34. Pengakuan

4.2K 494 9
                                        

Jangan lupa buat ninggalin votement kalian ya manteman tersayang^^

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa buat ninggalin votement kalian ya manteman tersayang^^

Jangan jadi silent readers loh (ಥ_ಥ)

🌙🌙🌙

"Mas, aku izin ke taman, ya. Bosen dirumah terus."

"Ya sudah, tapi hati-hati. Kalo ada apa-apa, langsung telepon Mas."

"Iya... Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam warahmatullah..."

Piip..

Panggilan tersebut ia akhiri. Bergegas Afika pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil, lalu melangkah keluar rumah usai mengunci pintu.

Gadis tersebut kemudian masuk ke dalam mobilnya, kemudian pergi menuju taman yang akan ia jadikan sebagai tempat bersantai seorang diri.

Sesampainya di sana, Afika pun akhirnya turun kemudian berjalan ke arah sebuah kursi panjang yang ada di bawah pohon rindang yang nyaman.

Helaan napas panjang ia keluarkan sembari memejam beberapa saat. Ah, Afika sangat menikmati moment itu.

"Terakhir gue me time... Sebelum nikah sama Afkar, ya?"

Hingga tak berselang lama kemudian, tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya. Hal itu jelas membuat Afika tersentak kaget dan spontan menarik tangan itu lalu memulasnya dengan kuat.

"Aarrghh...!!"

"Eh astaghfirullahalazim, Zen!?"

Ia langsung melepaskan cengkeraman tersebut setelah menyadari bahwa lelaki itu adalah Zen.

"Untung gak sampai keseleo tangan gue, Fik." Celetuk lelaki itu.

"Ya lagian, gue pikir tadi orang jahat!"

Zen mendudukkan tubuhnya di samping Afika sambil menjawab, "cowok secakep gue lo kira penjahat?"

"Dih? Kayak lo gak tau aja zaman sekarang gimana."

Zen tertawa kecil melihat ekspresi kesal di wajah Afika.

"Lo gak ke kampus, kah?"

"Tipsen, bolos gue."

"Lah, kok?"

Zen menyandarkan punggungnya sambil membuka bungkus permen karet dari saku jaket yang dikenakan. "Ya... Nggak pa-pa, cuma mau istirahat sehari."

***

Afkar baru saja menyelesaikan rapatnya dengan beberapa client siang ini, ia masih duduk di kursi yang ada di tengah sembari bersandar.

Merasa ada yang aneh dengan ekspresi pria itu, Reno lalu bertanya, "Ada yang sedang mengganggu pikiran Bapak?"

"Saya curiga dengan Weny."

Weny lagi. Reno benar-benar dibuat kepikiran oleh gadis itu, ia sangat takut Weny berbuat semakin jahat lagi karena terlalu obsessed dengan atasannya, sehingga selalu mencari cara agar bisa menyingkirkan Afika.

"Ada yang ingin saya bicarakan, ayo ikut ke ruangan saya sekarang." Setelah mengucapkan itu, Afkar langsung bangkit dan melangkah ke luar menuju ruangannya.

Reno terdiam sesaat, ia merasa ada yang sedang tidak beres. Bergegas, ia pun langsung saja membawa laptop milik sang atasan dan segera menyusul pria tersebut.

"Ada apa, Pak?"

Afkar yang duduk di kursi kulit berwarna hitam otu menatap tajam ke arah Reno seolah sedang menginterogasi. "Saya sampai bingung ingin memulai dari mana. Yang terpenting sekarang, saya ingin kejujuran dari kamu langsung."

"Kalau boleh tahu... Perihal apa, Pak?"

"Siapa sebenarnya Weny."

Damn!

Ucapan tersebut lantas membuat Reno meneguk ludahnya kasar. Ia terpaku, bahkan langsung mengalihkan tatapannya dari Afkar.

"Yang kita kenal sebagai Weny adalah Karin. Dia tinggal satu atap sama kamu, kan? Bahkan... Kamu juga turut mendukung rencana jahatnya untuk menyingkirkan istri saya."

Bruk!

Reno langsung berlutut di tengah ruangan itu sambil memohon-mohon kepada Afkar.

"Tolong hukum saya saja, Pak. Jangan Karin, hanya dia satu-satunya yang saya miliki di dunia ini."

Afkar masih tak menampakkan ekspresinya, ia kemudian menghela napas panjang lalu kembali bertanya, "Sebegitunya? Saya kasih kamu waktu untuk menjelaskan hal itu, Reno."

"Bahkan... Saya sendiri bingung, kenapa tidak bisa menolak semua keinginan dia, Pak."

"Sejak kecil kemauannya memang selalu dituruti. Jika tidak, ia akan mencari cara agar bisa mendapatkan apapun yang ia mau."

Reno tak berkutik, ia masih saja menunduk dalam dengan perasaan yang teramat bersalah.

"Ini adalah peringatan pertama dan terakhir dari saya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Afika, maka saya juga menuntut pertanggungjawaban dari kamu."

Reno mengangguk perlahan, "Karin sangat berbahaya, saya akui itu. Prinsipnya adalah harus mendapatkan. Bahkan, nyawa manusia sekalipun seperti tak ada harga dimatanya."

"Kalau begitu, saya ingin meminta pengawasan lebih ketat lagi sekarang. Dan saya harap, tak ada lagi pengkhianatan yang kedua dari kamu," Afkar berujar dingin.

"Saya mengerti, Pak."

🌙🌙🌙

Jangan lupa buat ninggalin votement kalian ya manteman^^Jangan jadi silent readers loh 。^‿^。

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa buat ninggalin votement kalian ya manteman^^
Jangan jadi silent readers loh 。^‿^。

Lopyuuuu gais✨
Salam manis, Ara♡

Pasutri Bobrok [ END✔ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang