"Memiliki teman yang banyak itu cukup sulit. Percayalah, salah satu dari mereka mungkin sedang mengintaimu"
~Hatta Ahsanan~
Terlihat sekali darah segar mengalir dari tangan Hatta. Beberapa luka sobek akibat goresan aspal jalan, membuat itu terlihat pedih. Bukan hanya di tangan, terdapat beberapa luka di kaki, hingga membuat celana panjang itu terkelupas.
Bukannya menolong, Letta malah menertawakan Hatta dengan keras. Rasanya seperti puas sekali, melihat orang yang sering mengacaukan hari Letta, kini mendapatkan karma.
"Bwahahaha-"
Hatta menatap Letta dengan tatapan sinis. Sesekali ia meringis, namun tak ada gunanya.
"Malah ketawa. Tolongin gue napa," ujar Hatta melirik Letta yang memegang perutnya.
Ia sudah puas tertawa, hingga saatnya ia mendekati Pria itu yang sedari telah menunggu lama. Letta mencoba menggendongnya untuk menepi ke sebuah kursi yang tidak jauh di pinggir jalan. Juga motornya yang terlihat cukup rusak.
"Tunggu bentar, gue beliin alkohol sama kapas." Letta segera beranjak dari tempatnya, ke sebuah minimarket yang untungnya tidak berada jauh.
Setelah ia selesai memerlukan apa yang ia butuhkan, dengan segera Letta berlari menghampiri Hatta kembali.
Letta yang sudah tau bagaimana cara memakai alkohol tersebut, segera mengambil kapas dan memberinya beberapa tetes alkohol.
"Udah tau jalanan rame, masih aja suka nyelip. Gak punya otak sih," ledek Letta di iringi kekehannya.
"Makanya buru aja obatin. Husssh-"
Mendengar perintah Hatta, Letta membersihkan luka Pria itu dengan asal-asalan, hingga membuat rasa sakit.
"Pelan-pelan bisa gak? Ini tuh luka, gak sembarang di bersihinnya!" ucap Hatta mengomentari Letta sembari mendesis.
"Ck- tadi nyuruh buruan, sekarang pelan-pelan. Mau di obatin gak nih?" tanya Letta mulai benar-benar memerilakukan luka Hatta.
Hatta yang merasa lama jika Letta yang mengobatinya, segera merampasnya dari tangan Letta, dan membersihkannya seorang diri.
Namun, tidak seperti yang di harapkannya. Ia yang juga kewalahan dengan rasa sakit itu, menberikannya kembali kepada Letta.
Kini Letta tidak lagi bercanda, hingga kapas perban itu selesai menempel ke area luka. Letta yang merasa sudah beres, bergegas untuk kembali pulang.
"Udah. Gue mau pulang!" kata Letta yang sudah bangkit dari kursi tempat ia duduk.
"Ehh,, lo ninggalin gue? Terus gue pulangnya gimana?" tanya Hatta masih duduk dan berusaha untuk bangkit.
Lagi-lagi Pria itu merepotkan Letta. Keduanya pun berjalan bersama, dengan Hatta yang sengaja meletakkan lengannya ke bahu Wanita itu, lalu berjalan bersamaan.
Motor Hatta keduanya perbaikki di bengkel terdekat. Lalu keduanya menyinggahkan sebuah taksi, dan segera pergi ke alamat rumah Hatta.
Ini adalah kali pertamanya Letta berada di dalam mobil bersama Hatta. Untungnya, Pria itu dalam keadaan sakit, jadi tidak bisa mengganggu Letta di dalam mobil.
###
Sesampainya di sebuah komplek perumahan yang pesat akan rumah. Hatta meminta sopir taksi itu menepi ke seberang jalan, dan berparkir di depan sebuah rumah yang hampir sama dengan rumah Letta. 50-50 lah perbandingannya.
Sebelum mengeluarkan Hatta dari dalam mobil, Letta membayarkan ongkos perjalanan. Melihat dari halaman rumahnya, Letta tidak menemukan satupun kendaraan lain yang berada di sana.
"Bokap lo ada di rumah?" tanya Letta membawa Hatta masuk ke dalam pekarangan rumah Pria itu.
"Gak ada. Gak tau sibuk ngapain," jawab Hatta seadanya.
Mencerna dari jawaban Pria itu, Letta yakin Pria di sebelahnya adalah anak yang tak di anggap. Tentu saja ia bisa sampai bisa berkelahi di sekolah, bahkan berkendara asal-asalan di jalanan.
