[SEQUEL AFIKA!!]
"Satu rumah sama lo bikin gue muak aja tau, nggak!!?"
"Ya terus gue harus apa!!?"
"Gue mau pulang ke rumah Umma!!"
"Gak usah ngaco!"
"Ummmaaaaaa!!!"
"HEH!"
***
Seperti itulah kehidupan mereka disetiap harinya.
Di nikahkan karena se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa buat ninggalin votement kalian ya manteman..
Jangan jadi silent readers loh:(
🌙🌙🌙
"SAYA GAK SALAH APA-APA, PAK!!! SEMUA ITU GAK BENER!!!" teriak Karin mengerang kesal, enggan mengakui bahwa ia memang bersalah.
"Diam kamu!!"
Dibalik sel tahanan, gadis berambut pirang itu terus menjerit meminta untuk di bebaskan sesegera mungkin. Ia terlihat stress, tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang, terasa begitu cepat.
Yang padahal, jejak-jejak sudah ia hapus secara permanen, tetapi seorang saksi mata bernama Sean itu yang malah membuatnya menderita seperti ini.
Sesaat kemudian, Afika pun datang bersama dengan Zen. Entah takdir atau apa, Maria juga datang bersama Sean, tak tahu apa tujuan mereka.
Karin menatap bengis cewek bernama Maria itu, ia terlihat seperti menyimpan banyak dendam.
"Ngapain kamu kesini!?" Karin bertanya dengan nada tinggi.
Maria menghembuskan napas panjang dan menjawab, "aku cuma mau tau kabar kamu gimana. Ternyata nggak berubah ya, kalau bukan Bunda yang nyuruh aku kesini.. Aku juga nggak bakalan mau, tapi karena aku inget kamu masih sedarah sama aku, apa salahnya aku masih peduli? Bukannya apa, aku cuma gak mau disama ratain kayak kamu, yang jelas-jelas gak punya hati."
Afika mengernyit bingung, apa hubungan dua perempuan ini?
"Aku gak perlu peduli dari kamu! Ibu kamu itu pelacur!! Gak pantes buat ngasihanin orang kayak aku!"
Maria merasa jenuh dengan perilaku kasar gadis itu, hingga pada akhirnya, ia pun mengajak sang suami untuk pergi dari sana.
Karin kembali menatap Afika bengis, "apa? Mau ngetawain aku? Silakan!! Jangan harap kamu bisa menang dari aku!"
"Huft.. Gue gak ngerti, kenapa lo bisa sekeras kepala ini? Jelas-jelas, gue gak mau bersaing sama lo. Bukan karena takut, cuma lo nya aja yang gak sebanding sama gue."
"Jangan mentang-mentang aku udah ditahan kayak gini, kamu malah seenaknya aja! Kita lihat nanti, aku gak bakal tinggal diam! Aku bakalan balas semuanya, Afika! Aku akan balas semuanya!!!"
Afika menghembuskan napasnya panjang. "Gue harap lo bisa ngambil pelajaran dari apa yang udah terjadi, Rin. Gue udah cukup muak sama sikap lo yang terus-terusan bermuka dua, tapi perlahan bisa membunuh dengan cara yang halus."
"Bagus lah kalau kamu sadar diri. Suatu saat nanti,aku pasti bakalan bisa musnahin kamu! Aku bakalan rebut kembali Pak Afkar dan nyingkirin kamu dari dunia ini! Ingat itu baik-baik, Afika! Ingat!!!!"