[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa buat ninggalin vote dan komen kalian ya..
Jangan jadi silent readers hiks (⌣_⌣")
🌙🌙🌙
Setelah pulang dari kantor, Afkar mengajak Afika pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan terhadap janin si kecil.
"Yang bener aja bumil sekecil ini bisa bikin penjahat mau meninggal?" celetuk Afkar sambil memijat pelipis nya pelan.
Afika menyoroti suaminya itu dengan sinis lalu berkata, "penghinaan banget, sumpah."
Mereka terus berbincang-bincang didalam ruangan itu, hingga tak lama kemudian, Dokter Lyn pun kembali sambil membawa hasil USG.
"Gimana, Dok? Anak saya sehat, kan?" tanya Afkar.
Lyn menghembuskan napasnya berat usai menatap secara bergantian ke arah dia pasutri tersebut, "karena tidak terjadi benturan keras, Alhamdulillah janin nya baik-baik saja,, Dek Afika harus jaga kesehatan baik-baik.. Emangnya tadi ngapain sih ya Allah,"keluh Lyn ingin sekali menjitak gadis bernama Afika tersebut.
" Kelahi sama pembunuh bayaran, Dok. Hebat kan aku?"
"Hebat matamu!" timpal Afkar ngegas.
Lyn hanya menggeleng kecil sambil terkekeh, ia merasa lucu dengan sepasang suami istri didepan nya itu. "Lain kali jangan terlalu gagah lagi ya, kasian bayi nya loh. Pak Afkar, kalau bisa jagain Istrinya terus.. Biasanya, perempuan kalau lagi hamil itu, bawaannya selalu pengen dimanja," ujarnya.
"Nah dengerin! Ini sibuk sama kerjaan mulu!" ketua Afika menyindir.
Afkar hanya melirik wanitanya itu dengan sinis tanpa berkutik, lalu kembali berbincang-bincang dengan mereka.
***
"EAAARRRGGHHH!!!!!"
BRAKK!!!
PRANGGG!!!
BUGGG!!!
"KURANG AJAR LO, AFIKA!" raung Karin meluapkan segala emosinya.
Kamar mewah itu benar-benar dibuatnya berantakan. Mulai dari kaca cermin serta guci besar yang ia pecahkan, meja-kursi yang terbalik, kasur dengan bantal dan sprei yang berserakan, serta pukulan pada dinding berulang kali hingga kepalan tangannya berdarah.