"Manusia tidak luput dari kesalahan. Tapi bukan penentu kalau kamu harus selalu salah, cobalah mengubahnya menjadi suatu pelajaran"
~Arletta Vilove~
Pelajaran telah usai berakhir, kini saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Letta yang sedang membereskan alat tulisnya, setelahnya keluar dari kelas.
Seperti biasa, berjalan di koridor bersama Icha dan Ika. Lalu berpisah ketika sudah keluar dari gerbang sekolah. Letta sebenarnya lelah jika terus menerus begini, ingin rasanya seperti orang lain yang bisa mengendarai kendaraan.
Ia yang tak henti mendengus sembari mengelap keringat di dahinya, di hentikan oleh Hatta yang tiba-tiba berada di depan jalan. Kembali dengan tatapan sinisnya semula di toilet.
Letta yang tidak tahu-menahu, mencoba diam. Namun gagal saat ia melihat memar di wajah Pria tersebut.
"Lo gak papa?" tanya Letta mencoba memulai pembicaraan perkara luka di wajah Hatta.
"Basi. Sebelum gue, lo juga udah pasti nanya hal yang sama ke Anhar, kan?"
Bukannya mendapat jawaban yang biasa, Letta malah di tuduh oleh Pria itu. Hingga lagi-lagi ia mendengus nafasnya, berusaha menahan rasa kesal.
"Maaf ya. Gue tau kalian berantem gara-gara gue lagi," kata Letta menundukkan kepalanya.
"Kalau lo udah tau, kenapa masih coba bikin masalah itu lagi, Ta? Lo mau ngelihat gue babak belur lagi?"
Seketika pertanyaan Hatta hanya menyalahkan Letta. Siapa yang tidak akan kebingungan jika menjadi seperti Letta. Lagipula mereka berkelahi sudah tidak asing di kuping Letta, di tambah dengan sebelumnya Anhar merupakan teman Hatta.
"Apa susahnya sih jangan terlalu berlebihan sama Anhar?" bentak Hatta membuat Letta tersentak.
Letta yang semula terlihat murung, menjadi emosi ketika Pria itu mengeraskan volume suaranya.
"Kenapa sih, Hat? Lo kebaperan banget. Emangnya kita punya hubungan, terus lo ngatur gue sana-sini seenaknya," balas Letta.
Ini sudah tidak wajar, Letta bukan boneka yang bisa di beli dan di mainkan sesuka hati. Hatta yang ia kenal tidaklah seperti ini. Dan ini memungkinkan jawaban Icha dulu benar, Hatta Pria yang tidak baik-baik.
Letta lebih memilih pergi dan menjauh. Ia sudah cukup bosan dengan ucapan Hatta yang tidak masuk akal. Mulai saat ini, Hatta benar-benar berubah drastis di mata Letta.
Sesampainya Letta di rumah. Ia menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Kepala Letta menjadi pusing, entah mengapa, mungkin membutuhkan sedikit ketenangan untuk tidur.
Letta benar-benar tertidur di kasur kamarnya. Seperti orang pingsan yang tidak menimbulkan gerak-gerik. Wanita itu tidur lelap tanpa banyak tingkah, berbeda dari biasanya yang sering kesusahan untuk menutup kedua matanya.
###
Beberapa jam sudah berlalu. Bahkan, kedua orang tua Letta sudah pulang dari kantor pun Letta tidak tau. Ia menjadi tuli saat tertidur dengan pulas, bahkan saat Anesh mengetuk pintu saja ia tidak mendengar.
Tok tok tok
"LETTA!"
Tok tok tok
Merasa tidak ada jawaban, Anesh memutar ganggang pintu dan menemukan Letta yang berada di atas kasurnya. Melirik hari yang sudah sore, Anesh segera membangunkan anaknya sebelum menjadi kebiasaan buruk tidur di sore hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
R E M O R S E [COMPLETED]
JugendliteraturFOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ THANK YOU Semua orang ingin memiliki hal yang baik di dalam hidupnya. Salah satu dari semua itu, termasuk Arletta Vilove. Hidupnya yang semula damai, berubah drastis ketika menemukan peristiwa Pria di dalam toilet. Perubahan...
![R E M O R S E [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/256776871-64-k491238.jpg)