"Kenapa enggak minta Lauren aja, sih?" Aku bersedekap sambil menatap Reza dengan sewot. "Dia pasti akan dengan senang hati nganterin makanan buat lo."
Reza hanya melihatku sekilas, lalu menepuk kursi tinggi yang ada di sampingnya. "Duduk sini, ikut makan."
"Gue udah makan," tolakku. Namun, aku mengikuti ajakan Reza dan menarik kursi di seberangnya.
"Kalau gitu, temenin gue makan."
Aku mendengus. Apalagi yang bisa kulakukan selain menemani Reza makan?
Tadinya, aku mau langsung pulang setelah Adjie menerima panggilan darurat dari rumah sakit. Namun, Reza terlanjur menelepoku dan minta dibawakan ayam goreng favoritnya. Kalau saja tidak menenggang dia sedang sakit, aku tidak akan mau menyetir jauh-jauh dari BSD ke Tanjung Duren hanya untuk membelikan ayam goreng, lalu mengantar ke apartemennya.
Kalau dilihat-lihat dari tingkahnya yang kembali menyebalkan seperti ini, aku baru seratus persen yakin Reza sudah sembuh.
"Kenapa, sih, sewot? Gue ganggu kencan lo?" tuding Reza, diikuti dengan cekikikan yang menyebalkan.
Aku mendengus, tidak berniat meladeni ledekannya.
"Atau lo yang ditinggal karena telepon dari istri pertama?"
"Istri pertama?" Dahiku berkerut. Lelucon apa lagi ini yang ingin disampaikan Reza?
"Rumah sakit, istri pertamanya Pak Dokter." Reza terkekeh.
Aku mencibir. "Garing lo enggak hilang-hilang, ya," tukasku.
Reza menghisap tulang ayam yang sudah tidak memiliki sisa-sisa daging menempel di sana dengan lahap. Sampai saat ini, aku masih belum mengerti kebiasaan Reza yang satu ini. Dia selalu menyebut mubazir ketika melihat sisa ayam yang kumakan, tapi aku tidak bisa mengikuti ajakannya melumat habis ayam itu sampai ke guratan daging terakhir. Aku menyebutnya rakus, tapi Reza tidak peduli.
"Kalau Lauren lihat lo kayak gini, dia bakal ilfil enggak, ya?" tanyaku.
Masih dengan mempertahankan sikap cuek yang sama, Reza hanya mengangkat bahu.
Aku meneliti Reza dan mencoba membaca ekspresinya. Sudah beberapa kali aku melempar nama Lauren, tapi dia tidak menggubrisnya.
"Lo baik-baik aja sama Lauren?" tanyaku.
Entah apa yang terjadi ketika Lauren menemui Reza setelah mengkonfrontasiku di lobi. Apalagi saat itu kondisi Reza sedang tidak fit, dan aku tidak tahu apakah Lauren cukup peka dalam membaca situasi atau tidak.
"Waktu lo sakit, gue ketemu dia di lobi," seruku.
"I know, dia bilang."
"Teus?"
Reza hanya mengangkat bahu. Dia masih saja menghisap tulang ayam yang sudah tidak ada bentuknya itu.
"Apa enaknya, sih, makan begituan?" tanyaku.
Reza meletakkan tulang ayam itu di atas piring, dan sebagai gantinya dia menjilati jari-jarinya, membersihkan bekas sambal yang menempel di sana.
"Jorok, Reza," gerutuku, yang disambut Reza dengan cengiran lebar.
"Cuma di depan lo nih gue bisa kayak gini," timpalnya, setelah membersihkan sisa makan siangnya yang tak beraturan itu.
"Lauren?"
Reza mengangkat piring kotor dan plastik bekas makanan lalu membawanya ke wastafel. "Dia bahkan enggak tahu enaknya makan pakai tangan."
"Lo, sih, jorok," gerutuku. "Semua orang juga enggak akan tahan melihat kebiasaan lo itu."
"Sorry, darah Padang gue enggak setuju." Reza berkata santai. "Kecuali lo, buktinya lo masih betah sampai sekarang."
Di belakangnya, aku hanya memutar bola mata.
Usai membereskan makan siangnya, Reza mengambil sekaleng bir dari kulkas dan membawanya kembali ke kitchen island.
"Kepaksa, karena terlanjur temenan sama lo," balasku. Aku menyambar kaleg bir itu, tepat sebelum Reza membukanya. "Jangan minum dulu, lo kan baru sembuh."
Reza hanya memberengut, memperlihatkan tampang merajuk seperti anak kecil yang tidak diizinkan memakan permen karet.
Aku beranjak kembali ke kulkas untuk menyimpan bir itu.
"Lo butuh apa lagi?" tanyaku.
"Kenapa?" Reza malah balik bertanya.
"Kalau enggak ada, gue balik."
Reza memutar tubuhnya agar menghadapku sepenuhnya. Tangannya terulur dan mengurai tanganku yang sejak tadi bersedekap. "Di sini dulu, ya. Temenin gue."
Selama beberapa saat, aku hanya terdiam.
"Lo tahu, kan, sebentar lagi pengumuman final. We don't know the result. Mugkin saja lo dan pak Dokter paling cocok, jadi bisa saja setelah itu kalian official." Reza mendongak untuk menatapku. "Gue cuma pengin menghabiskan waktu bareng sahabat baik gue."
Sahabat baik.
Dua kata itu meluncur dengan tenang dari bibir Reza. Seakan-akan Reza ingin menegaskan hubungan ini dalam dua kata itu.
Aku menghirup napas panjang. Berkali-kali aku memasukkan kedua kata itu ke dalam benakku, memberikan keyakinan yang sama untuk kupercayai.
"So, this is it?"
Di depanku, Reza menganggukkan kepalanya.
"You got the girl, you got the money."
"You got the man." Reza mengulang ucapanku.
"Apa pun hasilnya, harus diterima?"
Reza meremas tanganku yang ada dalam genggamannya. "Enggaklah, lo boleh protes kalau hasilnya enggak sesuai. Gimanapun, kami cuma perantara. Hasil akhir tetap ada di tangan lo."
Aku mengangguk.
Proses ini terasa menyenangkan. Namun, saat menyadari akan segera menuju garis finish, aku justru dilanda rasa bimbang. Sekaligus takut.
"Kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Enggak kerasa aja udah dua bulan sejak gue ketemu Dating Master itu."
"Lo khawatir sama hasilnya?"
Sejenak, aku sempat merasa ragu, sebelum akhirnya mengangguk.
"Gimana kalau hasilnya bukan Pak Dokter?"
Aku tertawa kering, bahkan aku sendiri bisa merasakan tidak ada nyawa di balik tawaku barusan. Sebuah tawa canggung, satu-satunya hal yang bisa kulaukan untuk menghalau rasa kikuk yang kini menguasaiku.
"Memangnya ada pilihan lain?" tanyaku.
Reza tidak menjawab, tapi dari ekspresi wajahnya aku bisa mengerti bahwa Reza ingin menunjuk dirinya sendiri.
Sekali lagi, aku hanya bisa tertawa canggung menanggapinya.
Sedetik kemudian, Reza memasang wajah serus. Genggaman tangannya pun terasa kian erat.
"Len, apa pun hasilnya, I'm happy for you. I really am," gumamnya pelan.
Aku tidak mneyahut, hanya meneliti ke kedalaman mata Reza. Hanya satu hal yang kurasakan saat menatapnya.
Reza mendoakanku dengan tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Cupid
Chick-LitWhen a friendship turns into lover, but the Cupid were wrong!
