam Ania. Kemudian gadis itu melangkah mencari sosok Andra di antara banyaknya polisi berseragam lengkap.
Hingga akhirnya mata Ania menemukan sosok tersebut. Dia Andra, tengah memeluk Aminah, dan di sampingnya ada Bilqis. Seusai menunggu Aminah meluapkan kasih sayangnya, Ania segera menghampiri.
"Assalamualaikum, Umi, Andra, kak Bilqis," sapa Ania yang lantas disahut oleh ketiganya. Ania lalu mencium tangan Aminah dan Bilqis dengan takzim. "Aku telat, ya?"
"Tidak, acara pelepasan masih beberapa menit lagi, kok. Tapi Umi mau duluan pulang, ya? Soalnya ini Bilqis perutnya mulai kerasa."
Ania mengangguk, "Baik, Umi. Pulangnya sama siapa umi?"
"Ada Faris di mobil," kata Aminah sembari menenangkan sang ibu hamil yang uring-uringan. "Umi pamit, ya. Sukses buat kamu, Andra. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," jawab serentak Ania dan Andra.
Setelah melihat Aminah dan Bilqis melenggang pergi. Ania membalikan badannya, menatap Andra dari atas hingga ke bawah, tampak sangat gagah.
"Pengen peluk perpisahan tapi bukan mahram, gimana dong?" cetus Andra yang membuat Ania terkekeh geli.
"Hati-hati di sana, ya. Jangan lupa makan minum, jangan lupa solat, dan ingat di sini ada keluarga yang menunggu. Mas harus pulang dengan selamat," ucap Ania.
"Kamu gak akan mengingatkan saya menjaga hati untuk kamu?" Andra malah memberi pertanyaan yang jail.
Alhasil pipi gadis itu bersemu merah, "Gak perlu. Ada Allah yang menjaganya langsung."
Andra tersenyum, "Tunggu saya pulang, ya?"
"Pasti."
"Saya boleh minta sesuatu sama kamu?"
Ania mendongakkan kepala, "Apa?"
"Ketika saya pulang, apa bisa kamu sambut saya dengan memakai baju bayangkhari yang saya berikan waktu itu?" Kali ini ucapan Andra begitu serius, dan terdapat harapan di matanya.
Tanpa pertimbangan lagi, Ania mengangguk, "Bisa. Aku akan menyabut, selayaknya wanita taguh yang ada di sini." Mata Ania melihat sekeliling, terutama pada wanita berseragam pink.
"Terima kasih." Andra memberikan senyuman yang luar biasa penuh arti kebahagian. Dia seolah menjadi pria paling beruntung saat itu juga. "Saya pamit, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Ania menatap Andra yang perlahan menjauh, lalu menghilang setelah memasuki bus khusus yang akan mengantarkan pada polisi ke bandara.
Ketika semua parjurit sudah memasuki bus, tampak mereka melambaikan tangan pada keluarganya ataupun kekasihnya. Termasuk Andra, pria itu memberi lambaian pada Ania. Sedangkan Ania membalasnya dengan senyuman tegar dan memberikan hormat singkat. Suatu kehormatan khusus bagi Ania merasakan langsung melepas seorang prajurit dalam bertugas.
🍓🍓🍓
😌
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan, Ndra (END)
RomanceJudul sebelumnya=> AniaNdra "Aku adalah korban dari tindak kejahatanmu yang telah mencuri perhatianku sejak awal, dan dari muslihatmu dalam membuat sebuah hati nyaman untuk menetap pada ruangmu," ungkap laki-laki itu seraya menyodorkan tangan kanann...
