"Ibu, Abilandra Maher Abqari itu siapanya Ann?"
"Calon suamimu."
Ania berdesis karena terganggu dengan jawaban sang ibu pada pertanyaan yang Andra suruh ajukan. Sekarang ia paham mengapa Andra meminta hal itu, karena ingin memberitahukan kabar tentang keberhasilannya meraih restu kedua orang tua Ania.
Tapi, Ania sendiri masih tak percaya. Sosok Ratih yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya, kini dengan mudah mengendurkan prinsip tersebut pada sosok Andra. Apa ini yang disebut kemisteriusan takdir? Allah telah membuktikan bahwa setiap hati mampu di bolak-balikan sesuai ketentuan-Nya.
Di satu sisi ada perasan lega, tapi di sisi lain Ania pun harus meyakinkan hatinya untuk memberi keputusan pada saat lamaran yang sesungguhnya. Ania mesti berdiskusi dengan Allah mengenai pilihan jalan yang harus ia langkahi.
Ketika pikiran Ania saat ini dipenuhi mengenai keseriusan Andra pada dirinya, tiba-tiba sebuah notifikasi undangan Zoom terpampang di hp. Segera Ania menyambungkannya pada laptop. Undangan tersebut dari sahabat-sahabat onlinenya.
"Hallo!" sapa Ania ketika di layar laptop terpampang sosok Ainur, Fitri, Nida, Amalia, Jennifer, Nora, Hafidah, Firma, Najwa dan Arvina. Lengkap sekali.
"Gimana kabarnya, Bu? Sudahkah dapat jodoh?" Sambutan yang sungguh baik dari seorang Fitri.
Ania mencibir bibirnya, "Masih banyak yang jomblo, kenapa hanya aku yang ditanya demikian?"
"Karena kamu sudah mateng," sahut Ainur.
"Buah kali, ah, mateng." Najwa bergurau. Sehingga membuat yang lain terkekeh geli.
"Oh, iya, Kak Jen sudah kasih tahu mereka?" tanya Ania pada wanita yang tengah menyuapi dua orang anak kecil.
"Belum. Kamu kasih tahu aja sekarang, Ann."
"Kasih tahu apa, sih?" Pertanyaan Nora mewakili yang lainnya, yang juga merasa bingung dan penasaran.
Ania mencari posisi nyaman duduknya, lalu mulai menjelaskan, "Jadi gini, alhamdulillah gedung baru penerbitan BWC sudah selesai di bangun. Rencananya, hari minggu nanti mau diadakan peresmian. Kalian bisa datang, 'kan?"
"Kami para lajang tentu akan datang dong! Iya gak, Kak Nid, Firma, Nora, Hafidah?" seru Najwa dengan antusias.
"Yoi, pasti dateng!" sahut serempak nama-nama yang tadi disebutkan oleh Najwa, tapi tidak dengan Nora serta Hafidah.
Sehingga membuat Jennifer bertanya, "Nora dan Hafidah gak bisa, ya?"
"Iya, Ka Jen. Maaf Kak Ann, aku gak bisa. Soalnya selain jarak yang jauh, aku harus jagain ibu," ungkap Nora.
"Sama. Toko punya bapak gak bisa ditingga. Sedih banget, deh, gak bisa ikut." Hafidah menekuk wajahnya.
"Ih, gak apa-apa. Lain kali mungkin kita bisa meet secara lengkap. Tak usah merasa bersalah atau sedih, ya," ujar Ania mendinginkan kembali suasana. Lalu gadis itu ganti bertanya pada ke empat wanita yang kini sudah menjadi seorang istri. "Kak Fitri, Kak Ainur, Kak Arvina, sama Kak Lia, gimana bisa apa enggak?"
"Aku, sih, bisa. Nanti kucoba bujuk Mas Ari," sahut Fitri.
"Kami usahakan, ya. Karena izin dari suami itu penting." Ucapan Amalia membuat Ainur dan Arvina ikut menyetujui.
Ania tersenyum maklum, begitupun Jennifer. "Iya, kalian izin lah dulu. Aku sama Kak Jennifer akan menunggu kehadiran kalian nanti, ya."
Obrolan pun kembali berlanjut, mereka kadang kala melempar godaan khususnya pada para jomblo. Kadang, adanya pertemuam virtual ini membuat mereka lupa akan waktu, jadi di waktu luang lah pertemuan itu akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan, Ndra (END)
RomanceJudul sebelumnya=> AniaNdra "Aku adalah korban dari tindak kejahatanmu yang telah mencuri perhatianku sejak awal, dan dari muslihatmu dalam membuat sebuah hati nyaman untuk menetap pada ruangmu," ungkap laki-laki itu seraya menyodorkan tangan kanann...