Letta membuka pintu rumah tersebut dengan kunci yang Hatta berikan. Kemudian, kembali mengiringi Pria itu masuk ke dalam. Saat menemukan kursi ruang tamu, Letta menyinggahkannya di sana.
"Ambilin gue minum dong!" ucap Hatta dengan permintaannya yang menurut Letta tak masuk akal.
"Ini kan rumah lo, masa gue yang tamu di suruh ambil minum," sambar Letta yang sebenarnya tidak mau menjadi babu Pria di depannya lagi. Setidaknya, dengan ia yang mengantarkannya pulang sudah cukup merepotkan.
"Sebentar doang. Lagian yang gue minta cuma air putih, bukan air sirup," kata Hatta tetap tak mau mengalah.
Dengan berat hati Letta bergegas untuk mengambilkannya minuman. Walaupun tidak tau letak dapurnya, jika menemukan teko itulah air yang ia maksud.
Letta tidak menemukan dimana teko rumah itu berada. Kalau saja ada kran air, sudah di pastikan Letta akan mengambil air tersebut. Untungnya ia melihat sebuah lemari es, dengan perlahan-lahan ia membuka dan menemukan tuperware berisi air.
Wanita itu kembali menghampiri Hatta. Membawa tuperware tersebut di tangan kanannya, lalu memberinya kepada Hatta.
"Nih!" ujar Letta saat menyulurkan botol tersebut.
"Gelasnya mana?" tanya Hatta dengan alis matanya yang terangkat.
Letta yang sudah di buru kekesalannya, meletakkan tuperware itu ke meja. Sudah cukup Letta di buat seperti babu oleh Hatta. Melihat kelakuan Letta, Pria itu terpaksa meminum air dari tuperware itu secara langsung.
Terlihat tenggorokkan Hatta yang naik-turun. Letta yang menyaksikannya, untung saja tidak di buru akal buruk. Dengan segera memalingkan pandangan, Letta mencoba menyusuri ruangan yang cukup besar tersebut.
"Kamar lo dimana?"
Hatta yang sudah selesai dengan tenggorokkannya, membalikkan pandangan ke arah Letta. "Itu yang beda sendiri warna pintunya."
Perlahan-lahan Letta berjalan ke arah pintu yang Hatta maksud. Ya, hanya itu yang berwarna biru, sedangkan yang lainnya berwarna coklat tua.
Ckleek
Suara pintu yang di buka Letta. Saat Letta memeriksa kedalam, terlihat sangat rapi, dan sangat bersih. Berbeda dari kamar Letta yang penuh dan sesak akan buku-buku novel, hanya mengoleksi dan tidak membacanya.
Sesekali Letta mencoba duduk di kasur Pria itu, sama seperti miliknya. Pandangan Letta yang masih penasaran dengan semua hal di kamar itu, kembali memeriksa. Seperti kemarin hari, yang dimana ia menemukan sutra di bak sampah ruang tamu.
Letta membuka lemari di kamar tersebut. Hanya ada baju dan celana Hatta, juga pengaman segi-tiganya yang berada di paling atas. Ada beberapa botol kecil pula, seperti obat pil.
Sekarang Letta berpindah fokus ke arah meja. Selain sifatnya yang terlihat berandalan, rupanya Hatta juga seorang Pria yang gemar mengoleksi buku-buku komik.
Letta tidak akan meninggalkan laci di meja tersebut. Dengan ketelitiannya, ia menemukan sebuah foto yang terselip di beberapa buku. Jika di lihat dari tulisan di belakang, terdapat nama geng mereka yang entah apalah.
Merasa penasaran, Letta membalikkan foto tersebut yang menampilkan gambar wajah dari kumpulan anak laki-laki. Jika di teliti satu persatu, mereka adalah teman Hatta yang waktu itu di sekolahan.
Tunggu, mengapa ada Anhar di dekat Hatta?
○○○
BERSAMBUNG
(see you next part^^)
KAMU SEDANG MEMBACA
R E M O R S E [COMPLETED]
Novela JuvenilFOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ THANK YOU Semua orang ingin memiliki hal yang baik di dalam hidupnya. Salah satu dari semua itu, termasuk Arletta Vilove. Hidupnya yang semula damai, berubah drastis ketika menemukan peristiwa Pria di dalam toilet. Perubahan...
![R E M O R S E [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/256776871-64-k491238.jpg)