"Ada cara untuk mengekspresikan mimpi. Jika bermimpi indah, maka tersenyumlah. Namun jika sebaliknya, bersedihlah"
~Arletta Vilove~
Pagi-pagi buta dunia membuat Letta menggigil. Ia bersembunyi di dalam selimutnya, dan berbaring di atas kasur empuk.
Tidak seperti biasanya, Letta harus menunggu rasa sakit di bahunya baru terbangun. Juga tidak seperti bisanya, Anesh masuk pagi-pagi ke kamar Letta.
"Ta, bangun udah pagi!" kata Anesh memukul bagian tubuh Letta dengan guling yang terjatuh di lantai.
"Nanti, nunggu pagi-nya gak dingin," kata Letta semakin menyembunyikan diri.
"Gak ada dingin-dingin, otak kamu yang dingin gara-gara gak di isiin pelajaran," ucap Anesh menarik paksa selimut Letta dan melemparnya.
"Cepat mandi, sekolah yang bener!"
Anesh adalah Ibu Letta. Beliau menikah dengan Daud, sejak tahun dulu. Selama hamil, Anesh kerap kali mandi air hangat di pagi hari. Dan ternyata, itu berdampak pada Anak semata-wayangnya. Arletta Vilove!
Mendengar serbuan perintah Anesh, membuat Letta terpaksa terjun ke kamar mandi yang suhu nya wah sekali. Bukan hanya Letta, orang-orang lainnya mungkin beranggapan sama. Akui saja jika kamu kaum pemalas mandi pagi hari!
####
Letta tiba di sekolah dengan mengenakan jaket hangatnya. Langkah kakinya mengacu ke koridor kelas yang sudah ramai.
Wanita dengan rambutnya yang terurai itu melirik lapangan sekolah. Keramaian yang menyamai pasar, sulit di jelaskan, tapi ini benar-benar ramai. Perkumpulan kaum hawa yang tengah menggibah, juga pada kaum adam yang melontarkan gaya sok maco nya.
Langkah Letta terus berjalan. Hingga Letta merasa ada yang menariknya dari belakang, alhasil membuatnya terhenti. Tas Wanita itu melawan langkah pemiliknya untuk maju, sejelasnya ada seseorang yang menggenggamnya.
"Lo yang di toilet, bukan?" tanya seorang Pria yang terdengar santai menyapa Letta.
Letta mengarahkan kepalanya ke belakang, walaupun tas nya masih berada di genggaman Pria asing itu.
Kedua mata Letta membulat sempurna. Ada kehendak apa Pria itu main tarik-tarik tas orang saja. Di tambah kemarin sudah membuat mata Letta ternodai.
Hanya ada satu cara. Tutorial ini tidak di sarankan untuk di uji coba!
Letta mengambil ancang-ancang, mendorong Pria itu dan berharap bisa lepas dari ancaman marabahaya itu. Seperti yang orang tau, sekuat-kuatnya Wanita berulah akan lebih kuat lagi jika Pria berulah.
Dorongan yang Letta ciptakan untuk melarikan diri, ternyata malah membawanya ke liang neraka yang sungguh jahanam. Bukannya lepas, Letta malah ikut terjatuh bersama Pria tersebut.
Suasana yang ramai seketika berpaling pada keduanya. Pada Letta yang merasa sudah tamat dengan hidupnya, bahkan dengan Pria itu yang menahan beban tubuh Letta yang cukup berat.
"OMG, unchh mata gue!"
"Sayang, mereka lebih romantis dari kita!"
"Ah, agensi mana yang nampilin drama pagi hari gini?"
Kembali lagi, Letta mencoba melepaskan genggaman Pria itu pada tasnya. Sayang sangat di sayangkan, Pria itu malah menjatuhkan Letta hingga ia di posisi bawah sekarang.
Jangan bilang Pria ini sedang menikmati kesempatan untuk berperilaku mesum. Apalagi di tempat umum seperti sekarang. Dimana Letta mau menyimpan wajahnya nanti.
Degupan jantung Letta berjalan seiring waktu berputar. Tatapan Pria itu ... kenapa harus menggoda seperti itu? Jadinya Letta malah semakin suka berlamaan begitu.
Letta salah. Kenapa dia harus bertindak ceroboh seperti itu. Tutorial yang gagal, coba langsung melepaskan tas saja, lebih mudah bukan?
Untungnya Pria itu melepaskan Letta, kemudian membiarkan Letta pergi. Seperti sudah puas dengan kelakuannya.
