[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
"Ya ini gue gak gerak! Lo nya aja yang buru-buru banget!" papar Afika sembari mendesis pelan karena merasakan perih.
Kedua pasangan itu tengah sibuk diruang tamu. Afkar memasangkan salah satu anting Afika yang terlepas karena tersangkut ketika mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah mandi tadi.
Cengkraman tangan Afika dilengan pria itu sangat kuat, sesekali Afkar meringis pelan.
Setelah selesai memasangkan anting tersebut, Afika pun merasa lega. Berbeda dengan Afkar, langsung saja ia menyingkap lengan kaos putihnya lalu mendapati sedikit cakaran yang tak berdarah disana, pantas saja.
Ia tatap datar gadis di depannya itu, "sakit." Tuturnya singkat.
Afika pun menoleh, dengan wajah yang tak berdosa ia malah meledek sang suami dengan wajah yang nyinyir.
Ngeoong..!
Kedua pasutri itu spontan menoleh pada sumber suara, ternyata itu adalah Dyron, kucing milik Afkar pemberian Hasan kemarin. Dengan senangnya Afkar langsung menggendong Dyron lalu menciuminya. Berbeda dengan Afika, ia masih waswas karena takut Dyron akan ganas seperti kemarin lagi.
"Jauhin dia dari gue!" titah Afika menekuk lututnya diatas sofa tersebut.
Afkar mengalihkan atensinya pada gadis itu lalu mengukir smirk yang membuat perasaan Afika menjadi tidak enak.
"Napa lo? Mau ngapain? Kalo macem-macem, jangan harap burung lo s-"
"Selamat dunia akhirat," timpal Afkar memotong ucapannya.
Afika menatap pria disampingnya itu datar. Dengan polosnya ia mendekati Afkar lalu menjambak rambut cowok itu, sehingga sang empu berteriak kesakitan.
"AFIKA!! NGAJAK GELUT LO YA!! ARGH! LEPASIN, GAK!?"
"NOPE!"
"LEPASIN, ARGH!!!"
"N-N-NOPE!"
Afkar pun melepaskan Dyron yang ada di pangkuannya, mengambil paksa tangan Afika lalu menarik ke dalam pelukannya. Sebab Afika terkejut, ia lantas terdorong hingga menindih Afkar.
Mata mereka saling memandang, Afika terbungkam, ia menatap Afkar disertai detak jantung yang sangat tak seperti biasa.