6. Sebuah Misi

2.1K 163 7
                                        

Mungkin takdir menjadikan komandan pahlawan untukku!

🍓🍓🍓

Langit teduh di kota Malang kali ini membuat siapa saja bersemangat menjalankan segala aktivitasnya. Termasuk pada sekelompok pria berseragam coklat yang sangat disegani para masyarakat, siapa lagi kalau bukan para polisi pembela negara ini. Tak ada raut lelah dari wajah sang para perwira tersebut, meski mereka sudah berbaris dengan lamanya.

Tadi, setelah melaksanakan apel pagi, para polisi yang ada di depan kantor polresta Malang kota itu bersiap mendengar arahan tugas khusus dari sang komandan.

"Selamat pagi, semuanya. Hari ini saya akan memberikan tugas khusus kepada kalian tim Rajawali, untuk melakukan penangkapan pada pelaku yang kini menjadi buronan," papar sang komandan, terjeda sesaat.

"Menurut informasi, pelaku dengan kasus penjualaan organ tubuh manusia ini sudah menjadi buronan di Jakarta, dan kini dia bersembunyi di Malang. Lebih tepatnya di Universitas Negeri Malang, menyamar sebagai mahasiswa," sambung sang komandan dengan lugas.

Komandan dengan kumis tebalnya itu mulai menatap serius pada setiap anak buah di hadapannya, "Kalian akan dibagi dua kelompok. Kelompok pertama akan ditempatkan di sekitaran universitas, untuk melakukan pemantauan. Sementara sisanya akan langsung ke TKP tempat pelaku melakukan kejahatannya, untuk langsung menyergap jika ada korban selanjutnya. Ada yang ditanyakan?"

Tak menunggu waktu lama, seorang polisi yang mempunyai tahi lalat kecil di bawah dagunya itu mengangkat tangan tangannya, "Izin bertanya, komandan!"

"Ya, silahkan Kompol Andra."

"Ciri khas dari pelakunya apa komandan? Supaya kami lebih mudah mendeteksinya."

"Baik, pelaku memili ciri khusus, yaitu luka gores di daerah bawah mata dan gelang bergambar tengkorak yang selalu dia pakai di tangan kanan," jawab komandan.

"Siap, paham!" seru Andra dengan tegas.

"Demi mempersingkat waktu, setelah saya bubarkan barisan, kalian langsung membagi jadi dua kelompok dan menuju lokasi masing-masing. Paham semuanya!" ucap sang komandan kali ini lebih meninggikan suaranya.

"Paham, komandan!" sahut mereka serentak.

🍓🍓🍓

Mata tajam itu menatap penuh fokus pada setiap mahasiswa yang keluar dan masuk dari gedung kampus. Tidak ada yang bisa lepas dari penglihatan seorang Andra saat ini. Pria itu ditugaskan untuk memantau pelaku di depan gedung, dengan menggunakan pakain biasa, Andra jadi tidak mudah dikenal.

Otaknya bekerja dengan begitu cepat, menyamakan ciri-ciri pelaku dengan para mahasiswa yang tertangkap oleh matanya. Hingga beberapa menit kemudian, seseorang yang ia cari berhasil ditemui dengan ketajaman sebuah mata. Andra tersenyum penuh kemenangan.

"Lapor, saya sudah menemukan pelaku di warung kopi depan gedung kampus dan dia tengah bersama seorang wanita berhijab hitam," papar Andra pada HT miliknya kepada anggota yang memantau di bagian lain gedung.

"Tunggu, gadis itu ...," gumam Andra seraya mendekatkan langkahnya pada sang target.

Beberapa detik kemudian, terdengar ringisan dari pria itu ketika ia menyadari siapa gadis yang bersama pelaku. Dia Ania, akhir-akhir ini sudah beberapa kali merepotkan Andra.

