[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
"Menikah bukanlah suatu hal yang mudah, terdapat tanggung jawab yang besar di dalamnya. Maka dari itu, jangan pernah mempermainkan pernikahan, jika kamu belum siap dalam segi apapun, sebaiknya nanti saja."
- AFKAR FAHRI AL AZAM -
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa votement nya ya.. (>^ω^<)
🌙🌙🌙
"Saya terima nikah dan kawinnya, Meidina Zahira Afika binti Almarhum Mohammad Rasyid El-Barak dengan mahar yang sudah disebutkan, tunai."
Gadis itu duduk di bibir kasur dengan mukena berwarna pink yang masih terpasang, ia kembali teringat ketika suaminya mengucapkan akad sambil menggenggam tangan sang penghulu.
Bukannya merasa bahagia, ia dan Afkar justru saling melempar tatapan penuh kebencian satu sama lain. Bagaimana tidak, pernikahan ini terjadi bukan kehendak mereka, melainkan karena wasiat.
Dan malam ini, kali pertamanya mereka tinggal satu atap, bahkan satu kamar.
"Gue boleh nanya nggak, Fik?" tanya Afkar sambil mengotak-atik laptop yang ada di depannya.
"Nanya aja sih. Mau nanya pake nanya segala, manusia ribet emang lo," ketus Afika.
Afkar melirik sesaat gadis itu lalu menggeleng pelan. "Lo terpaksa gak, nerima perjodohan ini?"
Afika yang tadinya membelakangi pria itu sontak berbalik menatap bengis dan menjawab, "Ya menurut lo? Ngapain gue mau sama cowok kayak lo!"
"Ya santai napa! Orang gue nanya nya baik-baik!" balas Afkar tak kalah ngegas.
Beberapa saat kemudian, gadis tersebut mengambil guling yang tersusun rapi di depan headboard lalu menaruhnya di tengah kasur.
Afkar yang memperhatikan hal itupun lantas kembali bertanya, "Ngapain lo?"
"Inget baik-baik ya, Kak! Kalau sampai lo berani ngelewatin batas guling ini, awas aja!" Afika mengancam sambil menatap bengis ke arah Afkar.
"Kenapa?"
"Burung lo gak bakalan selamat dunia akhirat!"
Glek.
Afkar sontak menelan salivanya kasar lalu menoleh ke bawah sekilas, meratapi masa depannya yang ada dibalik celana hitam.
"Sehat-sehat terus ya burungku," gumam nya pelan.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Tak berselang lama, tiba-tiba saja pintu kamar mereka terketuk pelan. Keduanya melempar tatapan satu sama lain, enggan bangkit untuk membukakan pintu tersebut.