"Jadi, gimana? Lo mengakui kalau gue benar, kan?"
Reza menatapku dengan tatapan menyelidik. Jelas terlihat kalau dia tidak mau kalah.
Sementara itu, aku berusaha untuk bersikap biasa. Sedikitpun tidak ingin terpancing oleh tindakan Reza. Dia sengaja menemuiku hanya agar aku mengakui dengan jelas di depan mukanya bahwa persepsiku selama ini salah.
Stupid Cupid bukan hal yang konyol.
"Gue udah kasih review lengkap di link yang dikasih Irene," timpalku.
Reza mengibaskan tangannya. Jelas dia tidak peduli, sekalipun dia sudah membaca review yang aku berikan. Dia hanya ingin memuaskan egonya dengan mendengarkan aku mengakui kekalahan.
Sejak dulu, aku tidak akan rela menyuapi ego Reza.
"Gue masih ingat banget ucapan lo waktu itu. Cinta itu enggak bisa dipaksa, Za. Meskipun lo punya data yang lengkap, ada factor X yang harus lo pertimbangkan." Reza sengaja meninggikan suaranya untuk meledekku, membuatnya terdengar seperti tikus yang mencicit.
Aku mengangguk. Tidak perlu diingatkan, aku masih ingat apa saja yang kukatakan kepada Reza beberapa bulan yang lalu.
"Jadi?"
Aku melipat tangan di atas meja dan memasang wajah serius. "Gue juga bilang kalau cinta itu butuh proses. Kalau bukan karena saran gue, lo enggak akan menambahkan proses seperti yang gue jalani di sesi review ini. So you have to admit it. Am I right or am I right?"
Reza mendengus. Tentu saja dia tidak akan mengakui apa yang baru saja kusampaikan. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui itu.
"Satu lagi. Apa lo yakin pasangan yang berhasil itu benar-benar jatuh cinta atau just fall for the idea of having the relationship itself?" sambungku, sengaja ingin memojokkan Reza.
"Have you?"
Pertanyaan singkat itu sukses membuatku berhenti memasang ekspresi penuh kemenangan. He got me only with that simple question.
Reza sepertinya tahu kalau dia sukses membuatku mati kutu. Seringai di wajahnya cukup menjadi bukti bahwa dia menikmati kesempatan bisa memojokkanku seperti ini.
Selama berteman dengannya, aku tidak pernah membuat Reza bisa menang dengan mudah.
"Lo enggak bisa jadiin satu contoh lalu menggeneralisir semuanya memiliki pengalaman yang sama."
"Pertanyaan gue simple, are you falling in love with him or just with the idea of having him as your boyfriend?"
"None of your business." Kalimat pamungkas, senjata terakhirku ketika aku sudah tidak ingin berdebat.
Namun, Reza masih belum ingin meninggalkanku.
Aku menghela napas panjang. Pertanyaan itu juga menggangguku. Masalahnya, aku tidak mungkin mengakui dengan lantang di depan Reza bahwa aku tidak memiliki jawaban yang jelas.
"I'm trying," ujarku akhirnya.
"Mencoba apa?"
"Falling in love with him." Akhirnya aku mengaku jujur di hadapannya. "Dia bikin gue nyaman, Za. I like him. Tapi, buat mengaku kalau gue mencintai dia, gue belum yakin."
Reza mengangguk. Perlahan, ekspresi menyebalkan di wajahnya mulai hilang.
"Dan belum ada satu pun di antara gue atau Adje yang bilang cinta. Kita setuju untuk enggak terburu-buru. Just take it slow and see what happens next." Aku menambahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Cupid
ChickLitWhen a friendship turns into lover, but the Cupid were wrong!