Andra bertanya-tanya, kenapa gadis itu bisa bersama sang pelaku? Apakah kali ini Ania akan kembali membuatnya repot dengan ikut masuk ke dalam permasalahan ini, sebagai korban?

"Ya, Tuhan!" geram Andra, ralat lebih tepatnya geregat dengan ketidakberhati-hatian gadis itu dalam memilih teman.

Sekitar beberapa menit memantau di warung kopi, Andra kembali menghubungi anggotanya untuk siap berangkat mengikuti sang pelaku dari belakang. Karena, saat ini pelaku dan gadis bernama Ania itu pergi dari sekitaran kampus menggunakan sebuah mobil.

Sangat hati-hati Andra beserta anggota lain membututi dari belakang. Hingga akhirnya mereka terhenti di depan sebuah gedung kosong, ini lah tempat pelaku melancarkan kejahatanya untuk membedah organ tubuh sang korban. Kini, sesuai tebakan Andra, Ania akan menjadi korban selanjutnya.

Salah satu anggota polisi yang bersama Andra lantas menghubungi para anggota yang bersembunyi di daerah gedung untuk bersiap menyergap.

Terlihat Ania meronta-ronta untuk lepas dari jeratan sang pelaku, mungkin gadis itu telah menyadari hal yang tidak beres. Tapi, tenaga seorang wanita akan kalah dengan seorang pria.

Ketika target mulai menyeret korban masuk ke gedung, Andra beserta pasukan ikut masuk dengan hati-hati.

"Tolong! Lepaskan saya! Tolong siapa saja!"

Teriakan Ania menggema di gedung tersebut. Andra segera berlari ke dan menodongkan senjatanya pada pelaku, ketika pelaku mengangkat pisau tajam bedahnya.

"Jangan bergerak!" seru Andra yang membuat sang pelaku menjatuhkan pisaunya. Terlihat anggota lain berdiri mengelilingi dengan pistol di tangan mereka.

Ania yang diikat di sebuah bangkar tua tampak syok dengan kejadian yang tengah berlangsung ini. Gadis itu terdiam dengan nafas tersendat.

"Berikan borgol pada tangannya, lalu bawa ke kantor," titah Andra yang tangannya masih mengunci tangan sang pelaku yang berusaha memberontak. Beberapa anggota berhasil membuat pelaku tak berkutik, dan membawanya ke mobil patroli.

Andra mengembuskan nafas lelah, seraya memasukan pistolnya kembali. Kemudian, matanya menangkap sosok gadis yang masih terikat di bangkar dengan wajah syoknya. Segera Andra menghampiri dan melepas ikatan tersebut.

"Ko–mandan?" Ania tergagap, tapi ia pun bernafas lega karena hidupnya kembali diselematkan oleh pria berpropesi sebagai polisi ini.

"Kenapa selalu kamu yang harus saya tolongi?" gerutu Andra tanpa sadar.

"Mungkin takdir milih komandan jadi pahlawan untukku!" seloroh Ania dengan pedenya.

Andra mendengkus lalu melangkah keluar gedung, diikuti Ania di belakangnya. "Lain kali, jangan percaya dengan orang yang gak dikenal. Nanti repot urusannya," wanti pria itu lagi.

Ania membulatkan bibirnya, "Aku udah kenal dengannya sejak sebulan lalu, kok. Jadi aku kaget pas tahu dia melakukan kejahatan seperti itu."

"Tak semua orang dapat dipercaya," ucap Andra seraya menaiki motornya. "Ayo naik!"

"Aku?" Ania menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Kamu akan memberikan keterangan tambahan di kantor tadi sebagai saksi atau calon korban," jelasnya.

"Oke." Segera Ania menaiki motor tersebut, dan detik berikutnya motor tersebut melaju meninggalkan gedung kosong penuh kisah tragis para korban.

🍓🍓🍓

Adegannya tidak setegang ketemu mantan ya😌

Komandan, Ndra (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang