[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa buat ninggalin votement nya ya manteman 。^‿^。
🌙🌙🌙
Karena rasa suntuk yang terus menyelimuti jiwanya. Kini, Afika bertujuan untuk menghibur diri dengan mendatangi sang suami tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
Sebelum dan sesudah gadis itu sampai didepan pintu kaca gedung tersebut. Kehadirannya lantas disambut hangat oleh seorang wanita dengan pakaian formal yang sopan, berdiri tepat di hadapannya.
Afika yang tadinya menunduk, kini mulai mengangkat dagunya menatap wanita itu, rupanya Karina.
Dengan berat ia hela napas yang panjang itu, kemudian tersenyum singkat ke arah gadis tersebut.
"Kamu.. Afika istrinya Pak Afkar, bukan?" wanita itu bertanya dengan nada yang halus.
Dengan santai, yang ditanya pun lantas mengangguk, "iya, kenapa?"
"Perkenalkan, saya Karin. Saat ini Pak Afkar sedang rapat bersama para client di lantai empat."
"Oh."
"Mau.. Saya temanin? Ya.. Sembari nunggu Pak Afkar selesai meeting," tawar Karin menimpali.
Kening Afika mengkerut heran. Daripada tak ada teman, sebaiknya ia terima tawaran itu. Tanpa basa-basi lagi, ia pun kembali menatap Karin lalu mengangguk setuju akan ajakan tersebut.
"Kita ngobrol disana aja ya," tunjuk Karin ke arah sebuah kafe yang ada diseberang gedung.
Afika hanya menurut, ia lalu beranjak pergi mendahului Karin yang mengekori nya dibelakang.
***
"Mereka udah lama nikah nya?" tanya Zen pada Annisa yang tengah asik membuka kado pemberian para tamu undangan kemarin.
"Nggak, mungkin baru satu minggu lebih."
"Afkar itu cowok yang gimana?"
"Kak Afkar itu baik, kalem, pinter, serba bisa.. Yang intinya, gak keliatan preman kayak lo," sahut Annisa dengan wajahnya yang tak berdosa.
Zen hanya menatapnya datar lalu kembali memberikan pertanyaan selanjutnya, "mereka nikah karena terpaksa atau gimana?"
"Dijodohin."
"Sama-sama gak ada rasa awalnya?"
"Gak tau," tutur Annisa meletakkan kado ditangannya sambil menatap Zen, "lo kenapa, sih? Tiba-tiba aja banyak nanya tentang hubungan mereka?"