Seorang gadis menatap jejeran gambar gaun panjang pernikahan yang diletakan Bams untuk gadis itu memilih salah satunya. Tapi, sudah hampir beberapa menit berlalu, Ania masih terdiam dengan wajah datar. Sudah berapa kali Ania berusaha menolak dan memberontak, namun pada akhirnya Bams tetap teguh pada keputusannya. Pria itu tak peduli bila harus mempersiapkan semuanya sendirian, asal keinginan terlaksana, yaitu menjadikan Ania sebagai seorang istri.
"Saya suka yang ini," ujar Bams sembari menujuk sebuah gaun berwarna hijau mint, kemudian menatap gadis di hadapannya. "Kamu sendiri bagaimana? Suka yang mana?"
"Sejak awal, tak ada yang membuatku suka." Ania membuang pandangannya ke sembarangan arah.
Sebelum Bams menyahut lagi, Ania terlebih dahulu bangkit dari duduknya ketika Imas datang dari dapur dengan sebuah bak berisi pakaian kotor.
"Biyung, mau ke mana?" tanya Ania.
Langkah Imas terhenti, "Mau ke sungai, mencuci baju."
Ania tersenyum penuh ide brilian di kepalanya untuk pergi dari sosok Bams. "Aku ikut, ya, Biyung?"
"Enggak boleh!"
Bukan Imas yang menjawab, tapi Bams lah pelakunya. Tapi Ania tak peduli, ia melangkah mendekat ke pada Imas, "Aku ikut. Ayo!"
Tampak Imas kebingungan, tetapi pada akhirnya dia menuruti Ania untuk segera pergi dari sana. Sementara Bams sendiri hanya mendengkus kasar, karena perkataannya seolah tak dianggap. Tapi tak masalah, sebab esok tidak ada alasan untuk Ania melanggar perintahnya.
🍓🍓🍓
Untuk sampai di sebuah sungai yang menjadi tempat favorit warga desa mencuci pakaian, diharuskan berjalan kaki belasan meter. Sepanjang perjalanan pun tak akan mengecewakan, karena mata akan disuguhkan banyak pepohonan rindang dan hewan-hewan yang jarang muncul di perkotaan.
Tempat ini memang nyaman, tapi bagi Ania untuk bisa pergi dari tempat ini adalah sebuah tujuannya. Bukan bermaksud melewatkan keindahan yang telah Allah ciptakan ini, tapi ada masa depan yang harus Ania gapai di luar desa ini.
Ania mempercepat langkahnya ketika menyadari kalau ia terlalu terpesona dengan keindahan alam yang terhidang, sehingga membuat Ania tertinggal cukup jauh dari Imas. Seraya menenteng ember kecil tempat sabun, Ania kembali berjalan di samping wanita tua tersebut.
"Kamu cape, Nduk?"
Ania menggeleng cepat, "Enggak. Malah senang bisa menghirup udara segar di desa ini."
Imas tersenyum lega. Namun, beberapa menit kemudian Ania menghentikan langkah sehingga membuat Imas pun ikut berhenti. "Ada apa?"
"Biyung, sungai nya masih jauh?" tanya Ania dengan tatapan yang sesekali melirik sesuatu yang jauh di depan dan cukup menarik perhatiannya.
"Udah deket, Kok. Ada pohon beringin di sana, terus kita belok dan ada turunan. Kita turun, sampai, deh," jelas Imas sembari menujuk pohon beringin dengan dagunya.
"Aku boleh di sini dulu? Aku mau nikmatin suasana ini lebih lama, nanti aku nyusul ke bawah, deh, janji!" Ania mengucapkan dengan semangat, gigi putih nya tampak jelas.
Imas tersenyum, "Baiklah, Nduk. Sini embernya." Ania menyerahkan ember tersebut.
"Inget jangan jauh-jauh, nanti kamu tersesat." Imas mewanti-wanti. Ania pun menanggapinya dengan anggukan cepat.
Setelah itu, Imas melenggang pergi, dan Ania menatap penuh rasa syukur. Tapi ia juga merasa bersalah karena berbohong, namun ini demi kebaikannya.
Gadis itu lantas berlari setelah dirasa Imas sudah turun ke sungai. Ania mendekat pada seorang remaja perempuan yang asik bersua foto dengan ponsel yang hanya ada kamera belakangnya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan, Ndra (END)
RomanceJudul sebelumnya=> AniaNdra "Aku adalah korban dari tindak kejahatanmu yang telah mencuri perhatianku sejak awal, dan dari muslihatmu dalam membuat sebuah hati nyaman untuk menetap pada ruangmu," ungkap laki-laki itu seraya menyodorkan tangan kanann...
