WARNING 21+ MATURE CONTENT.
SPIN OF 'MY CRUEL PRINCE'
"Tidak perlu khawatir, karena sang penulis takdir pasti sudah menyiapkan akhir yang indah untukku."
Grace Elizabeth Hartley.
"Kenapa harus berkomitmen dengan seorang wanita, jika dengan uangku sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari demi hari berlalu, tanpa Grace sadar ternyata musim gugur telah tergantikan dengan turunnya gumpalan-gumpalan salju yang perlahan menutupi seluruh atap bangunan dan permukaan aspal.
Insiden di club Red wind malam itu masih mengganjal di benak Grace sampai saat ini. Berbeda dengan Grace, Raymond sudah tak lagi menyinggung tentang hal itu, ia juga seolah melupakan, dan bersikap normal seperti biasa, bahkan di hari setelah kejadian.
Sejak kejadian itu hubungan pertemanan mereka semakin intens, dan kerap menghabiskan waktu luang bersama. Tak jarang keduanya mengobrol, bertukar pikiran satu sama lain. Saling menggoda, bahkan sampai ... bercinta. Setidaknya setiap akhir pekan.
Semua itu, tak ayal menimbulkan rasa nyaman sekaligus menyakitkan bagi Grace. Mengingat bagaimana status antara ia dan Raymond.
Grace sadar, perasaan aneh yang dimilikinya terhadap Raymond semakin menjadi, bahkan sulit dikontrol. Namun, logikanya selalu mengingatkan, seperti apa Raymond sesungguhnya, dan ia tahu segalanya akan berakhir sia-sia.
Fakta menyakitkan itu yang mendorong Grace untuk pergi dari kehidupan Raymond dalam waktu singkat. Sebelum rasa yang ia miliki semakin tak terkendali.
Di tengah-tengah kegamangannya, Grace telah merencanakan untuk mencari pekerjaan lain, ia juga mempertimbangkan tawaran kerja sebagai pelayan atau penari bar yang datang padanya. Namun lagi-lagi, Grace harus menerima pelecehan dari lelaki hidung belang sebagai resiko dari perkejaan tersebut.
"Help me God," keluh Grace, sambil bergidik ngeri. Hanya memikirkannya saja, Grace ingin muntah.
Detik selanjutnya Grace dikejutkan dengan suara derit pintu pertanda seseorang memasuki kamarnya. Grace yang sedang merapatkan diri di jendela kaca pun seketika menoleh seraya menarik napas dalam-dalam.
Persis seperti dugaannya, lelaki yang sedari tadi mengganggu pikiran Grace itu tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya.
"Grace, I have something for you." Raymond berjalan semakin memasuki ruangan tersebut.
Selaras dengan Raymond, Grace pun mendekat. Tak lupa membingkai wajahnya dengan senyum manis. "What is that?"
Raymond memberikan kotak hitam berukuran cukup besar kepada Grace, dan gadis itu menerimanya dengan sumringah. Grace segera membawa kotak itu menuju sofa dan meletakkannya di atas meja. "Bisakah aku membukanya sekarang?"
"Of course, Darling," balas Raymond yang juga ikut duduk di samping Grace.
Grace mulai membuka kotak itu dengan raut wajah penasaran. Dan kebahagiannya semakin bertambah saat mendapati kotak tersebut berisi sepatu ice skating.