Benar kata Bilqis, pria bernama Andra itu menjadi sehat total bila mendengar kabar bahagia yang diberitahukan Ratih. Yaitu, undangan Andra ke rumah untuk membicarakan keseriusannya dalam berniat menjadikan Ania sebagai seorang istri.
Memanfaatkan waktu istirahatnya, Andra langsung meluncur ke rumah keluarga gadis yang sedang ia perjuangkan. Sampai di sana, Ratih dan Rijal menyambut baik kedatangan Andra yang hanya seorang diri.
Ada hal yang membuat Andra sesali karena datang terlalu cepat, yaitu ketidakhadiran Ania pada saat itu. Kata Ratih, anak gadisnya itu tengah bertugas di kantor penerbitannya. Baiklah, jangan terlalu dipermasalahkan, toh belum dipastikan akan berakhir bahagia atau justru bertambah rintangan.
"Kamu hari tidak ada tugas, Nak?" Ratih bertanya sembari meletakan cangkir berisi teh hangat untuk Andra, dan cangkit berisi kopi hitam untuk Rijal.
"Cuma patroli sama ngurus keperluan di polres saja. Sekarang kebetulan lagi istirahat," jawab Andra, jujur.
"Sebelumnya, terima kasih kamu sudah datang ke mari. Kemarin malam, istri saya memberitahu soal keputusannya mengenai keseriusanmu." Rijal membuka obrolan yang serius tersebut. "Saya gak mau jika terlalu lama menyimpan keputusan ini. Kamu berhak tahu, Nak."
Andra mengangguk pelan, "Insyaallah saya akan terima apapun keputusannya."
"Saya mau bertanya lagi, apa kamu masih berniat serius terhadap putri saya?" tanya Rijal.
"Maupun saya pernah mendapat penolakan. Niat saya terhadap putri bapak dan ibu masih tetap sama. Jika ini waktu yang pas untuk mengatakannya kembali, maka akan saya katakan," ujar Andra, disela dengan tarikan nafas pelan dam mengembuskan penuh ketenangan. "Saya ingin meminang putri bapak dan ibu, yaitu Ania Asyahla Hanum."
Senyuman lega terbit dari bibir Rijal dan Ratih. "Alhamdulillah, jika niatmu masih sama. Atas lamaranmu itu, saya sendiri menerimanya." Rijal mengucapkan penuh yakin.
Seketika senyuman Andra terbit, ia merasa satu langkah telah ia pijaki untuk dapat menggegam seseorang yang bagai bunga langka, untuk mendapatkannya mesti harus ada perjuangan.
Rijal kemudian melirik Ratih untuk segera angkat bicara. Andra pun tak sabar mendengar keputusan itu, tak pernah ia segelisah ini demi sebuah kata 'restu'.
"Secepatnya, bawalah keluargamu ke mari dengan membawa lamaran sesungguhnya, ya," seloroh Ratih.
Hal itu membuat Andra terharu, dan senyumannya semakin melebar. Akhirnya, sebuah izin itu telah didapatkan, proses usaha telah Andra lewati langkah demi langkah.
"Ya Allah. Alhamdulillah. Terima kasih banyak, ibu dan bapak. Baik, saya akan segera membawa keluarga saya ke mari." Bahagia Andra sungguh membeluncah. Setengah beban pikirannya telah terhapus dengan keputusan yang membahagiakan dan sesuai harapan.
Rijal menepuk pundak Andra pelan, "Akhirnya ya, Bu. Bapak akan mendapatkan calon mantu seorang abdi negara."
Ratih tersenyum penuh bahagia pula. "Andra, berterima kasih lah pada umi kamu. Karena beliau, pikiran ibu menjadi terbuka. Tak sia-sia beliau datang ke mari untuk meyakinkan ibu dalam melawan sebuah prinsip yang salah."
"Dan, usahamu dalam memenuhi tugas negara serta melindungi putri saya sangat sempurna. Ibu salut, dan prinsip ibu akhirnya kalah dengan perjuanganmu tersebut," sambung Ratih.
Tak bisa tergambarkan dengan sempurna bagaiman kebahagian Andra sekarang, hanya sebuah senyuman yang menjadi tanda apa yang sedang ia rasakan itu. Allah benar-benar memberikan Andra sebuah proses yang hasilnya sesuai harapannya.
🍓🍓🍓
"Ann, sepertinya kita harus segera ke gedung yang baru, soalnya furniture pesanan kita sudah datang," ungkap Jennifer melirik sekilas seorang Ania yang baru saja menyelesaikan rapat virtual dengan pihak toko buku terbesar di Asia Tenggara. Ya, penerbitan BWC ini akan memperluas relasi bisnis perbukuan. Semoga saja bisa berhasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan, Ndra (END)
RomansaJudul sebelumnya=> AniaNdra "Aku adalah korban dari tindak kejahatanmu yang telah mencuri perhatianku sejak awal, dan dari muslihatmu dalam membuat sebuah hati nyaman untuk menetap pada ruangmu," ungkap laki-laki itu seraya menyodorkan tangan kanann...
