This is awkward.
Tidak pernah sekalipun terlintas di benakku akan berada di tempat yang sama dengan Reza dan Lauren.
"Lauren."
Sambil mempertahankan ekspresi wajah setenang mungkin, aku menyambut uluran tangan Lauren. "Helen."
"Duduk kali, Len. Kayak mau nagih utang aja lo." Reza terkekeh.
Aku mendelik kepadanya, dalam hati berjanji akan membuat perhitungan dengannya karena sudah menjebakku seperti ini.
Sekitar satu jam yang lalu, Reza menghubungiku untuk menemaninya makan siang. Saat itu aku tidak langsung membalas pesannya karena masih ada meeting. Berhubung posisi Reza tidak begitu jauh dari klinik, aku pun menghampirinya.
Alangkah terkejutnya ketika aku mendapati ada perempuan lain di meja yang sama dengan Reza. Aku berniat untuk balik arah, tapi Reza sudah terlanjur menyadari kehadiranku.
Belakangan, dia memperkenalkan dirinya sebagai Lauren.
Setelah selama ini memenuhi rasa penasaran, akhirnya aku bertemu juga dengan yang namanya Lauren.
Sepintar lihat, Lauren memang tidak ubahnya dengan mantan-mantannya Reza. Dia mungkin saja bisa mengelak tidak memiliki tipe tertentu, tapi semua mantan pacar Reza memiliki tipikal yang sama.
Lauren bertubuh mungil, tapi terlihat tinggi dengan stiletto yang dipakainya. Dia memiliki wajah dingin yang terkesan intimidatif. Apalagi ditambah dengan tulang pipi yang tinggi, memberikan kesan angkuh yang alami.
Siang ini Lauren terlihat begitu modis dengan ripped jeans dan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat semakin dingin. Ditambah dengan pulasan makeup tipis tapi flawless, dan rambut sebahu yang ditata super lurus.
She looks like a celebrity.
Walaupun Lauren saat ini sedang tersenyum kepadaku, aku tahu kalau dia sebenarnya tengah menilaiku. Raut wajahnya berbicara banyak, tapi yang tergambar jelas adalah ekspresi penuh kemenangan.
Dari segi penampilan, jelas dia menang di atasku.
Kalau sejak awal Reza memberitahu ada Lauren, aku tidak akan menyusulnya ke sini.
"Helen ini temanku sejak kuliah, walau kita beda kampus. She's my best friend." Reza berkata sambil menunjukku.
"Sudah lama, dong?" tanya Lauren, menampilkan senyum ramah untuk Reza, dan tatapan sinis yang tertambat kepadaku.
"Sekitar delapan tahun."
Entah Reza yang tidak peka atau pura-pura tidak tahu dengan sikap dingin yang ditunjukkan Lauren. Kalau saja perutku tidak lapar, aku sudah angkat kaki sejak tadi.
Aku paling tidak suka konfrontasi. Terlebih untuk hal yang tidak penting. Saat ini, Lauren terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku. Kalau tidak ada Reza, dia pasti akan mengkonfrontasiku.
Dugaanku bukan tanpa alasan. Saat ini, Lauren menggenggam tangan Reza di atas meja, seakan ingin menegaskan hubungannya dengan Reza.
Aku memutar bola mata.
"Lo kerja apa, Len?" tanya Lauren. Suaranya pelan, seperti mendesis. Entah itu suara aslinya atau sengaja dibuat seperti itu untuk mempertegas kesan dingin.
"Psikolog. Gue praktik di sebelah," ujarku.
Lauren hanya mengangguk tanpa menunjukkan minat.
"She's good. Kalau saja dia enggak sibuk, aku sudah mengajaknya join di Stupid Cupid," ujar Reza. "Helen juga jadi reviewer."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Cupid
Chick-LitWhen a friendship turns into lover, but the Cupid were wrong!
