Kali ini, Adjie yang mengejutkanku dengan datang ke klinik. Febby, yang mengantarkan Adjie ke ruanganku, meninggalkanku dengan senyum penuh arti di wajahnya.
"Libur?" tanyaku dan menghampiri Adjie.
Adjie mendaratkan kecupan singkat di bibirku sebelum menjawab. "Lagi ada urusan di RSCM, jadi mampir ke sini."
"Jangan bilang harus balik ke rumah sakit lagi?"
Aku mengajak Adjie untuk duduk di sofa yang biasanya ditempati pasienku. Selain Reza, Adjie orang kedua dengan status non-pasien yang menempati sofa itu.
"Penginnya, sih, bilang enggak usah, tapi..." Adjie mengangkat ponselnya sambil mengangkat bahu.
Tentu saja, dalam kamusnya kata 'tidak perlu' sebaiknya tidak diucapkan. Aku ingat saat terakhir bertemu dengannya, Adjie mendapat telepon yang mengharuskannya untuk kembali ke rumah sakit.
Panggilan itu sifatnya mutlak. Aku tahu Adjie tidak mungkin menolaknya dan aku juga tidak ingin Adjie menolaknya. Dia jauh lebih dibutuhkan di rumah sakit.
"Kamu punya waktu berapa lama?" tanyanya. Adji meraih tanganku dan menggenggamnya. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan hangat, memberikan rasa nyaman ke dalam hatiku.
"Sekitar satu jam. Pasienku hari ini tidak banyak," sahutku.
Adjie sebenarnya pilihan yang mudah. Jika mengandalkan logika, sungguh sulit untuk menolaknya. Aku menyadarinya, dan walaupun aku menginginkannya, aku tidak bisa memungkiri fakta bahwa masih ada bagian hatiku yang menolaknya.
Mungkin ini terlalu cepat.
"Lagi mikirin apa?" tanya Adjie. Dari balik kacamatanya, aku bisa melihat tatapannya tertuju lurus kepadaku.
Aku menggeleng. Aku tidak ingin Adjie tahu kalau saat ini hatiku justru tengah menimbang-nimbang soal seberapa inginnya aku melanjutkan hubungan ini.
"Len, aku serius sama kamu. Tentunya aku berharap kamu juga memiliki keinginan yang sama. Jadi, aku akan sangat menghormati kalau kamu mau terbuka." Adjie tersenyum lebar, seakan ingin meyakinkanku bahwa bercerita kepadanya sangat aman.
Penolakan itu masih ada, tapi aku berusaha menyembunyikannya.
"I know, tapi kita masih dalam proses, Djie. Aku enggak mau mengambil keputusan gegabah, kamu juga. Mungkin, enggak ada salahnya jika kamu mempertimbangkan kemungkinan yang lain," ujarku.
Di luar dugaan, Adjie hanya tertawa kecil. Dia tampak santai, hanya genggamannya saja yang trasa kian erat.
"Jadi, kamu sedang mempertimbangkan yang lain?" tebaknya.
"We are supposed to do that." Sebuah jawaban yang ama.
"I understand. Aku sama sekali enggak keberatan jika kamu mempertimbangkan yang lain." Adjie mengangkat tubuhnya, tapi tidak melepaskan tanganku. Sebagai gantinya, kini dia berlutut di depanku untuk mempersempit jarak di antara kami.
Tindakan Adjie yang tiba-tiba ini membuatku dilanda panik. Aku ingin menghindar, tapi genggaman tangan Adjie begitu erat sehingga aku tidak bisa meninggalkannya tanpa drama.
"Ini tentangku, Len. Saat ini, aku sudah memutuskan untuk serius denganmu. Kamu tidak harus punya keinginan yang sama denganku, walaupun sejujurnya aku ingin kamu memiliki keinginan yang sama. Kita bisa meneruskan proses sampai akhir dan melihat hasilnya." Adjie berkata panjang lebar. Seharusnya ketenangan itu, juga suara baritonnya yang mendamaikan, bisa membuatku ikut merasa tenang.
Namun, yang terjadi malah sebaliknya.
"Kita akan seperti ini sampai akhir?"
"If you want."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Cupid
Romanzi rosa / ChickLitWhen a friendship turns into lover, but the Cupid were wrong!
