[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa buat ninggalin votement nya ya manteman..
Jangan jadis silent readers loh (ಥ_ಥ)
🌙🌙🌙
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Silakan masuk."
Krieet..
"Maaf.. Permisi, Pak. Ini ada Dokumen yang Pak Reno titipin ke saya untuk diberikan kepada Bapak."
Tutur kata Weny sangatlah lembut dan juga sopan, ia terus menunduk sedaritadi karena paham bahwa Afkar tengah menjaga batasan dengannya.
"Hm, terima kasih."
Weny mengangguk, ia pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Afkar yang masih sibuk berkutik dengan laptop di depannya.
Tak lama setelah Weny pergi, Reno pun datang. Pria itu melangkah menghampiri Afkar dan berkata, "sebentar lagi Bapak akan menghadiri pertemuan dengan Mr. Roy, CEO dari Louyin Company di restoran 49."
Afkar mengangguk, "sudah kamu siapkan semuanya, kan?"
"Sudah semuanya, Pak."
***
Setelah selesai melantunkan ayat suci Al-qur'an, Afika pun kembali berjalan-jalan di depan rumah seraya menghilangkan pegal ditubuhnya.
Hari ini adalah hari rabu, ia harus kembali pada Dokter Lyn untuk kembali mengecek dengan rutin bagaimana perkembangan janinnya.
"Mas Afkar ada meeting hari ini ya, kapan selesainya kira-kira? Dia gak mungkin lupa kan sama jadwal hari ini?"
Berniat hendak menelepon, tapi ia takut mengganggu. Hingga akhirnya, Afika pun memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit mengendarai mobil yang ada di garasi.
Namun di tengah perjalanan, masih sempat-sempatnya ia berhenti dan mampir terlebih dahulu ke sebuah mini market untuk membeli minuman. Dengan usia yang masih sangat muda, perutnya yang buncit berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Hal tersebut jelas membuat Afika merasa risih. Ia berdecak kesal, terus melanjutkan langkah dengan sorotan datar menuju kulkas di dalam sana, lalu mengambil sebuah botol air mineral dan vitamin rasa jeruk manis.
Baru saja ia menutup pintu kulkas tersebut, kehadiran Zen yang secara tiba-tiba lantas membuatnya tersentak kaget hingga mendaratkan sebuah pukulan pada lengan pria itu.