Akhirnya, Letta bisa bernafas lega seperti semula. Rasanya lebih dari saat kita menaikki Roller Coaster yang berjalan dalam keadaan 360°. Ini kali pertamanya, Letta bertatapan hampir satu menit dengan seorang Pria. Jangan bilang ini ... ya sudahlah.
Posisi Letta sekarang berada di dalam kelasnya. Ia kembali memutar ingatannya tentang pagi tadi, di depan dua anak yang terlihat bingung.
"Udah dari kemarin lo gini terus, Ta!" keluh Icha berharap Letta dapat kembali seperti semula.
"Iya Ta, gue juga udah searching, hantu durian di kebun atok itu Opet, bukan Mbak Kunti!" cerocos Ika yang seperti serius dengan ucapannya.
"Ish lo mah. Gak nyambung mulu dari kemarin-kemarin," pekik Icha pada Ika yang menyemberutkan mulutnya.
Letta menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian ia mengalihkan pandangannya memperhatikan satu persatu dari dua temannya.
"Icha,,, Ika,,, gue dimana?" tanya Letta tiba-tiba mengagetkan kedua Wanita di depannya.
"Yaelah Ta, pakek amnesia segala. Lo lagi di kelas!" timpal Icha menepuk dahinya.
"Tenang Ta, selama ada Mbah Google, gue bakal bantuin lo nemuin durian buat sesajen si Opet!" lagi-lagi Ika tidak nyambung.
"IKA!!! BISA DIAM GAK SIH!!!" teriak Icha yang sudah tidak tahan dengan sikap Ika.
Letta kembali melamun. Namun, rasanya tenggorokkan Letta memerlukan sebuah penetralan. Ya, air dingin maksudnya.
"Ika, beliin gue es dong," pinta Letta sembari memberikan selembar uangnya.
"Siap! Es rasa durian, 'kan!" jawab Ika bergegas bangkit dari tempat duduknya.
"SEKALI LAGI LO BILANG DURIAN, GUE BAKAR KEBUN ATOK DALANG!" tegas Icha membuat matanya terlihat seram.
Merasa Kampung Durian Runtuh akan di bakar, Ika segera berlari secepat mungkin. Menyisakan Letta dan Icha yang menjadi canggung kembali.
Beberapa menit setelahnya, Icha menepuk pundak Letta perlahan-lahan.
"Lo kalo ada masalah, cerita ke kita Ta," ucap Icha sedikit memberi dukungan pada Letta yang sebenarnya sudah melupakan hal itu.
"Cha,, gue gak nyangka," kata Letta yang memberi seribu pertanyaan di kepala kecil Icha.
"Gak nyangka kenapa? Lo dapet tiket nonton Kuda Lumping?" tanya Icha memulai pertanyaannya.
Letta mengggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo ketahuan Nyokap lo minum miras?" tanya Icha kembali dengan hal yang tidak mungkin.
Lagi-lagi Letta menggeleng.
"Jangan-jangan ... lo bener-bener ketemu hantu Durian kata si Ika?" tanya Icha kembali dan yakin kali ini benar.
"Bukan, Cha! Ini masalah serius," keluh Letta mengerutkan dahinya.
Ika datang membawa minuman Letta, sembari itu mengecek raut wajah Letta.
"Icha, kayaknya kita harus bawa Letta ke dukun deh," kata Ika yang tiba-tiba meraih pembicaraan keduanya.
Icha tidak ingin menambah kekesalan dalam hatinya. Icha hanya harus menganggap Ika adalah angin untuk saat ini.
Sementara itu, Letta meminum minumannya. Setelah merasa lega, ia kembali mendengus nafasnya.
"Gue gak sengaja ngelihat Siswa cuma pake celana dalam di toilet Pak Moi!" ujar Letta menceritakannya pada dua temannya.
"Salah tuh orang juga! Kenapa pintunya gak di kunci rapat. Udah salah! Ngejar-ngejar lagi kaya nagih utang!"
Icha maupun Ika sontak kaget mendengarnya. Jadi, selama ini yang membuat keduanya penasaran adalah masalah itu. Berati teori Ika tentang hantu Durian runtuh itu salah, juga tebakkan Icha karena Tiket menonton Kuda Lumping juga kesalahan.
○○○
BERSAMBUNG
(Sampai ketemu di part berikutnya)
KAMU SEDANG MEMBACA
R E M O R S E [COMPLETED]
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ THANK YOU Semua orang ingin memiliki hal yang baik di dalam hidupnya. Salah satu dari semua itu, termasuk Arletta Vilove. Hidupnya yang semula damai, berubah drastis ketika menemukan peristiwa Pria di dalam toilet. Perubahan...
![R E M O R S E [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/256776871-64-k491238.jpg)