"Teori biologi mengajarkan indra perasa manusia ada di telapak tangan. Tapi teori cinta mengajarkan indra perasa ada di hati"
~Hatta Ahsanan~
Tepat jam 6 pagi, Letta lagi-lagi di bangunkan oleh Anesh. Beruntungnya lagi, pintu kamar Letta terkunci. Tau kan, bagaimana Anesh kalau sudah kesal jika Letta bangun telat.
Letta membersihkan tempat tidurnya. Membuka tirai jendela, dan menemukan Hatta yang ternyata sudah berada di halaman rumah. Hal itu terlihat jelas dari jendela kamar, dimana Pria itu berseragam sekolah.
Seperti ucapan Hatta siang hari kemarin, ia akan menjemput sekaligus mengantarkan Letta pulang sekolah.
Merasa matahari sudah semakin naik, Letta bergegas ke kamar mandi. Menyusun segala keperluan, mengenakan seragam dan saatnya keluar rumah untuk berangkat.
Hatta yang sudah mengenakan helm, memberikan satu helm lainnya untuk Letta. Tumben sekali Pria itu membawa helm untuk Letta, biasanya saja selalu Letta yang mengambil helmnya di dalam rumah.
"Baru bangun, Ta?" tanya Hatta mencoba memulai suara.
"Gue males ngomong. Buruan berangkat aja!" perintah Letta.
Di perjalanan, Hatta sengaja memperlambat laju kendaraannya. Ia berharap bisa mendapatkan genggaman tangan Letta, untuk melingkari perutnya dari belakang.
"Pegangan dong, Ta!"
Letta mengerutkan dahinya. Bagaimanapun, ia tidak akan pernah meletakkan tangannya di perut Pria tersebut. Sudah cukup berada di motornya, jangan lagi yang lain-lain. Ketahuilah, bagaimana pedasnya mulut orang-orang ketika melihat mereka.
Sesampainya di tempat tujuan, Letta turun dari jok motor Hatta. Kemudian ia memberikan helm itu, lalu pergi tanpa pamit.
"Tungguin, Ta!"
Letta berhenti, bahkan ia mendenguskan nafasnya. Mau tak mau, ia menunggui Hatta yang sedang memarkirkan motornya di tempat parkir biasa.
Hingga keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam lingkungan sekolah. Di satu sisi, Hatta tak kuasa menahan senyumnya. Entah apa yang merasuki Pria itu sekarang, mengulum senyum seperti ada sebuah lelucon saja.
"Lo ngeledek gue?" tanya Letta menyipitkan sebelah matanya.
"E-enggak, siapa yang ngeledekkin?" tanya Hatta berbalik.
Sepanjang koridor yang mengantarkan Letta ke ruang kelasnya, Hatta tetap berada di samping.
"Kelas lo udah lewat bambang. Ngapain lo ngikutin gue lagi? Mau gue jitak?"
Perkataan Letta yang terdengar tidak main-main, membuat Hatta memilih kembali ke kelasnya.
"Jangan marah-marah dong sama paca-"
Belum selesai Hatta mengucapkan kalimatnya, Letta sudah dulu-dulu mencubit lengan Pria tersebut. Alhasinya membuat Hatta meringis, hingga tak melanjutkan kata akhir di ucapannya.
"Awrghhh!!" ringis Hatta berusaha menahannya.
"Balik ke kelas lo!" ucap Letta dengan raut tatapan tajam.
"Gue bakal balik. Asalkan istirahat nanti, lo duduk sama gue di kantin," kata Pria itu seakan-akan memeras.
"Ter-se-rah!"
Letta sudah kewalahan, sehingga ia memilih untuk pergi saja. Perkara duduk bersama di kantin, apa yang harus Letta khawatirkan? Lagipula, ia tidak akan sendiri, toh ada Icha dan Ika.
Sebenarnya ada alasan untuk Letta yang tiba-tiba bersikap dingin. Tentu, perkara seorang Wanita yang Hatta boncengi kemarin. Akan sangat aneh jika Letta pergi bertanya, karena sejujurnya Letta bukanlah siapa-siapanya Hatta. Untuk kata "oke" waktu itu, hanyalah angan-angan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
R E M O R S E [COMPLETED]
Roman pour AdolescentsFOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ THANK YOU Semua orang ingin memiliki hal yang baik di dalam hidupnya. Salah satu dari semua itu, termasuk Arletta Vilove. Hidupnya yang semula damai, berubah drastis ketika menemukan peristiwa Pria di dalam toilet. Perubahan...
![R E M O R S E [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/256776871-64-k491238.jpg)